Pentingnya Lamun dan Dugong Bagi Ekosistem Hayati Laut

 
 

Kepulauan Seribu - Saat ini sebagian besar masyarakat Indonesia belum banyak yang mengetahui tentang lamun. Berdasarkan hasil survei kesadaran publik yang dilakukan oleh World Wildlife Fund (WWF) Indonesia, pada 2017 diperoleh fakta bahwa 92% responder belum sadar dan tahu keberadaan lamun.

Lamun adalah tumbuhan berbunga yang tumbuh membentuk padang rumput sehingga juga disebut "padang lamun" di dasar perairan dangkal, yang mana Indonesia sendiri memiliki 12 jenis lamun dari 60 jenis spesies lamun yang tersebar di dunia.

Berdasarkan data penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dari 1.507 km2 luas padang lamun di Indonesia, hanya 5% saja yang tergolong sehat, 80% kurang sehat dan 15% dalam kondisi tidak sehat.

Keberadaan lamun dewasa ini kian terancam. Beberapa hal yang menjadi ancaman tersebut justru karena faktor manusia (anthropogenic stress). Beberapa aktivitas dan kebutuhan menusia di darat seperti penggunaan air yang berlebihan, penggundulan hutan, alih fungsi hutan dan lahan, membuang sampah sembarangan, aktivitas wisata hingga proyek reklamasi menjadi ancaman nyata dan serius sampai saat ini.

Menurut LIPI, pengetahuan dan kesadaran sebagian besar masyarakat akan peranan lamun bagi keberlangsungan ekosistem hayati bawah laut yang memang masih kurang tersebut menjadi faktor utama kerusakannya. Dari segi fisik lamun atau seagrassmemang tidak se-populer bakau dan terumbu karang. Namun faktanya, lamun, mangrove dan terumbu karang memiliki peran penting satu sama lain.

"Kalau dilihat dari fisiknya, lamun memang tidak seksi seperti mangrove dan terumbu karang. Tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa ikan dan jenis cumi yang bertelur di padang lamun. Lalu setelah besar mereka akan pindah dan cari makan bahkan bertahan hidup di terumbu karang dan bakau. Mereka memiliki satu kolaborasi yang bagus, namun sayangnya masyarakat kita masih banyak yang tidak tahu dan kurang sadar akan hal itu," jelas Peneliti Lamun P20 LIPI, Udhi Eko Hernawan.

Selain bermanfaat bagi perikanan, padang lamun juga berfungsi sebagai penahan gelombang, menangkap dan meyetabilkan sedimen sehingga air menjadi lebih jernih. Di samping itu, fungsi dan kegunaan lamun yang lain juga mampu mengurangi laju perubahan iklim dengan menyerap lebih dari dua kali jumlah seluruh karbondioksida (CO2) mencapai 83.000 ton/km2 yang disimpan oleh hutan di darat dengan rata-rata menyerap karbon hingga 5.446 Mg per tahun.

"Dalam catatan penelitian kami (LIPI), lamun ini juga mampu menyerap karbon hingga 5.446 Mg per tahun atau jika dianalogikan, 1 hektar lamun mampu menyerap racun yang terpapar bebas di udara dari hasil pembakaran 800 ribu puntung rokok," ungkap Udhi.

Lamun dan Dugong

Dari berbagai manfaat tersebut di atas, lamun juga menjadi makanan utama bagi dugong (dugong dugon), mamalia laut atau satwa ordo Sirenia yang bisa hidup sampai 70 tahun di area perairan pesisir. Dugong atau yang sering disebut juga duyung ini tidak bisa dipisahkan dari lamun.

Padang lamun menjadi habitat penting bagi dugong sebagai sumber makanan. Mamalia laut eksotik ini memakan daun dan rizoma lamun, terutama dari spesies pionir seperti genus Halophila dan Halodule.

Dewasa ini, dugong masih belum banyak mendapat perhatian mengenai upaya perlindungannya. Kehilangan habitat utamanya, yaitu padang lamun merupakan salah satu ancaman serius bagi keberlanjutan populasi dugong. Di sisi lain, status populasi dugong menjadi indikator dari kesehatan ekosistem pesisir secara umum.

Di samping itu, perburuan dugong juga masih marak terjadi. Selain diambil taring dan dagingnya, banyak mitos yang berdedar di masyarakat akan khasiat dari air dugong sebagai hal berbau kepercayaan adat. Padahal fakta ilmiahnya, air mata dugong tersebut adalah proses biologis, atau lendir yang keluar untuk menjaga kelembaban mata ketika dugong muncul ke permukaan air.

"Saat ini memang masih banyak masyarakat yang tidak tahu fakta ilmiah mengenai air mata dugong atau yang mereka sering menyebutnya duyung. Yang selama ini mereka pikir bahwa air mata duyung itu memiliki khasiat tertentu itu adalah salah besar. Itu proses alami," tegas Udhi.

Secara nasional, dugong adalah mamalia laut yang dilindungi melalui UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya dan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta UU No. 31 Tahun 2004 juncto UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. Sedangkan secara internasional, dugong telah terdaftar dalam Global Red List of IUCN sebagai Vulnerable to Extinction atau rentan terhadap kepunahan dan juga telah masuk dalam Appendix I CITES (the Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti bagian tubuh dari spesies tersebut tidak dapat diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Upaya Penyelamatan Dugong dan Lamun

Dalam rangka menjaga kelestarian dugong dan lamun, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementrian KKP bersama WWF-Indonesia, Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI) dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor melakukan kampanye pelestarian dugong dan lamun yang merupakan bagian dari implementasi Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP) di Indonesia.

Kegiatan yang juga digalakkan dalam rangka memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) setiap tanggal 5 November ini telah dibuka dengan menanam lamun di Pulau Pari, Kepulauan Seribu dan sekaligus mengukuhkan aktor Tanah Air, Arifin Putra sebagai Duta Dugong dan Lamun Indonesia pada Kamis (2/11) lalu.

Melalui kegiatan tersebut diharapkan agar masyarakat lebih sadar akan manfaat yang besar dari lamun dan duyung sebagai satuan ekosistem penunjang keberlangsungan sumber daya perikanan di Indonesia. Kedepannya, masyarakat juga dihimbau untuk turut serta dalam menyelamatkan dugong dan lamun dengan cara mempelajari dan menyebarkan informasi, melaporkan temuan kematian dugong atau pencemaran lingkungan, menjaga kebersihan lingkungan dengan dan tidak mengkonsumsi atau membeli produk yang diambil dari bagian tubuh dugong.

"Kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih bertanggung jawab terhadap pesisir atau padang lamun yang notabene merupakan habitat duyung. Kita dapat berkontribusi sederhana dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak membeli produk berbagan dasar duyung seperti air mata atau taring, serta kegiatan kolaboratif untuk meningkatkan kesadartahuan terhadap fungsi dan peran habitat lamun bagi pesisir," jelas Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP, Brahmantya Satyamurti Poerwadi.


Sumber : beritasatu.com. 5 November 2017

Sivitas Terkait : Udhi Eko Hernawan S.Si. M.Sc.
Diakses : 257    Dibagikan :