Makna Hari Kartini Bagi Seorang Perempuan Pawang Buaya

 
 
Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hellen Kurniati berpendapat, Hari Kartini jatuh pada 21 April, tidak berarti apa-apa jika hanya sebatas peringatan. Baginya, jasa Kartini dimaknai untuk memberinya semangat kerja dan berdedikasi dalam tanggung jawabnya sehari-hari.
’’Makna Kartini itu cuma sebagai penyemangat kerja saja. Saya kan biasa meneliti kadal, buaya, reptil berbahaya. Itu saja makna Kartini menurutku,’’ kata Hellen di kantor LIPI, Jakarta, Jumat (20/4).
Saat ini kesempatan karir antara pria dan perempuan sudah cukup setara. Semua individu yang mau bekerja keras, berkarya, dan belajar, pasti dapat meraih kemajuan. Dalam dunia penelitian pun begitu, malah banyak penelitia laki-laki yang lamban, sehingga disalip peneliti perempuan. Dunia penelitian itu dunianya kompetensi, bukan jenis kelamin.
’’Di tempat saya tidak ada perbedaan. Kalau peneliti itu yang dituntut publikasi, kalau perempuan rajin menulis, banyak publikasinya, cepat naik. Pun sebaliknya, kalau yang laki-laki 'klemar-klemer', ya ketinggalan,’’ tambah Hellen.
Untuk merubah cara pandang miring kaum lelaki terhadap perempuan, harus ada perubahan pola pikir perempuan supaya berupaya mengejar karir tanpa mengandalkan kaum lelaki. Perempuan jika ingin dianggap setara, harus berbuat lebih, termasuk berkarya dan menunjukkan kepada semua orang kalau kaumnya bisa.
’’Saya sejak muda suka menjelajah. Dari tahun 1990 an saya sudah meneliti buaya, gaji peneliti LIPI sekarang sudah cukup tinggi yang digelontorkan negara. Kalau perempuan punya motivasi untuk maju, lelaki akan berubah pikiran. Kalau perempuannya maunya enak, hidup bergantung, tidak mau kerja keras, ya lelaki akan mengontrol kehidupannya,’’ tukasnya.
Bagi seorang peneliti dan pecinta reptil, Hellen menjelaskan, perempuan dikatakan cantik tidak harus yang rajin ke salon, menghindari panas-panasan sinar matahari, berdandan, memperhalus kulitnya, tidak seperti itu. Tapi Perempuan cantik itu yang mampu mengoptimalkan keterampilannya sehingga mampu berkarya.
’’Perempuan cantik itu pintar, yang cirinya beda dengan perempuan lain. Tidak ada gunanya saya ke spa, nanti kena matahari lagi, hitam lagi, orang tiap hari saya bergaul dengan buaya. Perempuan harus mencari keterampilan yang spesifik, tidak banyak orang menggeluti, biar tidak banyak saingannya, jadi mudah dipanggil orang kalau ada apa-apa,’’ tegasnya

Sumber : kumparan.com, 21 April 2018

Sivitas Terkait : Dra. Hellen Kurniati
Diakses : 508    Dibagikan :