Anjloknya Rupiah Tarik Minat 70 Ribu Wisman

 
 
Sektor pariwisata dapat menjadi alternatif sumber pendapatan nasional di tengah depresiasi nilai tukar rupiah. Pasalnya, mata uang Garuda yang anjlok justru mendorong lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) masuk ke Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Panky Try Febiansyah mengungkapkan angka elastisitas perubahan nilai tukar terhadap kunjungan wisman mencapai 0,7059 jika dihitung berdasarkan rasionalitas dan pelaku individu (wisman). Artinya, setiap depresiasi rupiah sebesar Rp100 per USD mampu menambah sedikitnya 70 ribu wisman.

"Jadi ketika ada depresiasi nilai tukar Rp100 per USD, ada penambahan sekitar 70 ribu wisman, tinggal kalikan saja asumsinya," katanya saat ditemui di Gedung Widya Graha LIPI, Jakarta, Rabu, 17 Oktober 2018.

Banyaknya turis asing yang masuk secara tidak langsung menambah devisa negara dengan relatif cepat dan bernilai besar. Dari segi rasionalitas wisman, mereka lebih tertarik ke Indonesia lantaran bisa memperoleh fasilitas yang lebih baik dari pelemahan nilai tukar.


"At least mata uang mereka akan masuk ke kita. Kalau rasionalitas mereka enak datang ke Indonesia, alamnya bagus, budayanya bagus ditambah fasilitasnya lebih bagus sehingga mereka tertarik," tuturnya.

Ia menambahkan sektor pariwisata mampu memberikan nilai tambah berkualitas dan dampak pengganda yang besar dengan mengarah pada penguatan permintaan domestik baik sektoral maupun rumah tangga.

"Artinya pemanfaatannya bisa langsung dinikmati masyarakat dan memperlancar proses bisnis dari usaha-usaha terkait," pungkas dia.

Adapun akselerasi sektor pariwisata periode 2012 sampai 2017 berada di angka 1,22 dengan laju tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan sektor lainnya. Berdasarkan data World Travel dan Tourism Council (WTTC), sektor pariwisata telah menyumbang 313 juta lapangan kerja dan 10,4 persen pemasukan pada Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
 


Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 139    Dibagikan :