Bunga Bangkai dalam Tiga Fase

 
 

Kebun Raya Bogor saat ini mengalami kejadian langka. Flora langka koleksi yang dikenal sebagai bunga bangkai Amorphophallus titanum sedang tumbuh dengan tiga fase sekaligus, yakni fase bunga, biji, dan daun, dalam tiga individu berbeda. Biasanya, hanya ditemui satu fase, tidak berbarengan.

Keistimewaan lain terletak pada amorphophallus fase buah atau biji. Ini pertama kali di Indonesia sebagai hasil penyerbukan buatan, bukan alam, kata Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mustaid Siregar, Jumat (6/7), di Bogor.

Tim peneliti dipimpin Dian Latifah. Bulan Desember 2010, tim ini mengambil serbuk sari dari bunga bangkai yang sedang mekar.

Serbuk sari itu lalu disimpan. Dua bulan berikutnya, satu bunga bangkai lagi mekar. Tim peneliti bergegas menyilangkan serbuk sari tersebut. Sukses tumbuh menjadi buah.

Hasil penyerbukannya sempat terserang jamur. Namun, berhasil tumbuh hingga sekarang menjadi biji, kata Mustaid.

Akibat serangan jamur, kini tangkai biji bunga bangkai itu terlihat melengkung. Pada kondisi normal, tangkai bijinya lurus dipenuhi biji-biji yang berwarna merah.

Pada saat biji mulai tumbuh sempurna, tangkai biji biasanya melengkung menanggung beban. Prestasi penyerbukan buatan itu kini melengkapi fase pertumbuhan Amorphophallustitanum di Kebun Raya Bogor.

Pengetahuan publik

Kelengkapan fase pertumbuhan Amorphophallus titanum berupa bunga, biji, dan daun, menurut Mustaid, menunjang pengetahuan publik. Hingga saat ini, sering terjadi salah pengertian dengan istilah bunga bangkai, yang juga disebut bunga terbesar di dunia.

Publik sering menganggap bunga bangkai itu bunga Rafflesia, kata Mustaid.

Bunga bangkai Amorphophallus titanum juga ditanam untuk keperluan riset di Kebun Raya Cibodas. Kebun raya yang juga dikelola LIPI ini pernah menghasilkan bunga bangkai tertinggi, yakni 3,17 meter, tahun 2004.

Mustaid menjelaskan, bunga bangkai sebenarnya bukanlah bunga tunggal. Namun, sekelompok bunga kecil yang tersusun dalam bentuk bulir menempel pada tongkol bunga berbentuk lingga atau pallus. Mekarnya bunga ini berkisar satu minggu.

Pallus tumbuh menjulang dikelilingi perhiasan bunga atau spatha berukuran besar. Bunganya berumah satu, tetapi bunga jantan dan betina tidak masak dalam waktu bersamaan.

Bunga betina akan masak lebih awal, yang diikuti masaknya bunga jantan. Keadaan ini menjadikan bunga bangkai sulit menyerbuk sendiri. Pada populasi banyak, bunga ini dapat disilangkan dengan bantuan serangga penyerbuk atau manusia.

Ketika penyerbukan bunga bangkai tak terjadi, bunga itu akan layu seperti mati. Bunga dan tangkainya membusuk seperti tak membekas. Bunga bangkai itu tidak mati, tetapi memasuki masa istirahat atau dorman. Berikutnya bisa tumbuh menjadi fase daun sebagai fase vegetatif, kata Mustaid.

Masa istirahat tak diketahui persis. Sangat bergantung pada kesuburan dan lingkungannya.

Pada saat terjadi penyerbukan bunga bangkai, tumbuhlah menjadi buah atau biji. Biji ini akan efektif untuk pengembangbiakkannya dalam jumlah banyak. Pengembangbiakkan bunga bangkai dibutuhkan seiring kelangkaan jenis tanaman ini.

Pemeliharaan intensif

Dian Latifah bersama anggota tim peneliti lainnya, sejak tahun 2011 menerapkan pemeliharaan intensif terhadap Amorphophallus titanum. Sejak itu beberapa kali berbunga dalam waktu yang berdekatan.

Amorphophallus titanum dengan nomor koleksi VI.C.485 tumbuh mekar pada 1 Desember 2011. Disusul koleksi VI.C.484 pada 2 Februari 2012. Yang terakhir ini bernomor koleksi VI.C.328, diperkirakan mekar pada 6 Juli 2012 atau 7 Juli 2012.

Pemeliharaan intensif menggunakan teknik kultivasi yang mencakup penggemburan tanah, aerasi umbi, sanitasi, pencegahan hama penyakit, dan pemupukan. Sementara penyerbukan buatan dilakukan ketika koleksi ini berbunga sempurna pada malam hari.

Bunga bangkai yang sekarang mekar mulai tumbuh kuncupnya pada 7 Mei 2012 dengan ketinggian 173 sentimeter. Asal koleksi bunga ini dari Jambi, dari kolektor Roemantyo. Ditanam di Kebun Raya Bogor pada 9 November 1992.

Koleksi ini sudah beberapa kali berbunga, tahun 2001, 2005, 2008, dan 2012. Bunga ini rencananya akan diserbuk menggunakan serbuk sari atau polen yang berasal dari koleksi VI C. 484 yang berasal dari Lahat, Sumatera Selatan. Polen diambil dari bunga yang mekar pada 2 Februari 2012 lalu, kata Mustaid.

Ancaman dan pelestarian

Bunga yang juga dikenal sebagai Titan arum ini semula sebagai populasi liar di hutan- hutan Sumatera. Laju deforestasi yang terjadi beberapa tahun terakhir menjadi ancaman terbesar. Indonesia telah kehilangan 72 persen tutupan hutan aslinya, kata Mustaid.

Amorphophallus titanum di hutan alam juga banyak mendapat gangguan dan pengambilan secara ilegal. Dalam wujud batang yang belang-belang menyerupai ular, jenis pohon ini banyak ditebangi masyarakat. Penyelamatan bunga bangkai dinilai diperlukan. Riset pengembangbiakkannya pun menjadi sangat penting.

Koleksi Amorphophallus titanum di Kebun Raya Bogor saat ini ada lima spesimen. Tiga spesimen sudah berhasil berbunga. Setiap kali berbunga, dilakukan penyerbukan buatan. Setelah 1 bulan penyerbukan, terbentuk buah. Pembentukan buah ini menjadi tonggak sejarah di Kebun Raya Bogor khususnya, dan di Indonesia secara umum. Ini buah yang pertama kali dilakukan secara buatan di luar habitat alaminya.

Buahnya berbentuk bulat lonjong, warna oranye cerah ketika muda dan menjadi merah saat masak. Pada kondisi normal, biji yang dihasilkan sekitar 200 buah dengan panjang 4,7 sentimeter dengan diameter 3 sentimeter. Dari kegiatan riset seperti ini, Indonesia dan dunia ilmu pengetahuan bisa berharap bunga bangkai tidak akan punah.
Sumber : Kompas, 7 Juli 2012

Sivitas Terkait : Mustaid Siregar

Diakses : 2781    Dibagikan : 0