Yenny Menyusun Semesta

 
 
Perempuan peneliti tergolong makhluk langka dengan persentase hanya sekitar 30 persen. Satu di antaranya Dr Yenny Meliana (40). Betah seharian berkutat dengan tabung bejana di laboratorium, ia tak lantas menjadi kaku dan serius. Tawanya renyah dan keramah

Mengantongi belasan hak cipta, Yenny menguasai teknologi nano dan terbiasa bekerja dengan rekayasa pada obyek penelitian berukuran superkecil, yaitu pada kisaran nanometer atau sepersemiliar meter. Skala itu sama dengan diameter rambut manusia yang dibagi menjadi 80.000. Bekerja pada skala nano memungkinkan peneliti merekayasa dan membentuk elemen baru. ”Orang ramai-ramai ke teknologi nano. Teknologi yang menyusun ulang segala sesuatu dalam ukuran nano,” kata Yenny yang juga menjabat Kepala Bidang Pengelolaan dan Diseminasi Hasil Penelitian, Pusat Penelitian Kimia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan risetnya baru saja meraih penghargaan sains teknologi dan matematika dari L’Oreal UNESCO for Women in Science National Fellowship Awards 2016. Di sela-sela penelitian serius, seperti penggunaan teknologi nano untuk obat anti-malaria, obat anti-selulit, hingga pestisida alami, Yenny tak lupa bersenangsenang. Tahu betul tentang bahan kimiawi mana yang berbahaya dan bahan kimiawi yang aman, ia lantas banyak berkreasi menciptakan produk-produk aman dengan teknologi nano bagi keseharian keluarganya. Dengan prinsip bahwa bahan alamiah yang telah dikonsumsi bertahun-tahun oleh nenek moyang cenderung lebih aman, ia antara lain menciptakan sendiri beragam kosmetik, tabir surya, pelembab tubuh, lotion anti-nyamuk, hingga lipstik. ”Yang alami biasanya aman, tetapi orang enggak sabar. Efeknya memang enggak secepat bahan kimia. Pemutih tiga hari sudah putih. Itu apa bahan kimianya? Orang enggak sabar,” katanya. Dari ekstrak tomat, bengkuang, dan delima, misalnya, Yenny mengolahnya menjadi pemutih kulit. Dari hasil uji di laboratorium, efek dari pemutih tersebut baru bisa dirasakan setelah tiga bulan, itu pun tak sedahsyat jika memakai produk pemutih yang banyak dijumpai di pasaran. Ia juga membuat tabir surya dari ekstrak mulberi, tomat, dan manggis. Lipstik pun dibuat dari lilin lebah dengan pewarna umbi bit, buah naga, atau paprika. Selain itu, ia membuat obat anti-penuaan dari ekstrak minyak jamur tempe. ”Tetap harus menggunakan bahan pendispersi dan polimer, tetapi dari bahan yang saya tahu aman. Harus menggunakan teknologi nano supaya wajah enggak cemong-cemong. Kita bikin sendiri daripada memakai pemutih yang menggunakan merkuri,” kata Yenny. Ia juga membuat pupuk dan pestisida untuk berkebun yang aman di rumah. ”Kadang khawatir. Ketika anak pulang dengan jajanan warna merah menyala. Tetapi wajah bahagia. Mainan dan jajanan menjadi salah satu bagian sosialisasi. Kalau dilarang, kasihan secara psikologis. Bisanya hanya mengurangi dan menghindari,” ujarnya.

