Izin Penelitian Asing Meningkat

 
 
Indonesia menjadi magnet peneliti asing. Data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menunjukkan tren peningkatan izin riset peneliti asing. Negeri ini digadang-gadang masih menjadi laboratorium raksasa biodiversitas (keanekaragaman hayati) dan sosial budaya (sosbud).

Berdasar data Kemenristekdikti, jumlah izin riset dari peneliti asing pada 2005 sebanyak 208 judul. Sedangkan pada 2013 dan 2014, masing-masing ada 546 dan 512 judul. Sedangkan rekapitulasi perizinan serupa pada periode 2015, ada 537 judul. Dalam 2005-2015, jumlah perizinan riset dan peneliti asing yang paling besar ada di periode 2010 dengan jumlah 547 judul.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Nur Tri Aries mengatakan, Indonesia di kalangan peneliti asing menjadi laboratorium raksasa bidang keilmuan biodiversitas dan sosbud. "Beberapa kali peneliti dari Jerman dan Prancis bekerja sama dengan tim di LIPI, " katanya kemarin (19/2).

Nur mengatakan, LIPI cukup selektif untuk membuka akses kerja sama dengan periset asing. Salah satu kriterianya adalah tema penelitian harus juga bermanfaat bagi bangsa Indonesia. "Tidak bisa penelitian itu 100 persen untuk kepentingan negara asal peneliti, " jelasnya.

Dia menjelaskan, setelah masuk komunitas G-20, Indonesia memiliki nilai tawar lebih di mata peneliti asing. Indonesia kini tidak sebatas menjadi pihak yang menerima uang hibah riset dari asing. Tetapi, juga memberikan kontribusi terhadap riset-riset kolaborasi itu. Dengan sistem tersebut, Nur mengatakan, peneliti Indonesia tidak lagi bisa disetir peneliti asing.

Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemenristekdikti Muhammad Dimyati mengatakan, tren kenaikan izin peneliti asing di Indonesia mulai terbaca pada 2005.

"Tentu dalam perjalanannya ada fluktuasi, " katanya di Jakarta kemarin.


Sumber : Jawa Pos, edisi 20 Februari 2016. Hal: 3

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas

Diakses : 2369    Dibagikan : 0