Saat Melihat Bunga Rafflesia Arnoldi, Jangan Lakukan 4 Hal Ini

 
 

BOGOR - Hari ini, Senin (9/1/2018), Rafflesia arnoldii kini diperingati 25 tahun sebagai bunga Nusantara. Bunga langka ini keberadaannya masih sangat terbatas dan sulit dikembangbiakan.

Kelangkaannya membuat bunga ini harus mendapatkan perlakuan khusus, baik dari wisatawan yang melihat ataupun dari penelitinya. Walaupun langka, rafflesia dapat ditemukan di beberapa hutan, kebun raya, dan taman nasional di Sumatera, Banten, juga Jawa Barat.

Sayangnya, banyak rafflesia yang berumur pendek setelah dibuka menjadi obyek wisata. Penyebab terbesarnya ialah ulah manusia yang tidak paham akan perlakuan hidup si puspa langka Indonesia ini.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Khusus Rafflesia dan Anggrek di Kebun Raya Bogor, Sofie Mursidawati memberikan empat hal yang tidak boleh dilakukan saat melihat bunga rafflesia.

1. Dilarang menginjak dan duduk di inangnya
Bunga purba yang dimiliki Indonesia ini sangat bergantung dengan inangnya, yaitu tumbuhan anggur hutan menjalar. Bagian akar inangnya rusak, maka akan terganggu bahkan mati rafflesianya.

Namun, menurut Sofie, banyak yang tidak tahu dengan menginjak bahkan menduduki inangnya saat berfoto dengan rafflesia.

"Dia (rafflesia) tumbuh di inangnya yang malang-melintang itu kemana-mana. Wisatawan banyak yang ga tau, keinjek akarnya bahkan foto sambil didudukin, bisa putus akar inangnya," kata Sofie saat dihubungi KompasTravel, Senin (9/1/2018).

2. Dilarang terlalu dekat
Tumbuhan inang rafflesia yang merambat, semakin tua akan semakin luas menjalar. Hal itu membuat jarak aman melihat bunga langka tersebut amat beragam.

"Kalau inangnya muda si lima meter udah aman banget, tapi kalau inangnya tua, akarnya kemana-mana bisa lebih (dari lima mater). Jarak dekat pasti ada inangnya itu," terang Sofie yang sejak 2004 meneliti puspa langka ini.

Ia menyarankan untuk memperhatikan jalur akar pohon inang rafflesia, agar tidak diganggu bahkan dirusak. Sofie menyebut pengaman seperti pagar seperti di beberapa kebun raya bisa dipasang.

"Sangat riskan terjadi di hutan atau kebun yang tanpa penjagaan. Sehingga tour guide dan wisatwan bisa sembarangan memperlakukan bunga rafflesia ini, karena mereka memang belum paham," kata Sofie, yang rutin mendapat informasi dari Forum Komunikasi Rafflesia dan Amorpophalus.

3. Dilarang menyentuh
Menyentuh ialah salah satu kebiasaan yang masih banyak ditemui orang yang melihat rafflesia. Baik wisatawan, masyarakat lokal, maupun pemandu wisata.

Menurut Sofie, wisatawan sebaiknya itu menyentuh bunga rafflesia. Kata Sofie, saat menyentuh bunga rafflesia bisa menyebabkan transfer bakteri hingga pengrusakan oleh oknum manusia.

"Perlakuannya sama saja seperti ketemu hewan langka, monyet misalnya, kan harus steril, atau tidak nyentuh. Tangan itu riskan menyebarkan bakteri, yang dipegang sebelumnya apa, kita ga tau," tegas Sofie.

4. Merusak berarti membunuhnya
Terakhir ia memberi peringatan keras pada oknum yang masih merusak. Memetik beberapa bagian atau semuanya untuk keperluan pribadi.

"Kadang ada tourist guide yang sengaja nyabut bunganya, dikasih ke bule supaya bisa nyium bau khasnya bunga (rafflesia). Sudah itu matilah, lepas dari inangnya," terang Sofie.

Terakhir ia berharap agar lebih disosialisasikan informasi mengenai rafflesia. Agar banyak wisatawan dan pengelola wisata yang sadar akan berharganya puspa langka Indonesia tersebut.

Penulis: Muhammad Irzal Adiakurnia


Sumber : tribunnews.com, 10 Januari 2018

Sivitas Terkait : Dra. Sofi Mursidawati M.Sc.
Diakses : 173    Dibagikan :