Kebun Raya Maluku pertama akan dibangun di Seram Bagian Timur

 
 
Ambon (ANTARA News) - Kebun raya pertama di Maluku seluas 50 hektare akan dibangun di Hunimua, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), dengan melibatkan Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya Bogor-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam (PPLD) LIPI Augy Syahailatua di Ambon, Selasa, membenarkan adanya pembicaraan mengenai pembangunan kebun raya di Kabupaten SBT.

"Sudah ada pembicaraan tahap pertama soal itu, selanjutnya tinggal pertemuan tatap muka antara kepala LIPI dengan bupati setempat, sekaligus untuk proses legalitasnya," ucap Augy.

Pemerintah Kabupaten SBT, kata dia, telah menyediakan 50 hektare tanah untuk dijadikan sebagai kebun raya. Proses pembangunannya akan dikerjakan oleh PKT Kebun Raya Bogor-LIPI dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding - MoU) pembangunan kebun raya antara LIPI dan Pemerintah Kabupaten SBT akan dilangsungkan pada April 2018.

Dalam kesempatan itu, pimpinan LIPI juga dijadwalkan akan berkunjung ke Kabupaten SBT, dan stasiun pengamatan LIPI yang tersebar di sejumlah daerah di Provinsi Maluku.

"Pemerintah setempat hanya perlu menyediakan lahan, sedangkan pengerjaannya dilakukan oleh LIPI dan Kementerian PUPR. April nanti, setelah kepala LIPI defenitif dilantik," ujarnya.

Tak kurang dari 50 hektare, kebun raya di Kabupaten SBT, kata Augy lagi, menjadi kebun raya pertama yang di bangun di Maluku. Tak hanya tumbuhan, kebun tersebut juga akan dipenuhi oleh beragam satwa.

"Menjadi kebun raya pertama di Maluku. Untuk penamaannya terserah pemerintah setempat. Saya kira lahannya cukup luas, selain tanaman, satwa juga bisa ditaruh di sana," katanya.

Kabupaten SBT dalam beberapa waktu terakhir telah menjadi perhatian LIPI. Selain pembangunan kebun raya, sebelumnya PPLD-LIPI pada November 2017 melakukan riset di perairan Pulau Keffing dan Pulau Geser, Kecamatan Seram Timur.

Sejumlah keanekaragaman dan kekayaan sumber daya hayati kelautan dan perikanan di sana berhasil didata, termasuk titik selam baru yang berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata. 

Editor: Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2018

Sumber : antaranews.com, 20 Februari 2018

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Augy Syahailatua M.Sc.
Diakses : 159    Dibagikan :