INSINERATOR RAMAH LINGKUNGAN DARI LIPI

 
 
Teknologi pembakaran sampah dengan saringan plasma ini dinilai mampu mengatasi masalah sampah yang menimbulkan konflik antara DKI Jakarta dan daerah sekitarnya.

Ursula Florene. ursula.florene@tempo.co.id

Volume sampah yang terus meningkat membuat DKI Jakarta terbelit masalah pengelolaan sumpah yang dikirim kv tempat pembuangan sampah Bantargebang di Bekasi. Sampah yang dikirim lbu kota melebihi angka yang disepakati dalam kontrak. Sampah produksi masyarakat Jakarta yang dikirim ke Bantargebang bahkan mencapai 7.000 ton, padahal yang disepakati hanya 3.000 ton.

Untuk mengatasi volume sampah yang terus bertambah setiap tahun, peneliti dari LIPI, Anto Tri Sugiarto, menawarkan insenerator plasma yang diklaim ramah lingkungan. Teknologi pembakaran sampah ini dia kembangkan setelah bepuluh tahun melakukan penelitian di Jepang.

"Sampahnya bisa dibakar dengan insinerator plasma. Di cerobongnya dipasang saringan plasma untuk menghilangkan zat polutan, "kata peneliti Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Instrumental LIPI itu di Jakarta, pekan lalu.

Insinerator yang dipasangi terminal plasma sudah digunakan Jepang sejak 1900. Negeri Sakura sempat menghadapi masalah polusi akibat asap pembakaran sampah.

Filter plasma digunakan karena material itu memang sudah dikenal mampu menyaring debu dari udara. Para peneliti Jepang selanjutnya menambahkan elektrifikasi untuk mengeleminasi zat polutan pembakaran asap. Kini, pengunaannya sudah meluas ke Korea Selatan dan Singapura.

Tumbukan elektron pada plasma dapat mengionisasi gas beracun hingga terurai dan aman dilepas. Gas berbahaya yang mampu diurai unit plasma ini adalah dioksin, Furan, NOx, dan SOx. Dioksin akan tersaring 99 persen, sementara NOx dan SO dapal ditekan 80 persen. Uji coba Insineratorr LIPI telah dilakukan di Kepulauan Seribu. Hasil baku mutu gas menunjukkan, dari 250 ppm (bagian per juta) SOx, setelah disaring plasma, hanya menjadi 30 ppm.

Teknologi plasma ini dapat memaksimalkan kinerja insinerator, dan meminimalkan dampak pencemaran alamnya. Pembakaran bukanlah hal baru dalam pengelolaan sampah. Dari tempat penampungan, sampah akan dipilah menjadi yang dapat dimanfaatkan kembali, dan yang tidak. Sampah yang tak dapat digunakan inilah yang berakhir di tungku pembakaran.

Untuk menggunakan insinerator plasma, pemerintah daerah dapat membangun insenerator baru, atau cukup memasang terminal plasma di insenerator yang sudah ada. Biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 500 juta untuk insinerator kecil hingga puluhan miliar untuk Insinerator besar. Pemda juga harus menyiapkan lahan dengan luas 1-10 hektare untuk insinerator ini.

Biaya tersebut tak seberapa bilu dibandingkan dengan keuntungan yang dihasilkan. Peneliti metalurgi dun material LIPI, Rahardjo Binudi, mengatakan sampah yang dibakar 10 persennya akan menjadi abu. sisanya dapat menjadi sumber energi "Sebanyak 800 ton sudah bisa menghasilkan 20 megawatt (MW), "kata dia.

Bila setiap hari penduduk Jakarta memproduksi hingga 8.000 ton sampah, energi listrik yang dihasilkan bisa mencapai 200 MW. Selain untuk pembangkit listrik kota, energi itu bisa dijual ke PLN. Keuntungan lain, pemda DKI pun tak perlu lagi menyewa lahan berhektare-hektare hanya untuk menumpuk sampah. Sampah yang datang dapat dipilah dan langsung dibakar, tok lagi menggunung.

Binudi memperkirakan setiap kota membutuhkan minimal dua insinerator plasma berskala besar. Sekali membakar, kapasitasnya di atas 3 ton per hari, dengan suhu minimal 800 derajat Celsius. Selain membakar, insinerator besar mampu menghasilkan energi sendiri. Penggunaannya dinilai lebih efektif ketimbang insinerator kecil, yang rentan polusi.

"Pembakaran dengan suhu di bawah 800 derajat Celsius justru memperbanyak zat polutan. Makanya kami tak menyarankan insinerator kecil, " kata dia. Energi yang digunakan juga lebih boros. Sebab, untuk mencapai suhu ideal, insinerator kecil masih butuh suntikan energi dan solar Insinerator besar tak lagi membutuhkan tambahan solar karena sudah bisa menghasilkan energi sendiri.

Lokasi pembangunan ideal insinerator ini adalah di dekat pantai. Selain tak mengganggu penduduk, abu yang dihasilkan dan pembakaran dapat dimanfaatkan untuk perluasan tahun. Dengan demikian, pemdatak perlu lagi sibuk membeli lahan penduduk karena bisa membuat sendiri.

Meski menguntungkan, pemda DKI belum menunjukkan sambutan positif terhadap insinerator ini. Binudi mengatakan ini bukan pertama kali LIPI menawarkan ide ini ke Dinas Kebersihan DKI Jakarta. "Tapi sambutannya kurang. Mungkin saat itu belum menjadi prioritas, " kata dia.

Momen kekisruhan sampah ini diharapkan bisa merevolusi aturan pengelolaan sampah di Jakarta. Teknologi semata tak dapat menjadi jalan keluar yang efektif. Peraturan mengenai pengelolaan sampah juga harus dibenahi. Pemerintah perlu memberikan penyuluhan, dari pengurus hingga masyarakat, untuk aktif memilah sampah. Dengan demikian, pengelolaan bisa lebih mudah kaivna sampah sudah terbagi sesuai dengan kategori.

"Juga harus meningkatkan persentase daur ulang. Negara yang pengelolaan sampahnya baik, hanya 30 persen yang dibakar, " kala dia. Bagaimanapun juga, teknologi plasma tak bisa, sepenuhnya menghilangkan zat polusi dari asap pembakaran.


Sumber : Koran Tempo, edisi 26 November 2015. Hal: 12

Sivitas Terkait : Anto Tri Sugiarto

Diakses : 2334    Dibagikan : 0