LIPI USULKAN REKRUT PENELITI TOP LEVEL

 
 
SETIABUDI - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) peduli terhadap rendahnya jumlah peneliti PNS di Indonesia. Minimnya jumlah peneliti PNS terlihat dari penyebarannya yang tidak merata di seluruh Indonesia.

Apalagi ada PP No 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS. Akibatnya, terjadi pengurangan jumlah peneliti di jenjang madya yang cukup signifikan. Usia pensiun bagi peneliti madya menjadi 60 tahun dari sebelumnya 65 tahun.

Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto menyatakan, ada Perka LIPI No 5 Tahun 2017 yang bertujuan memberikan kesempatan kepada mutiara-mutiara terpendam untuk menjadi peneliti di berbagai lembaga pemerintahan. "Regulasi ini diharapkan mampu menambah jumlah peneliti di Indonesia," katanya ketika diwawancarai kemarin (3/8).

Pengurangan peneliti madya diperkirakan menimpa sekitar 556 orang, sekitar 20 persen dari total peneliti madya. Berdasar karakter kepenelitian, peneliti madya merupakan lapisan SDM yang paling produktif sebelum jenjang peneliti utama. Dia mengungkapkan, pemerintah masih melakukan moratorium penerimaan PNS baru, termasuk peneliti. Moratorium tersebut diberlakukan sejak 2015 Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko menyatakan, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi harus berbuat. "Saat ini, diadakan penyusunan regulasi baru," ungkapnya.

Pengadaan regulasi baru tersebut bertujuan mengindahkan standar dan norma penelitian global serta mereduksi proses administrasi. Regulasi baru diharapkan dapat memotivasi dan meningkatkan gairah para peneliti dalam berbuat.

Handoko menambahkan, aktivitas penelitian di institusi swasta masih lemah. "Harapan mengenai tabungan pengetahuan (knowledge asset) bangsa Indonesia tetap bersandar pada hasil penelitian lembaga dan perguruan tinggi pemerintah " ujarnya. Regulasi baru ditargetkan menjaga kesinambungan penguatan ekonomi berbasis inovasi iptek.

Selain itu, lanjut Handoko, LIPI mengusulkan rekrutmen peneliti baru berkualifikasi tinggi (minimal S-3) dan pemah/sedang berkarya di berbagai belahan dunia. "Inisiasi ini penting untuk mengimbangi pengiriman karya pelajar Indonesia ke luar negeri secara masif, khususnya melalui beasiswa LPDP, sejak 2012," jelasnya. (wib/co5/ydh)

Sumber : Jawa Pos, edisi 04 Agustus 2017. Hal: 26

Sivitas Terkait : Prof.Dr.Ir. Bambang Subiyanto M.Agr.
Diakses : 223    Dibagikan :