Potensi Keragaman Mikroba

 
 

Indonesia adalah salah satu negara yang dikaruniai kekayaan megabiodiversitas. Sebagai negara kedua penyumbang keanekaragaman hayati terbesar setelah Brasil, tentunya banyak ilmuwan asing di seluruh dunia yang ingin menggali dan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia.

Terhadap hal tersebut, kita harus bersikap hati-hati agar nantinya kekayaan hayati milik kita tidak diklaim menjadi hak paten oleh para ilmuwan asing. Karena itu, pelaksanaan perjanjian kerja sama penelitian antara Pemerintah Indonesia dan pihak peneliti maupun lembaga asing harus dilakukan dengan poin-poin yang jelas dengan menjunjung tinggi win-win solution.

Khusus untuk biodiversitas mikroba, upaya penyelundupan dan pencurian oleh pihak asing masih sulit untuk diidentifikasi dan dilacak. Kenyataan ini disebabkan oleh spesimen mikroba berukuran mikroskopis dan dapat dengan sederhana disimpan serta diawetkan (di-preservasi) dalam bentuk ampul freeze drying yang sangat mudah dikemas.

Di samping itu, upaya pencurian terhadap biodiversitas mikroba dapat pula dilakukan secara tidak terduga dengan mengambil sampel tanah, air laut, sumber air panas, maupun serasah daun yang merupakan habitat mumi mikroba di alam. Hal ini tentunya berbeda dengan upaya penyelundupan spesimen flora dan fauna endemik (asli Indonesia) yang sebagian besar berhasil diungkap oleh pihak Imigrasi maupun Bea Cukai.

Oleh karena itu, dengan pembangunan Microbiology Culture Collection, kasus-kasus semacam tersebut diharapkan dapat diminimalisasi melalui pemberian barcode DNA mikroba indigenous asli Indonesia yang akan segera diaplikasikan. Dengan pemberian barcode DNA, akan mempermudah proses identifikasi habitat dan jenis spesies dari suatu mikroba. Pemberian barcode DNA mikroba ini akan dilakukan terhadap spesimen isolat bakteri, fungi (jamur), yeast (khamir), Actinomycetes, dan jenis mikroba ekstrem Arkaebacteria.

Pembangunan Microbiology Culture Collection di kompleks Cibinong Science Center yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Biologi LIPI bekerja sama dengan pihak JST dan JICA dari Pemerintah Jepang tahun 2013 ini, merupakan suatu bentuk langkah maju dalam upaya pengungkapan potensi dan pemanfaatan kekayaan biodiversitas mikroba di Indonesia. Pusat Penelitian Biologi LIPI merupakan pemilik otoritas ilmiah (scientific authority) bidang ilmu pengetahuan hayati di Indonesia.

Poin kerja sama ini telah dituangkan dalam bentuk MoU dan kesepakatan kerja yang akan mengatur hak pemanfaatan paten secara bersama-sama oleh kedua belah pihak. Setelah selama ini fokus kerja Pusat Penelitian Biologi LIPI di bidang ilmu pengetahuan hayati lebih ditekankan kepada pengungkapan spesies baru, pengelolaan koleksi spesimen dan pelestarian flora dan fauna dengan pembangunan Herbarium Bogoriense dan Museum Zoologi Bogoriense, akhirnya aspek pelestarian biodiversitas mikroba menjadi target berikutnya.

Selama ini, Indonesia belum punya wadah atau tempat khusus yang ditujukan untuk mengumpulkan informasi basis data biodiversitas mikroba dan koleksi mikroba unggulan. Selain itu, upaya diseminasi iptek dan program alih teknologi bidang mikrobiologi kepada masyarakat umum belum dapat dilaksanakan setfara optimal.

Sebagian besar hasil penelitian di bidang mikrobiologi juga masih banyak yang tersimpan dalam tulisan ilmiah yang masih sulit untuk diakses dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Penerjemahan informasi ilmiah untuk aplikasi teknologi tepat guna bagi masyarakat serta pelayanan jasa identifikasi mikroba indigenous (lokal) menjadi sasaran utama ke depannya.

Keberadaan Microbiology Culture Collection dimaksudkan sebagai muara terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh seluruh peneliti Indonesia. Selain itu, pembangunan Microbiology Culture Collection juga dimaksudkan sebagai sumber basis data penting bagi seluruh ilmuwan dan akademisi di Indonesia dalam mengakses sumber informasi mengenai aspek biodiversitas mikroba berikut potensinya.

Nantinya diharapkan bahwa Microbiology Culture Collection ini dapat berkontribusi langsung dalam memberikan solusi dan menyelesaikan berbagai permasalahan di Indonesia yang terkait dengan pemanfaatan mikroba, baik dari aspek pangan, energi, pertanian, lingkungan, maupun industri. Sebagai contoh aplikasi mikroba, antara lain, proses reklamasi lahan yang rusak akibat aktivitas pertambangan dan proses instalasi pengolahan limbah pabrik.

Mikroba juga dapat digunakan untuk membuat pupuk organik. Di samping itu, proses fermentasi mikroba dengan bantuan enzim dapat juga dimanfaatkan untuk konversi bioetanol sebagai bahan bakar alternatif maupun proses pembuatan bahan pangan fungsional, seperti tepung mocaf, tempe, dan tapai. Aplikasi yang sudah dilakukan dalam skala besar tentunya adalah industri yoghurt, keju, cuka, kecap, dan sari kelapa yang telah memanfaatkan peranan mikroba sebagai aktor utama dalam proses produksi komoditas tersebut.

R Haryo Bimo Setiarto
Penetiti Bidang Mikrobiologi Pusat Penelitian Biologi LIPI
Sumber : Republika, 11 April 2013

Sivitas Terkait : R. Haryo Bimo Setiarto

Diakses : 2130    Dibagikan : 0