Riset Belum Optimal

 
 
Total alokasi dana riset secara nasional pada 2017  mencapai Rp. 24,9 triliun. Namun, dana yang benar digunakan untuk riset hanya Rp. 10,9 triliun, dan sisanya justru untuk kebutuhan lain di luar riset.
 
JAKARTA, KOMPAS  -  jika pemanfaatan dana riset hanya Rp 10,9 triliun dari total anggaran Rp. 24,9 triliun yang dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
 
“Berarti dana riset yang semestinya untuk riset, tetapi untuk kebutuhan lain yang tidak terkait langsung dengan riset, seperti pelatihan dan perjalanan dinas,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, Selasa (16/1), saat meluncurkan Pendanaan Biaya Operasional (BOPTN) di Kemristek dan Dikti, Jakarta.
 
Anggaran riset sebesar Rp 24,9 triliun itu dibagi-bagi di seluruh kementerian dan lembaga. Dari total dana yang secara khusus diperuntukkan untuk riset sebesar Rp 10,9 triliun, Kemristek dan Dikti mengimplementasikan dana ristek Rp 2,41 triliun dan kementerian/lembaga lain sebesar Rp 8,49 triliun.
 
Dari sisi besaran anggaran dana ristek Kemristek dan Dikti memang sangat kecil dibanding kementerian/lembaga lainnya. Namun, jika dilihat dari sisi publikasi jurnal, tingkat pencapaiannya lebih terukur.
 
“Sekarang kinerjanya bisa kita lihat bersama. Kemristek dan Dikti (hanya) mempunyai dana riset Rp 2,41 triliun, tetapi publikasinya bisa mencapai angka 16.30 makalah. Sementara dari dana riset kementerian/lembaga lain sebesar Rp 8,49 triliun hasilnya apa?” tuturnya.
 
Publikasi meningkat
Optimalisasi riset di Indonesia memang perlu terus menerus di genjot. Tahun 2014, publikasi riset Indonesia hanya sekitar 4.200 publikasi, jauh di bawah Thailand yang meluncurkan 9.500 publikasi, Singapura 17.000 publikasi, dan Malaysia 28.000 publikasi
 
“Dalam 20 tahun terakhir, kita tidak pernah di atas Thailand, selalu di bawah Thailand. Cukup berat bagi kita untuk mendongkrak riset karena hasilnya masih jauh dari yang kita harapkan,” ucap Nasir.
 
Tren peningkatan publikasi hasil riset baru melonjak setahun terakhir, Jika pada 2014 jumlah publikasi internasional Indonesia hanya 4.200, pada 2017 jumlahnya melonjak hingga 16.350 publikasi per 31 Desember 2017. Pendataan terbaru pada Selasa (16/1), pukul 08.45, publikasi riset Indonesia telah mencapai 17.283 publikasi.
 
Potensi Indonesia untuk memproduksi hasil-hasil riset sebenarnya sangat besar Faktanya, dari total jumlah dosen diseluruh Indonesia sekitar 267.000 dosen, baru 75.000-an di antaranya yang aktif memublikasikan hasil riset mereka. Begitu juga dari 37.400 guru besar dan lektorkepala di seluruh Indonesia, hanya 17.863 atau separuhnya yang memublikasikan risetnya.
 
Untuk mendukung para peneliti dan dosen dalam menulis publikasi, Kemristek dan Dikti menyiapkan Science and Technology Index (Sinta). Dari platform tersebut, peneliti dan dosen bisa lebih aktif memublikasikan hasil penelitian.
 
Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati menambahkan,Sinta merupakan portal yang berisi hasil pengukuran kinerja iptek yang meliputi kinerja peneliti atau penulis, kinerja jurnal, dan institusi iptek. Sinta yang dikelola Kemristek dan Dikti dan LIPI memiliki fungsi relasi, sitasi, dan pengindeks.
 
Sinta diluncurkan pada 30 Januari 2017 di UGM, Yogyakarta, saat rapat koordinasi nasional Kemristek dan Dikti. “Sekarang yang akses Sinta mencapai 157 juta dari negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat,” ujar Nasir.
 
Dana BOPTN
Dalam rangka mendongkrak hasil riset, pada 2018 ini Kemristek dan Dikti meluncurkan pendanaan BOPTN Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat. Adapun total dana penelitian yang disiapkan Rp 1,291 triliun dengan penelitian mencapai 18.433 judul. Sementara itu, dana Pengabdian kepada Masyarakat yang disiapkan Rp 138,8 miliar dengan hasil 2,201 judul.
 
Dilihat dari jumlah penelitian, judul penelitian pada 2018 ini naik 22 persen dibandingkan pada 2017. Tahun lalu, anggaran riset BOPTN yang disiapkan pemerintah Rp 1,030 triliun dengan 15.124 judul penelitian.
 
Sementara alokasi dana ataupun judul Pengabdian kepada Masyarakat pada 2018 ini turun dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 153,5 miliar dengan 2,288 judul. Penurunan ini terjadi karena terdapat program khusus diseminasi Teknologi Tepat Guna di 70 lokasi untuk mendukung pembangunan pedesaan dengan anggaran Rp 11,5 miliar. Dana BOPTN diberikan kepada 10 perguruan tinggi, yakni Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Sumatera Utara, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Diponegoro.  (ABK/YUN)

Sumber : Kompas, Rabu 17 Januari 2018, Halaman 12

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 96    Dibagikan :