RISET HARUS SEDERHANA DAN FLEKSIBEL

 
 
Kemenristek-Dikti telah Reformulasi Riset 2017, yakni harus memenuhi empat kaidah. Yakni, sederhana (simpel), fleksibel (mudah diakses oleh peneliti yang heterogen dari berbagai hal), inovatif (dapat membuka peluang baru), dan akuntabel (bisa dipertanggungjawabkan). ''Jadi riset harus simpel, fleksibel, inovatif, dan akuntabel. 

Dengan empat kaidah itulah maka, hasil-hasil riset diharapkan mudah dihilirisasi,'' jelas Direktur Sistem Riset dan Pengembangan Iptek pada Ditektorat Penguatan Risbang Kemenristek- Dikti Ira Nurhayati Djarot, dalam Rakor Jaringan Penelitian (Jarlit) Jateng di Hotel Dafam, Selasa (18/4). 

Pada kegiatan yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Jateng, itu Ira menambahkan, ada delapan prioritas unggulan dalam hilirisasi Iptek. Yakni pertanian dan pangan, energi baru terbarukan, kesehatan dan obat-obatan, teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, pertahanan dan keamanan, teknologi material maju (nanotechnology), dan maritim. 

Saat memberikan sambutan pembukaan Rakor Jarlit, Kepala Bappeda Jateng Sujarwanto Dwiatmoko menyatakan, peran hasil penelitian dalam mempengaruhi kebijakan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara optimal. Menurut dia, gabungan para peneliti yang utuh dan sinergis dapat mengarahkan pembangunan akan menghasilkan pembangunan yang terencana. 

Selain itu, melalui pembangunan jejaring penelitian akan tumbuh dan terbangun jiwa riset yang didasari iklim riset dengan pondasi daya nalar yang kuat. Rakor dihadiri kepala Pusbindiklat LIPI, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendagri, Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Jateng, Direktur Inkubator Kreasi dan Inovasi Telematika Semarang (Ikitas), para kepala OPD Provinsi Jawa Tengah, para kepala Bappeda kabupaten/kota, kepala lemlitbang kementerian di daerah, dan para ketua DRD se- Jateng, serta LPPM perguruan tinggi serta perusahaan yang terlibat dalam Jarlit. 

Kesenjangan 

Pada sesi tanya jawab, Prof Daniel Kameo (DRD Jateng) menyatakan, ada kesenjangan komunikasi politik dalam penelitian kita. Tidak ada komunikasi mesra antara pemerintah dan universitas atau lembaga penelitian. 

''Di Jateng ada 200-an perguruan tinggi, tinggal dimanfaatkan akan menghasilkan lebih yang kita butuhkan. Usulkan kepada gubernur untuk mengundang para rektor guna memecahkan masalah kemiskinan, kesehatan, dsb. Jika terjalin komunikasi yang mesra dengan gubernur, tentu akan membuat para rektor pakewuh,'' ujarnya. 

Nur Kukuh, dari DRD Jepara menambahkan, selain ada kesenjangan sebagaimana diungkapkan Prof Kameo, masih ada keragu-raguan terhadap hasil riset yang muncul dari pelaku pembangunan. Pelaku pembangunan saat ini cenderung menutupi masalah yang bertolak belakang dengan periset yang mencari masalah. ''Untuk menghindarinya, tidak perlu mengkotak-kotakkan jabatan seperti saat ini. Banyak kajian DRD Jepara yang tidak ditindaklanjuti oleh daerah. Sebaiknya ada komunikasi baik dilakukan antara periset dan kepala daerah,''katanya. 

Sementara itu, Eny dari Bappeda Jateng mempertanyakan perbedaan penilaian di tingkat LIPI dan daerah. Kepala Pusbindiklat LIPI Prof Dwi Eny Djoko Setyono menjelaskan, saat ini persyaratan menjadi peneliti susah. Maklum, apa yang akan diperoleh cukup menggiurkan. Dengan begitu seleksinya diperketat. Selain itu anggaran penelitian saat ini dikurangi. 

''Jika ada sanksi oleh lembaga bersangkutan biasanya karena masalah etika, seperti plagiasi, LIPI tidak bisa berbuat apa apa. Pada umumnya sidang etika membuat pelakunya mengundurkan diri dari pada disidang etika,''jelasnya. 

Ira Nurhayati membenarkan bahwa dana riset sast ini memang sedikit. Sehingga tantangannya adalah bagaimana mewujudkan hasil riset yang solutif melalui penganggaran yang terbatas. ''Pendanaan riset bisa diusahakan dari pihak lain seperti donor asing, lembaga filantropis, dan sebagainya,'' tadasnya. (D6-41) 


Caption: RAKOR JARUT: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Jateng Sujarwanto Dwiatmoko pada pembukaan Rakor Jaringan Penelitian di Hotel Dafam, Selasa (18/4). (41)

Sumber : Suara Merdeka, edisi 20 April 2017. Hal: 21

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Dwi Eny Djoko Setyono M.Sc.
Diakses : 188    Dibagikan :