Sekarang Empal Gentong Dikemas Kaleng Mirip Kornet

 
 

Kemasan empal gentong H Apud yang praktis dibawa dan bisa jadi oleh-oleh. Kemasan kaleng. FOTO:APRIDISTA S RAMDHANI/RADAR CIREBON

CIREBON-Kota Cirebon kini sudah menjadi destinasi wisata kuliner. Tapi untuk urusan cenderamata, khususnya panganan, belum ada yang praktis dibawa. Berlandaskan ini, H Apud melakukan terobosan. Supaya empal gentong bisa dijadikan oleh-oleh ke luar kota.

Kemasannya sepintas mirip kaleng kornet. Stiker kuning, hijau dan oranye, menjadi pembeda dari tiap isinya. Hijau untuk bumbu empal gentong. Kuning untuk empal gentong original dan oranye untuk yang suka pedas.

Ide awal mengemas empal gentong kalengan berawal dari komplain pelanggan karena tidak melayani pembelian take away. Pasalnya, seringkali warungnya dipadati pembeli sehingga pelayanan lebih mengutamakan mereka yang datang dan makan di tempat. “Setiap pulang saya sedih karena banyak pelanggan yang marah. Mereka komplain karena nggak bisa bungkus empal,” tutur Anak H Apud, Eroh Masruroh, kepada Radar.

Ia berusaha mencari cara agar empal gentong yang dijual bisa dibawa pulang. Bermodal berselancar di dunia maya, akhirnya ia menemukan tutorial agar empal gentong bisa bertahan lama. Dari situ, ia mendapatkan kontak petugas di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jogjakarta. Dari situ, terjadi pertukaran informasi dan ide. Kemudian diputuskan membuat empal gentong dengan kemasan kaleng. “Konsepnya empal gentong ini seperti ikan sarden atau kornet,” ucapnya.

Pada percobaan pertama, empal gentong kemasan berhasil bertahan satu bulan. Diuji LIPI juga lolos. Tapi begitu dicoba, ternyata rasanya berubah. “Kurang asin, kurang berasa bumbunya,” katanya.

Percobaan pembuatan empal gentong kemasan, seluruhnya dilakukan di Jogjakarta di bawah bimbingan LIPI. Setelah dihitung-hitung, bahan baku di kota gudeg rupanya lebih mahal. Biaya produksi pun tak tertutup. Eroh lantas menyerah. Enam bulan proyek ini mangkrak.

Rupanya LIPI tidak tinggal diam. Para peneliti membantunya mewujudkan keinginan membuat empal gentong kemasan. Eroh kembali dihubungi untuk melakukan percobaan berikutnya. Kali ini caranya yang diubah. Pembuatan bumbu dilakukan di Cirebon. Kemudian dibekukan dan dikirim ke Jogjakarta. Dengan cara ini, ongkos produksi berhasil ditekan. Tapi, kendala ternyata tak berhenti datang. “Bumbunya itu kok ya kurang meresap,” ujarnya.

Eroh pun puitar otak terutama untuk proses memasak dan pengiriman bumbu. Akhirnya packaging berhasil dilakuakn LIPI. Daya tahannya, bisa sampai 1,5-2 tahun dengan rasa yang otentik. Rupanya keberhasilan ini tidak serta merta bisa diterapkan. Sang bapak (H Apud, red) menolak ide kemasan ini. Apalagi saat tahu cita rasanya berubah. Tapi seiring keberhasilan uji coba yang dilakukan, H Apuh pun luluh.

Saat ini ia menjual empal gentong kaleng dengan rasa original dan pedas. Untuk ukuran kecil dibanderol dengan harga Rp30 ribu, sedangkan ukuran besar Rp40 ribu. Tersedia pula bumbu empal gentong yang dibanderol dengan harga Rp60 ribu/kaleng kecil dan Rp80 ribu/kaleng besar.

Banyak yang merasa senang dengan adanya empal gentong dalam kemasan. Karena di dalamnya benar-benar empal gentong yang disajikan seperti dibungkus. Berisi daging, kuah, kucai, lengkap. Untuk meikmatinya hanya perlu dipanaskan.

Ia juga berencana untuk bisa memproduksi sendiri di Cirebon dengan rencana sekali produksi menghasilkan kurang lebih 1.500 kaleng. “Saat ini sedang dlaam proses perizinan BPOM dan SNI serta pendirian tempat produksi sendiri,” jelasnya. (apr)


Sumber : radarcirebon.com, 19 Februari 2018

Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 282    Dibagikan :