Anomali El Nino Picu Pemutihan Terumbu Karang

 
 

Jakarta - Fenomena cuaca El Nino dipastikan menjadi penyebab pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendata sejak tahun 1983 hingga 2016 telah terjadi lima kali pemutihan karang.

Saat El Nino terjadi, suhu permukaan laut naik dan terumbu karang yang mengalami pemutihan lambat laun akan mati. Padahal terumbu karang efektif menyerap karbondioksida dan rumah bagi biota laut.

Peneliti senior Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Suharsono mengatakan, pemutihan terumbu karang merupakan fenomena alam yang diyakini dipacu oleh perubahan iklim dengan meningkatnya suhu air laut.

"Karena laut kita relatif stabil suhunya 28-29 °C, saat El Nino suhu naik. Saat naiknya suhu 2-3 °C sangat kuat membuat terumbu karang stres," katanya di sela-sela Penyampaian Status Terumbu Karang dan Padang Lamun Indonesia Tahun 2017, di Jakarta, Rabu (7/5).

Bahkan tambahnya, saat suhu turun di bawah 26 °C pun coral bleaching bisa terjadi. Hal ini biasanya disebabkan oleh Indian Depole Mode.

Suharsono menyebut, sejak tahun 1983 hingga 2016 telah terjadi lima kali coral bleaching di Indonesia. Peristiwa itu terjadi tahun 1983, 1987, 1997, 2010 dan 2016.

"Namun frekuensinya kejadiannya mulai rapat dan agak cepat. Dikhawatirkan belum sempat karang pulih sudah terjadi pemutihan lagi," ucapnya.

Meski fenomena alam ini sulit dicegah, Suharsono mengungkapkan di Thailand dan negara-negara Karibia, saat mengetahui terjadi coral bleaching di wilayahnya langsung menghentikan aktivitas wisata dan perikanan. Hal ini dimaksudkan agar menghalau percepatan sebaran penyakit karang.

Pusat Penelitian Oseanografi LIPI pun menyebut bahwa kondisi terkini terumbu karang Indonesia hanya 23,40 persen yang berkategori baik. Sisanya 35,06 persen kategori cukup dan 35,15 persen buruk atau jelek.

Dari pemetaan citra satelit luas terumbu karang Indonesia mencapai 25.000 km persegi atau sekitar 10 persen dari total terumbu karang dunia dengan luas 284.300 km persegi. Indonesia pun menyumbang sekitar 34 persen dari luas terumbu karang di wilayah segitiga karang dunia dengan luas 73.000 km persegi.

"Menjadi pusat segitiga karang dunia, Indonesia memiliki kekayaan jenis karang paling tinggi yaitu 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia," papar Suharsono.


Sumber : beritasatu.com. 7 Juni 2017

Sivitas Terkait : Prof.Dr. Suharsono
Diakses : 878    Dibagikan :