Diminta Presiden, LIPI Bakal Ciptakan Alat Cegah Tsunami

 
 

INDOPOS.CO.ID - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bakal menciptakan alat pencegahan bencana tsunami. Alhasil, saat ini tengah melakukan riset mengembangkan teknologi tersebut. Hal itu atas permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Presiden sudah meminta revitalisasi sistem peringatan dini tsunami, namun kita harus melihat ada daerah-daerah seperti Lombok yang jarak dari sumber tsunami ke daratannya pendek sehingga waktu untuk menyelamatkan diri pun menjadi lebih pendek," kata Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto dalam keterangan tertulis, Senin (31/12/2018).

Eko kemudian menyampaikan pentingnya dibuat garis batas di pantai untuk hunian hingga penginapan dan tempat lainnya yang dibangun. Pemerintah diminta tegas dalam menerapkan aturan tata ruang pantai.

"Idealnya ada garis sempadan sejauh 300 meter dari bibir pantai untuk perlindungan jika ada gelombang tinggi," kata Eko.

Dari aspek teknologi, LIPI mengembangkan penggunaan laser tsunami sensor. Teknologi ini sebagai alternatif dari buoy.

"Prinsip kerjanya adalah mengirim cahaya dari darat itu ditembakkan ke dasar laut, lalu ada sensor di dalamnya yang akan kembali menembakkan cahaya tersebut ke pos pantau," kata peneliti bidang instrumentasi kebencanaan Pusat Penelitian Fisika LIPI Bambang Widiyatmoko.

Sensor yang memanfaatkan laser itu ditempatkan dalam kabel fiber optik dasar laut. Kabel itu tersambung dengan pos pantau yang memancarkan sinar laser dari ujung satu ke lainnya.

"Ketika terjadi pergerakan air laut yang tidak biasa atau ada tekanan yang berubah, sensor deteksi akan membelokkan cahaya yang akan menjadi tanda peringatan bahaya tsunami ke pos pemantau," kata Bambang.

Tsunami yang terjadi di Selat Sunda beberapa waktu lalu disebabkan oleh longsor Gunung Anak Krakatau. LIPI juga mengembangkan teknologi guna memantau bencana longsor yang bernama LIPI Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (Wiseland). 

"Teknologi ini dapat digunakan untuk memantau bahaya gerakan tanah dalam maupun dangkal, baik pada lereng alami, potongan, maupun timbunan," ujar peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari.

LIPI akan menyampaikan kajian mengenai riset mitigasi bencana pekan ini. Selain dari aspek geoteknologi, aspek sosial juga masuk kajian LIPI yang akan disampaikan oleh Plt Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Yogaswara. (aen)


Sumber : indopos.co.id

Sivitas Terkait : Dr. Adrin Tohari
Diakses : 62    Dibagikan :