Libatkan Peneliti LIPI, Pemasaran sampai Luar Negeri

 
 

Lama tak ada kabar, mantan Kasi Penerangan Hukum (Penkum) bidang Intelijen Kejati Jateng, Eko Suwarni, diam-diam mulai merintis bisnis. Ia memproduksi tempe siap saji dalam kaleng dengan nama brand Umiyakko Java Food. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

TEMPE dalam kemasan daun pisang ataupun plastik sudah biasa. Tapi, tempe yang diproduksi Eko Suwarni ini cukup unik. Ia memproduksi tempe kaleng siap saji dengan nama Umiyakko Java Food. Tempe produksinya itu diklaim menyehatkan dan kaya gizi.

Menurut Eko, sejak dilantik menjadi Kepala Bagian Tata Usaha Kejati Jogjakarta pada Oktober 2015 lalu, ia mulai merintis usaha tempe kaleng siap saji. Bisnis tersebut dijalankan di sela kerja di Korp Adhiyaksa sebagai bekal apabila pensiun kelak.

Wanita asal Cilacap ini mengaku memilih tempe karena merupakan makanan favorit warga Indonesia. Selain harga relatif murah dan rasanya lezat, tempe juga mengandung banyak manfaat. Karena itu, ia berharap besar produk tempenya bisa menjadi makanan yang mendunia.

“Tempe itu bisa diolah untuk lauk pauk hingga menjadi camilan yang lezat.  Jadi, jangan menyepelekan tempe,” kata Eko Suwarni saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kediamannya Krapyak didampingi General Manager (GM) Umiyakko Java Food, Kusuma Winata.

Eko mengaku, bahan baku tempe diambil dari petani kedelai lokal di daerah Wonosari, Gunungkidul. Sedangkan untuk proses pengalengan dilakukan dengan teknologi tinggi yang mendapat pendampingan dari ahli-ahli LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Adapun tempat usahanya saat ini berada di Jalan Raya Magelang-Jogja Km 21, Sucen, Salam, Magelang. Ke depan, pihaknya akan membuka cabang di Semarang.

“Proses penelitiannya tidak singkat, memakan waktu hingga empat tahun untuk menemukan formula yang tepat dalam proses pengalengan tempe ini,” ungkapnya.

Namun demikian, usaha tersebut tidak serta merta dilakukannya begitu saja. Melainkan semua itu dimulainya sejak sepulang menunaikan ibadah haji pada 2015 lalu. Selama perjalanan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah tersebut, ia mendapat berbagai pengalaman penting saat menghadap Allah SWT, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Sehingga momen tersebut sebagai bekal untuk memantapkan usaha pengalengan tempe ini.

“Saya merasakan sendiri waktu di Tanah Suci, para jamaah dari Indonesia kesulitan mencari tempe. Kalaupun ada, harganya sangat mahal, dan tidak sesuai selera mereka. Karena itulah, saya kemudian memiliki ide untuk memproduksinya. Ada dua varian rasa yang kami produksi, original dan tempe bacem,” sebut wanita yang saat ini bertugas sebagai Kepala Kejari Maros, Sulawesi Selatan tersebut.

Eko juga sudah mulai melebarkan jaringan untuk mengenalkan tempe buatannya ke luar negeri, yakni dengan cara bekerja sama dengan agen-agen tour and travel haji dan umrah. Ia juga sudah berencana menggandeng rumah sakit (RS) yang ada di luar negeri dan dalam negeri, dengan harapan tempe buatannya dapat dikolaborasikan dengan makanan internasional lainnya untuk para pasien.

Untuk agenda terdekat, pihaknya sudah berencana membuat kerja sama dengan pengusaha Australia. “Kami ingin mengangkat tempe yang merupakan makanan khas Indonesia ke mata dunia. Insya’ Allah, akhir tahun ini sudah bisa memiliki hak paten,”sebutnya.

Peneliti Pangan dari LIPI, Mukhammad Angwar, menjelaskan, selain tempe, LIPI juga melakukan penelitian makanan yang berbasis umbi-umbian dan sereal. Menurutnya, kandungan protein tempe lebih tinggi dibanding protein dari hewani. Penelitian terbaru pun menyebutkan kandungan gizi tempe ini sama dengan kandungan gizi dari yoghurt, yang terbuat dari susu fermentasi. “Kami melakukan penelitian dengan tujuan menaikkan nilai tambah berupa panganan bergizi, padat kalori, aman, sehat, dan memiliki unsur simpan panjang,” kata Anwar.

Anwar juga menjelaskan, hasil produksi tempe kaleng memiliki fungsi fungsional makanan serta tanpa pengawet. Proses pengalengannya diteliti berdasarkan: pertama, sistem secara fisika seperti pengeringan, sterilasasi dan pengemasan yang rapat sempurna (hermatis). Kedua, secara biologi dengan cara permentasi. “Mengapa memilih tempe? Karena tempe adalah makanan tradisional yang mudah dicerna, bergizi, dan memiliki sifat fungsional. Tempe kaleng ini dapat disimpan selama 14 bulan dengan suhu kamar yang sehat dan aman,”jelas peneliti senior tersebut.

Diakuinya, tidak semua produsen menyadari pentingnya  memiliki tanggungjawab tentang kesehatan makanan. Padahal, lanjut Anwar, produsen pengolahan makanan, seharusnya juga memiliki karakter dalam menyajikan makanan untuk keluarga. Sehingga ketika konsumen dianggap keluarga, maka makanan yang bermutu, sehat, dan bergizi yang selalu disajikan, bukan hanya berbasis profit.

“Untuk tempe kaleng yang diproduksi oleh Umiyakko Java Food dengan brand Umiyakko. Selama proses produksi dari LIPI selalu mendampingi. Kami juga sudah menyusun draft untuk dipatenkan,”ungkapnya. (*/aro)

 


Sumber : radarsemarang.com, 13 September 2017

Sivitas Terkait : Ir. Mukhammad Angwar M.Sc
Diakses : 63    Dibagikan :