LIPI Rakit Perangkat Deteksi Dini Tanah Longsor

 
 
JAKARTA – Tanah longsor menjadi bencana alam paling banyak memakan korban. Sejak Januari sampai 7 Februari, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPT) mencatat ada 19 korban meninggal akibat bencana ini. Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) berharap hasil penelitian mereka yakni perangkat deteksi dini tanah longsor bisa diproduksi massal.


Peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI Suryadi mengatakan ada dua riset yang terkait tanah longsor adalah LIPI Wiseland dan The Greatest. Secara khusus dia memaparkan riset LIPI Wiseland sebagai perangkat deteksi dini tanah longsor. Keunggulannya perangkat ini menerapkan sistem nirkabel sehingga bisa dipasang dititik rawan longsor di manapun.


Dalam paparannya di kantor LIPI kemarin (13/2) Suryadi menjelaskan perangkat deteksi tanah longsor Wiseland terdiri dari beberapa perangkat. Yakni ekstensometer sebagai sensor untuk mendeteksi jika ada pergeseran atau rekahan tahan. Alat ini dilengkapi kawat baja. Jadi ketika ada pergeseran tanah kawat tersebut akan terulur dan kemudian mengirim laporan ke gateway.

 
Ketika ada pergeseran tanah kemudian kawat baja tertarik 10 cm, sudah ada warning untuk evakuasi warga. Namun sebelum diputuskan evakuasi, harus dicek apakah tarikan kawat baja itu karena pergeseran tanah atau bukan. ’’Sebab bisa karena tertimpa pohon roboh atau ada binatang yang lewat kemudian tersangkut kawat tersebut,’’ tuturnya.


Sensor berikutnya adalah untuk mendeteksi kemiringan tanah (Tiltmeter). Lebih lanjut Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari mengatakan ambang batas kemiringan tanah adalah 15 derajat. Jadi ketika sensor menunjukkan terjadi kemiringan tanah 15 derajat, langsung mengirim pesan di gateway supaya dilakukan evakuasi warga.


Adrin mengatakan sensor ketiga adalah mengukur kejenuhan air di dalam tanah (modul sensor). Semakin jenuh kandungan air di dalam tanah, maka berpotensi memicu longsor. Dalam kondisi kejenuhan tertentu, sensor ini mengirim tanda bahaya.


Suryadi menuturkan saat ini riset LIPI Wiseland sudah semakin mutakhir. Dia mengatakan yang sudah siap diproduksi masal saat ini adalah LIPI Wiseland generasi ketiga. Dia mengungkapkan sudah ada pihak swasta yang mengajukan tertarik untuk kerjasama memproduksi masal. Suryadi mengatakan prototipe perangkat deteksi tanah longsor generasi tiga sudah diujicoba di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara.


’’Yakni di lokasi yang pernah terjadi longsor beberapa tahun lalu. Untuk jaga-jaga jika ada longsor berikutnya,’’ tuturnya. Seperti diketahui akibat tanah longsor di Banjarnegara 2016 lalu, sebanyak 237 warga dievakuasi. Sebab rumah mereka sudah tidak layak huni akibat tanahnya mulai longsor. (wan)

Sumber : kebumenekspres.com, 14 februari 2018

Sivitas Terkait : Dr. Adrin Tohari
Diakses : 241    Dibagikan :