Mantan Dubes RI Untuk PBB: Diplomasi Sains Semakin Dibutuhkan

 
 

AKURAT.CO, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang juga Duta Besar RI untuk PBB periode 2004-2007 Makarim Wibisono mengatakan diplomasi sains akan semakin banyak digunakan karena problem-problem ilmu pengetahuan akan semakin banyak dirasakan.

"Karena itu inisiatif yang dilakukan LIPI untuk menguatkan diplomasi sains ke penelitinya memang perlu sekali. Ilmu pengetahuan itu bermata dua, dia bisa membawa manfaat bagi manusia di bidang kesehatan, lingkungan dan sebagainya, tapi bisa juga membawa masalah seperti persenjataan, peperangan karena penemuan ilmu pengetahuan,' kata Makarim usai menjadi pembicara di workshop On Science Diplomacy yang digelar LIPI di Jakarta, Senin (12/3).

Menurut dia, pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk hal positif dalam berdiplomasi sudah pada jalur yang tepat, meski pelaksanaannya masih terkendala dana, kebijakan, koordinasi.

Dirinya merasa itu lumrah yang terpenting ada keinginan politik untuk membenahi masalah diplomasi sains Indonesia.

"Jika ada kemauan kuat dari pemerintah, kabinet maupun Presiden, Insya Allah akan seperti negara-negara lain. Jika ini berjalan baik saya percaya Indonesia akan jauh lebih baik menata ilmu pengetahuannya dan jauh lebih siap dalam mengembangkan competitiveness kita,” ujar Makarim.

Kekuatan diplomasi sains Indonesia, lanjutnya, merupakan negara yang dikenal dengan sumber daya alam yang besar, bahkan jika disertakan keanekaragaman hayati marine maka posisi negara kepulauan terbesar ini ada di peringkat satu dunia. Sehingga jika pun Indonesia memiliki ahli-ahli tentunya ada di bidang kekayaan hayati tersebut.

Jika Indonesia menata keahlian pada keanekaragaman hayati yang dimiliki sedemikian rupa, menurut dia, maka yang akan membayar semua untuk anak cucu di masa depan adalah sumber daya genetik.

Karenanya Makarim mengatakan yang terpenting saat ini bagaimana cara agar keanekaragaman hayati Indonesia tidak dibajak, disalahgunakan untuk hal yang merugikan Indonesia yang seharusnya bisa digunakan oleh anak cucu.

Sebelumnya Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan seorang peneliti sangat penting mengetahui cara berdiplomasi. Ini menjadi cara seorang peneliti mempertahankan sumber daya yang dimiliki negaranya.

Saya ingat sekali saat bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mewakili Indonesia di perundingan Conference of Parties (COP) untuk Convention Biological Diversity di Kankun, akhirnya posisi kita semakin baik karena sampai sekarang keputusan terkait biologi sintetik bisa dipending,” ujar Enny.

Jika biologi sintetik dibebaskan maka struktur molekul biologi dari keanekaragaman hayati bebas dicopy siapapun, sementara negara pemilik dari keanekaragaman hayati tersebut tidak mendapatkan apapun.

“Mereka tidak perlu datang ke Indonesia untuk mengambil fisik keanekaragaman hayati itu, mereka buat sendiri struktur molekul biologinya untuk menciptakan produk keanekaragaman hayati yang diinginkan,” ujar Enny.

Dan itu sangat merugikan bagi negara dengan tingkat keanekaragaman hayati sangat tinggi seperti Indonesia. Karenanya, ia mengatakan dirinya sangat senang bisa mempengaruhi sejumlah negara lain terutama dari Amerika Latin untuk berada di posisi sama dengan Indonesia.

Kemampuan diplomasi sains seperti ini yang, menurut dia, harus dimiliki peneliti-peneliti Indonesia. “Memang secara akademik peneliti-peneliti pintar, tapi terkadang untuk bisa berbicara guna melindungi kekayaan yang dimiliki Indonesia ada yang tidak bisa,” pungkasnya.


Sumber : Akurat.co, 12 Maret 2018

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati
Diakses : 228    Dibagikan :