Hellen Si Peneliti Buaya

 
 
Jakarta,Gatra.com- Dalam rangka memperingati perjuangan Raden Adjeng (RA) Kartini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengadakan diskusi publik dengan tema "Wanita Tangguh dalam Iptek Bangsa". 

Salah satu pembicaranya adalah peneliti herpertologist dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hellen Kurniati. Kendati sebagai seorang wanita, Hellen tak tanggung-tanggung. Dia menekuni bidang terkait hewan buas buaya dan suara kodok.

Dalam kesehariannya, wanita yang sudah bergabung dengan LIPI sejak 1988 ini mempelajari pola prilaku buaya secara detil. Tidak hanya itu, dia juga tekun dalam penelitian tentang pola perilaku kodok dan juga suaranya untuk kepentingan konservasi.

Dalam diskusi tersebut, Hellen berupaya meluruskan mengenai konflik buaya dengan manusia yang kerap terjadi di beberapa wilayah di Indonesia seperti Kalimantan, Papua, Papua Barat dan NTT. Di Indonesia sendiri, kata Hellen dikenal 4 jenis buaya yakni Tomistoma Sclegelli dengan wilayah penyebaran Sumatera dan Kalimantan selanjutnya Crocodylus Siamensis yang tersebar di Kalimanta  khususnya Sungai Mahakam. 

Yang ketiga adalah Crocodylus Novaegyuneae dengan wilayah sebaran Papua dan Papua Barat dan Crocodylus Porosus yang populasinya ada di seluruh Indonesia. Crocodylus Porosus ini juga dikenal dengan nama buaya muara. Menurut Hellen jenis inilah yang banyak membuat permasalahan dengan manusia. 

"Buaya muara ini adaptasi terhadap lingkungannya sangat tinggi. Mereka dapat hidup mulai dari muara sungai yang berair asin sampai ke hulu sungai yang berair tawar. Jadi daerah jelajahnya sangat luas," kata Hellen di kantor LIPI, Jakarta Pusat, Jumat (20/4).

Kasus konflik antara buaya dengan manusia banyak terjadi di Pulau Timor, NTT. Buaya muara tersebut ditemukan di laut. Dia juga bisa hidup di hutan bakau dan di daerah lepas pantai. 

"Untuk kasus di Pulau Timor kan buayanya di laut mungkin makannya kurang sehingga dia menyerang orang yang tengah memancing, orang yang cari udang atau yang sedang panen rumput laut. Di NTT ini angka yang paling besar manusia diserang buaya," katanya.

Setiap buaya muara dewasa, kata Hellen baik jantan maupun betina yang hidup di alam tentunya mempunyai daerah teritorial kekuasaanya. Daerah itu menjadi tempat mencari makan, berjemur diri, kawin dan membuat sarang untuk bertelur.

Pada kelompok jantan dewasa terdapar individu jantan dominan. Umumnya jantan dominan ini ditakuti oleh individu jantan lain yang tidak dominan sehingga daerah teritorialnya lebih luas dibandingkan individu jantan yang tidak dominan. 

Oleh karena itu, individu jantan tidak dominan ini lebih banyak berjelajah ke daerah yang lebih jauh gun menghindari perselisihan dengan jantan dominan. "Jadi kebanyakan buaya yang mendekati kampung adalah jantan yang tidak dominan ini," katanya.

Kondisi lain yang membuat buaya menjelajah ke daerah yang lebih luas adalah berkurangnya makanan di daerah teritorialnya seperti ikan dan mamalia kecil. "Di alam manusia kan bersaing dengan buaya untuk mendapatkan ikan. Karena berkurangnya pakan buaya itu maka buaya lebih jauh jalannya mendekati kampung yang banyak manusia dan di sanalah mereka mencari makan," katanya.

Hellen mengimbau bagi daerah yang memiliki konflik antara buaya dengan manusia agar memasang papan peringatan bagi pengunjung di wilayah jelajah buaya muara. Ketika mengunjungi tempat liburan, berkemag, dermaga tempat perahu atau pun tempat pencari ikan ada baiknya menanyakan kepada masyarakat sekitar tentang keamanan mendayung, berenang, memancing atau berperahu di daerah tersebut. "Jangan malu bertanya. Malu bertanya nanti anda diterkam buaya," katanya.

Hellen sendiri tidak pernah akan menyangka akan ditempatkan di labor herper dan mengurusi penelitian akan buaya. Saat itu, labor herper tengah kekurangan orang yang menangani soal buaya. "Akhirnya saya pindah. Karena saya ikatan dinas ya saya ditarok di sana. Mau gak mau saya kerjakan," katanya.

Kunci utama keberhasilan Hellen dalam bekerja adalah keberanian. Apalagi, saat ini pemerintah juga sangat perhatian dengan peneliti. "Pemerintah sekarang sudah perhatian dengan income peneliti. Motivasinya kita harus kerja keras karena setiap tahunnya ada kontrak target yang harus dicapai," katanya.


Sumber : gatra.com, 20 April 2018

Sivitas Terkait : Dra. Hellen Kurniati
Diakses : 57    Dibagikan :