Obat anti-malaria

Di bidang kimia, dengan memanipulasi pada skala nano, kemampuan reaksi molekul kimia menjadi lebih efisien sehingga mampu menghasilkan bahan kimia yang efektif, bersifat khas, dan tahan lama. Yenny lantas menunjukkan perhiasan perak yang dipakainya. Fungsi perak itu bisa berubah drastis menjadi anti-mikroba yang sangat efektif ketika diolah dalam wujud nanosilver yang transparan. Pekerjaan yang dilakoni peneliti seperti Yenny dalam rekayasa atom-atom yang membentuk molekul tergolong sangat rumit karena manusia cenderung terlalu besar jika dibandingkan dengan atom-atom tersebut. ”Saya kerjaannya hanya sebagai tukang ngaduk-ngaduk,” ujar Yenny, yang memiliki keahlian spesifik di bidang nanoemulsi dan nanodispersi ini sembari merendah. Ditemui di kawasan Puspiptek Serpong, Yenny yang murah senyum mengajak berkeliling ke laboratorium Pusat Penelitian Kimia. Saat ini, ia sedang sibuk menyelesaikan tahap akhir dari rangkaian penelitian yang sudah dimulai sejak 2014 untuk pembuatan nanokristal bahan baku obat anti-malaria dengan kombinasi berbasis artemisinin. Artemisinin merupakan zat aktif yang bisa diambil dari ekstraksi tanaman perdu artemisin yang berasal dari China. Obat artemisinin ini terbukti ampuh sebagai pendamping obat kina yang saat ini sudah mulai berkurang daya ampuhnya. Namun, artemisinin ternyata tidak larut dalam air sehingga sulit diserap tubuh. Dengan teknologi nano, artemisinin diubah menjadi dihidroartemisinin. ”Yang menjadi masalah adalah biaya untuk menurunkan dari artemisinin ke dihidroartemisinin ini mahal banget. Saya sudah punya bayangan teknologinya untuk membuat suatu produk lebih suka air. Jadi, saya lebih percaya diri. Saya bisa bantu di sini,” kata Yenny yang bergabung dalam konsorsium anti-malaria yang terdiri dari Kementerian Kesehatan, LIPI, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, perguruan tinggi, serta industri farmasi. Yenny lantas mengotak-atik artemisinin menggunakan teknologi nanodispersi agar lebih larut air dengan biaya yang lebih murah. Artemisinin diolah menjadi nanopartikel dengan memakai mesin pencampur ultrasonik (ultrasonic homogenizer), pengering beku (freeze drying), dan mesin penggilingan basah (wet milling). Dengan proses dispersi, kristal artemisinin yang sudah berukuran nano diurai agar tak menggumpal. ”Itu doang sih ya pekerjaannya. Karena kita otak-atik harus diuji klinis lagi dan diuji keaktifannya. Sudah ada perusahaan farmasi multinasional yang siap menampung teknologi kita,” katanya.

Jatuh hati

Selain obat anti-malaria, obat anti-selulit yang juga merupakan hasil penelitian Yenny juga sudah mulai uji pasar untuk nantinya bisa dijual bagi masyarakat umum. Selalu menggunakan bahan baku alami, obat anti-selulit ini diracik dari ekstrak pegagan dan jahe yang dibuat dengan proses nanoemulsi. Proses ini efektif agar obat tersebut bisa aktif menjangkau selulit yang terletak di bawah kulit sehingga ampuh mengembalikan elastisitas kulit. Sebuah perusahaan obat rintisan sudah tertarik dengan produk anti-selulit yang diteliti sejak tahun 2012. ”Mereka mau mencoba karena kalau peneliti yang mengerjakan, datanya pasti komplet karena mengerjakan dari ujung ke ujung. Sementara kalau industri, baru terbukti 40 persen saja sudah berani launching. Mau data uji kulit menebal berapa sentimeter ke tikus ataupun uji ke manusia. Saya punya,” katanya. Tumbuh besar di lembah yang dikelilingi pegunungan di pedalaman Bengkulu, Yenny yang menyebut dirinya anak gunung ini memang terbiasa hidup dekat dengan alam. Karena itu, ia selalu mengutamakan bahan baku alamiah dalam setiap penelitiannya. Lulusan S-3 dari National Taiwan University of Science and Technology di bidang teknik kimia ini jatuh hati menjadi peneliti sejak bergabung dengan LIPI pada 2005. Baginya, ilmu kimia sejatinya adalah ilmu yang absurd. Penasaran terhadap manfaat dari rumus-rumus kimia, ia lantas memperdalam ilmu kimia dan mengabdikan diri sebagai peneliti. Dari 100 penelitian, biasanya ada 90 penelitian yang gagal. Dari kegagalan itu, ia justru belajar ilmu baru untuk keberhasilan penelitian selanjutnya. ”Saya takjub sama diri sendiri. Kok bisa betah di laboratorium. Menjadi peneliti juga melatih jadi lebih sabar. Kalau terjadi sesuatu lebih bertanya kenapa terjadi begini. Pasti ada sebab akibatnya. Lebih menahan diri, enggak gampang ekspresif,” kata Yenny yang tak lelah menyusun ulang semesta lewat teknologi nano.

Sumber : Kompas, edisi 16 April 2017. Hal: 17

Sivitas Terkait : Dr. Yenny Meliana M.Si.
Diakses : 168    Dibagikan :