Mengubah Wajah Politik

 
 
Jakarta -
Konstelasi politik memang tak mudah ditebak, sebab politik memang permainan yang dinamis. Perubahan dalam jangka waktu yang singkat adalah soal biasa. Adu strategi untuk memenangkan pertarungan begitu cepat berganti detik demi detik. Usaha kuat untuk memperoleh kekuasaan adalah suatu keniscayaan bagi para petarung di dunia politik. Seperti itulah politik, layaknya terminologi yang disampaikan oleh Harold Lasswell, who gets what, when, and how.

Sehingga, tak perlulah merasa baper (bawa perasaan) dan akhirnya terbawa arus oleh strategi politik yang dimainkan para elite politik. Apalagi sampai membuat hari-hari kita suram dan bahkan harus melakukan pertengkaran yang tak perlu dengan teman, rekan kerja, ataupun keluarga karena beda pilihan politik. Pemilu akhirnya menjadi pembuat pilu, seperti guyon beberapa orang, bukan proses demokrasi yang harus dirayakan dengan suka hati.

Maka, untuk menghadapi tahun politik setahun ke depan, pertama-tama yang harus disiapkan adalah stok kewarasan, akal sehat perlu dijaga. Dukungan sporadis tanpa memperhitungkan rasionalitas bukanlah hal yang tepat. Emosi tidak dikontrol lagi oleh diri pribadi, tetapi oleh narasi yang dibangun oleh tim pemenangan calon yang bertarung. Tujuan berpolitik untuk mewujudkan Indonesia yang bermartabat seolah terlupakan karena keinginan untuk memenangkan pertandingan. Lawan tanding harus dibuat terpojok apapun strateginya.

Hari-hari ini, kita bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana mesin politik untuk pemenangan calon yang didukung lebih banyak mengedepankan pembunuhan karakter secara personal. Mematikan potensi lawan dengan berita palsu, cap-cap, atau stigma tertentu. Penyerangan frontal kepada personal calon dan identitasnya, bukan pada program yang diajukan dan janji yang disodorkan, jelas bukan jenis pendidikan politik yang baik. Membangun narasi politik penuh intrik yang menggadaikan akal sehat adalah pembelajaran politik yang buruk bagi bangsa ini, khususnya untuk generasi muda.

Pembelajaran Politik

Para politisi mesti menyadari bahwa laku mereka dipantau oleh seluruh anak bangsa. Di era digital, rekam jejak siapapun begitu tampak di internet. Cobalah tengok rekam jejak pendukung maupun pihak yang didukung. Ada suatu masa mereka saling hajar di media sosial membeberkan keburukan kubu lawan politiknya. Di masa lain, puja-puji begitu mudah digelontorkan hanya karena sudah satu kubu. Hal tersebut tentu hanya menjadi pelajaran politik yang buruk.

Tentu akan indah jika yang dipertarungkan adalah gagasan membangun bangsa. Sebab, pekerjaan rumah negeri ini begitu banyak. Ada beragam jenis permasalahan (pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, pangan, jaminan sosial, dll) yang tak hanya butuh diperdebatkan, tetapi mesti dicarikan solusi konkretnya.

Bagaimana program yang disajikan oleh mereka yang memasuki gelanggang politiklah yang mesti kita cermati. Apakah ada sesuatu yang baru dari gagasan maupun program yang diajukan masing-masing calon? Bagaimana kemungkinan realisasinya? Apakah hanya sekadar janji manis atau dapat direalisasikan secara konkret. Apakah calon menyajikan sesuatu yang kreatif dan inovatif? Kita perlu memperhatikan secara kritis apa saja yang disampaikan oleh mereka setiap menyampaikan janji-janji politiknya.

Pembelajaran politik yang nyata dan aktual bukanlah didapat dari ruang-ruang pendidikan semata. Tetapi, justru dari contoh harian yang diberikan oleh para politisi kita. Itulah yang sesungguhnya menjadi pendidikan politik yang nyata dan aktual. Di pelajaran PPKn maupun ilmu sosial lainnya, untuk level sekolah menengah atas dan sederajat memang anak-anak telah diajarkan isu politik dan kebangsaan. Selain itu, juga dihadirkan para guru juga menyajikan isu-isu tersebut di ruang kelas untuk didiskusikan. Namun, pembelajaran politik yang nyata dan langsung adalah dengan meneroka laku para politisi dan pemimpin bangsa.

Sudah sepatutnya, mereka yang terjun di dunia politik menyadari bahwa gerak mereka dipantau oleh seluruh elemen bangsa juga oleh anak-anak. Beberapa kali saya berkesempatan berdiskusi dengan anak-anak SMA, mereka merasa jengah dengan pola kampanye yang dilakukan para politisi kita. Dari diskusi, ada kesan mereka merasa apatis terhadap kontestasi politik yang jauh dari akal sehat. Bahkan ada seorang anak menyatakan, "Daripada ngomongin politik, lebih baik main ML (Mobile Legend, game yang sedang digandrungi), politik itu menyebalkan, urusan orang-orang tua, apalagi sekarang, berantem dan pecah belah, sebar ujaran kebencian, memuakkan."

Bayangkan, game lebih menarik daripada membicarakan persoalan politik yang sesungguhnya menyangkut nasib mereka. Kondisi tersebut tentu terjadi karena hari-hari ini orang-orang dewasa memberikan teladan negatif dalam realitas politik hari-hari ini. Pertengkaran politik begitu mudah disaksikan oleh anak-anak muda. Itulah wajah politik yang disaksikan oleh anak-anak muda ini.

Musuh bersama saat ini adalah akun-akun media sosial yang dibuat oleh mereka yang berusaha menebal-nebalkan kebencian. Yang berusaha menyeragamkan pola pikir kita dan menegasi realitas beragamnya Indonesia. Apalagi, belakang ini narasi kebencian begitu mudah dikonstruksi, ditembakkan pada mereka yang dianggap berseberangan pandangan secara politik. Hasil survei terhadap 145 ahli yang dilakukan Pusat Penelitian Politik LIPI beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa politisasi SARA dan politik identitas merupakan masalah yang berpotensi menghambat penyelenggaraan pemilu serentak 2019 dan konsolidasi demokrasi.

Gaya politik uang, kampanye SARA, dan saling memojokkan secara personal memang menjemukan dan menyebalkan. Sehingga, pelibatan anak muda untuk menghalau kampanye model tersebut sangatlah penting. Mengapa anak muda? Sebab mereka memiliki kreatifitas yang begitu kaya. Cobalah cek kanal Youtube anak-anak muda, ada begitu banyak karya yang mencerahkan dan memantik gairah untuk terus kreatif dan produktif. Mereka menginspirasi siapapun anak bangsa di negeri ini.

Anak-anak muda perlu dirangkul dan diajak untuk mewarnai politik agar lebih semarak dan menggembirakan. Mengubah kemasan dan wajah politik negeri ini menjadi lebih berwarna dan semarak tanpa caci maki, tanpa saling hujat.

Anggi Afriansyah peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, guru PPKn di SMAI Al Izhar Pondok Labu 2012-2014


(mmu/mmu)

Sumber : news.detik.com , 28 Agustus 2018

Sivitas Terkait : Anggi Afriansyah M.Si.
Diakses : 105    Dibagikan :