Peneliti LIPI kembangkan alat deteksi dini kanker

 
 

Penyakit kanker masih menjadi pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan infeksi menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk tahun ini.

Pada 2015, sekitar 8,8 juta orang di seluruh dunia meninggal dunia karena kanker. Paru-paru, prostat, kolorektal, perut, dan hati adalah jenis kanker paling umum pada laki-laki. Sementara payudara, kolorektal, paru-paru, leher rahim, dan perut adalah kanker paling umum di kalangan perempuan.

Di Indonesia, menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2016, jumlah kematian akibat penyakit kanker secara umum terus meningkat pada kurun 2010-2015.

Meski demikian jumlah kasus baru kanker di Indonesia pada kurun yang sama menunjukkan tren menurun, terutama kanker payudara dan serviks.

Di Indonesia, jumlah pasien kanker paling banyak terdapat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (11/11/2017), mencapai 4,1 persen.

Melihat data-data tersebut, kalangan sains pun tertantang untuk mendeteksi sel kanker secara dini. Persoalannya, sel kanker punya kemampuan kamuflase sehingga sulit dikenali, bahkan oleh sistem kekebalan tubuh manusia sekalipun.

Akhirnya sebagian besar pasien baru bisa dideteksi kanker atau baru mengetahui setelah stadium tiga ke atas. Bahkan 33 persen pasien kanker mengalami hal itu (stadium tiga).

Mengatasi persoalan deteksi kanker, peneliti di Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nurul Aisyiyah Jenie mencoba pendekatan kimia.

Alumnus Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, ini merancang penelitian deteksi dini kanker bertajuk "Pengembangan Nanopartikel Berfluoresens Berbasis Silika Alam Indonesia untuk Bioimaging Optik". Siti mengatakan beban ekonomi pasien akan lebih ringan apabila mampu mendeteksi sel kanker di tubuhnya lebih dini.

Deteksi dini yang dimaksud ialah saat kanker baru pada stadium 1 atau 2. Siti menggambarkan alatnya nanti akan seperti test pack yang lazim dipakai untuk tes kehamilan. Jadi tanpa injeksi, alat itu diharapkan mampu mendeteksi kanker lewat sampel tubuh seperti urine, keringat atau darah. 

Siti akan menggunakan nanopartikel dari silika alam yang diambil dari Pembangkit Listrik Tenaga Geothermal (PLTG) Dieng, Jawa Tengah. Bagaimana prosesnya?

Silika nanopartikel tersebut dimodifikasi menjadi fluoresens. Kemudian, zat itu dikombinasikan dengan biomolekul yang dapat mengikat sel kanker. Menurut Siti, jika terdapat pertumbuhan sel kanker, terdapat kenaikan konsentrasi hormon tertentu.

Alat deteksi kanker temuannya tak perlu dimasukkan ke dalam tubuh dan hanya membutuhkan sampel urine, keringat, dan darah yang diletakkan di atas nanopartikel. Jika sel kanker terdeteksi, nanopartikel silika akan bercahaya yang mengharuskan pemeriksaan lebih kompleks ke rumah sakit.

"Bioimaging-nya itu harus sensitif dan selektif. Sensitif dengan fluorosens, selektif hanya berlaku pada sel kanker tertentu karena sifat kanker itu lain-lain. Tantangannya disitu. Sekarang sedang diteliti," kata Siti.

Siti tidak sendirian melakukan penelitian ini. Antara lain Ais, sapaan akrabnya, juga bekerja sama dengan Teknik Kimia Universitas Gajah Mada yang berperan memproses mineral dan Pusat Penelitian Metrologi LIPI yang menjalankan uji deteksi.

Proses penelitian yang dimulai sejak pertengahan 2016 ini tengah masuk optimasi. Bentuk nanopartikel silika telah diperoleh dengan ukuran 5-20 nanometer dan telah dimodifikasi fluoresens. Kepekaan fluoresens, intensitas cahaya yang diperlukan, dan biomolekul tengah dalam proses optimasi.

"Ke depannya, saya ingin alat itu bisa dibungkus menjadi sebuah alat yang bisa dipakai bahkan oleh nonmedis untuk deteksi dini kanker," kata Ais kepada CNN Indonesia (10/11).

Atas ide penelitiannya, Ais diganjar penghargaan tahunan L'Oreal-UNESCO For Women in Science National Fellowship Awards 2017. Ais dan tiga perempuan peneliti lainnya juga mendapat bantuan dana penelitian masing-masing Rp80 juta.

Selain meraih penghargaan itu, menurut Majalah Kartini (10/11), Ais juga punya sejumlah prestasi dan pernah menerima beasiswa internasional sebagai delegasi resmi dari Indonesia untuk "Workshop on Empowerment of Women through Science and Technology Interventions" di Teheran, Iran (2008).

Ais juga pernah menjalani pendidikan di Research Grant by the Indonesian Institute of Science (Indonesian Government, 2008-2010), lantas mendapat Australian Award AusAID Scholarship for PhD Program by the Australian Government (2011-2015), dan beasiswa Project Grant by Wound Management CRC Australia (2011-2015).


Sumber : beritagar.id , 13 November 2017

Sivitas Terkait : Siti Nurul Aisyiyah Jenie M.Sc.Chem.Eng
Diakses : 72    Dibagikan :