Perempuan Perkasa Pengrajin Batik Limbasari Purbalingga

 
 
Banyumas, Gatra.com – Pemberdayaan perempuan menjadi isu penting nasional. Di Purbalingga, Jawa Tengah, ada sentra batik tulis, yakni pembuatan batik secara manual, dimana pengrajin utamanya adalah perempuan.

Sebab itu, Limbasari dipilih menjadi salah satu tempat penelitian pada ajang Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) 17 di Purbalingga. Obyek dari penelitian adalah para pengrajin batik Limbasari yang sudah menjadi ikon Purbalingga.

Instruktur bidang IPS dari LIPI, Kurniawati Hastuti Dewi mengatakan data awal menyebutkan batik Limbasari mampu menyedot banyak tenaga kerja perempan. Ini menjadi hal yang sangat menarik di tengah isu kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan.

“Data awal yang kami terima, banyak pengrajin batik wanita yang ada di Limbasari. Sehingga kami mengangkat topik bagaimana wanita diberdayakan secara ekonomi dan sosial serta bagaimana mereka percaya diri menyampaikan pendapat,” kata Kurniawati kepada GATRA, Rabu (11/7).

Kurniawati menjelaskan, objek penelitian batik Limbasari bakal menjadi ajang latihan bagi para peserta untuk menganalisa serta mengasah kepekaan mengenai permasalahan yang ada di lingkungan. Lantaran hanya memiliki waktu pendek, dia tidak menargetkan peserta memberikan rekomendasi atas permasalahan yang ada di masyarakat.

“Kalau peserta sudah pada tahap bisa menyimpulkan dan solusi itu sudah bagus sekali. Jadi ajang ini bukan bertujuan agar mereka menjadi peneliti expert karena itu belum pada taraf mereka,” ujarnya.

Menurut dia, riset ini juga bertujuan meneliti bagaimana eksistensi batik Limbasari. Misalnya, bagaimana cara pemasarannya sehingga batik Limbasari lebih dikenal. Dalam pengambilan data, motif batik Patrawisa dan Denlilis menjadi primadona dan banyak diburu penggemar batik.

Perangkat Desa Limbasari, Adi Ismanto mengungkapkan, batik sudah menjadi nyawa bagi warga Limbasari. Tiap lembar batik yang dihargai RP 500 ribu mampu menjadi penopang ekonomi warga Limbasari.

Namun, diakuinya sejak motif kelelawar menjadi batik ikon dan diwajibkan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, pengrajin batik di Limbasari sempat kewalahan melayani order.

“Sempat terlambat melayani stok dan diserbu dari Pekalongan. Namun sekarang kami siap melayani berapa pun pesanan yang datang,” ujar Adi.

Dia juga berharap ajang PIRN yang diikuti peserta dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia mampu mengibarkan batik Limbasari hingga level nasional.

“Kami berterima kasih Limbasari dipilih menjadi lokasi penelitian. Semoga batik Limbasari akan lebih dikenal di tingkat nasional,” imbuhnya.


 

Sumber : gatra.com, 12 Juli 2018

Sivitas Terkait : Dr. Kurniawati Hastuti Dewi S.IP, M.A.
Diakses : 69    Dibagikan :