Mengulik isu ulat bulu beracun yang dapat menghilangkan nyawa

 
 

"Sekedar informasi, ini adalah binatang yang langka dan sangat berbahaya, biasanya di daun pohon mangga. Orang yang terkena gigitan binatang itu secara langsung umumnya akan wafat setelah 4 jam dari gigitan itu akibat dehidrasi yang sangat dahsyat. Sangat berbahaya sekali."

Paragraf di atas merupakan penggalan dari pesan berantai yang beredar akhir-akhir ini di layanan media sosial. Dilansir dari Kompas.com (15/12), pesan berantai tersebut pada intinya menyarankan warga untuk berhati-hati karena ulat bulu api dapat menyebar racun yang mematikan.

Menanggapi kesimpangsiuran fakta akan kebenaran pesan tersebut, Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hari Sutrisno, menegaskan bahwa racun dari ulat bulu--jenis api seperti yang ada dalam pesan berantai tersebut--bukan menjadi penyebab kematian dalam keadaan normal.

Secara taksonomi, ulat api merupakan keluarga Limacodidae. Ulat api merupakan larva dari ngengat, hidup terutama pada pohon palem-paleman, seperti kelapa, kelapa sawit, dan palem.

"Jenis ini memang punya racun dan punya saluran untuk menyuntikkan racunnya," kata Hari. Namun tidak semua ulat punya racun dan tidak semua ulat yang punya racun memiliki saluran untuk menyuntikkan racunnya. "Ada yang hanya kelenjar racun, mangsa baru mati kalau memakannya."

Ulat yang memiliki racun terbagi menjadi dua. Yakni kelompok pasif dan aktif.

Memiliki bulu yang banyak dan tipis, menjadi ciri ulat bulu yang pasif. Disebut pasif karena bulu ulat itu bukan alat untuk mengeluarkan atau menyuntikkan racun. Memicu gatal karena bulu itu masuk ke pori-pori kulit, bukan karena ada racun di dalam bulu itu.

Jenis berikutnya adalah ulat yang beracun aktif. Ulat ini kriterianya memiliki semacam jarum untuk menyuntikkan racun. Salah satu jenisnya ulat api ini.

Racun yang disuntikkan oleh ulat api juga sebenarnya adalah senyawa histamin. Senyawa itu menimbulkan radang kemerahan pada kulit, gatal, serta perih. Maka tidak mengherankan jika yang terkena racun adalah anak-anak, rasa perihnya tak tertahankan.

"Tapi racun ulat ini tidak menyebar," tegas Hari. Racun hanya akan berdampak ke area tubuh yang sangat lokal, pada bagian yang tersuntik saja. Perasaan gatal dan perih tidak akan terasa di bagian lain.

"Jadi, berbeda dengan racun ular yang bisa sistemik. Juga beda dengan gatal karena ulat bulu yang bisa menyebar," jelasnya.

Berbeda kasus jika orang yang terkena bisa ulat bulu tersebut memang memiliki alergi terhadap histamine. Alergi ini yang mungkin bisa mengakibatkan kematian jika tidak segera ditangani.

Dengan penjelasan ini Hari menegaskan bahwa informasi soal ulat yang bisa membunuh manusia dalam waktu 4 jam saja itu tidak benar.

 

Pria yang juga menjadi peneliti ngengat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini menjelaskan ada beberapa macam bulu atau duri pada ulat beracun. Mereka adalah:

1. Bulu-bulu normal

Biasanya bulu-bulu pada ulat Noctuidae dan Arctiidae. Bulu ulat ini halus dan mudah putus ujungnya. Sehingga akan mudah masuk ke dalam kulit manusia bila terjadi kontak langsung.

2. Struktur khusus pada ujung bulu

Biasanya bulu-bulu pada ulat Lasiocampidae. Bulu-bulunya biasanya menempel lekat pada tubuh larva.

Bulunya agak tebal berbeda dalam ukuran panjangnya dan pangkal yang tumpul dan menebal. Ujung yang tajam menunjukkan struktur menyerupai mata gergaji. Bila ulat bulu beracun satu ini mengenai kulit manusia akan menyebabkan iritasi.

3. Bulu ulat dengan dasar lancip

Biasanya bulu-bulu pada ulat Lymantriidae. Contohnya seperti serangan ulat bulu di Probolinggo, Jawa Timur pada 2011.

4. Duri beracun

Tipe duri beracun yang dimiliki kelompok Limacodidae berbeda dengan jenis yang lain. Duri ulat ini memiliki ukuran panjang dan lebar dibanding bulu di ketiga jenis sebelumnya. Lalu ujung duri sangat lancip dan tajam.

"Duri racun ini bekerja menyerupai jarum suntik. Ulat jenis ini akan menyuntikkan durinya yang berbisa ke dalam organisme yang menyentuhnya atau mengganggunya dengan cara kontak langsung," jelas Hari.

Biasanya sengatan panas, kata Hari, bakal hilang dalam 3-4 jam. Salah satu cara mengatasinya dengan mengompres menggunakan air es. Bila kondisi tubuh memburuk bisa mengonsumsi antihistamin. Namun, jika amat mengganggu sebaiknya segera ke dokter.

Jika terkena ulat api, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengompres dengan larutan basa, larutan sodium bikarbonat, atau krim yang mengandung antihistamin.

"Pada keadaan yang sangat serius penggunaan secara oral dengan antihistamine, 10 persen calsium gluconate diberikan secara intravena juga sangat membantu dan sebaiknya segera hubungi dokter," kata Hari. Biasanya, dokter akan meresepkan antihistamin oral.


Sumber : beritagar.id , 18 Desember 2017

Sivitas Terkait : Dr. Hari Sutrisno
Diakses : 4108    Dibagikan :