22 Alat Pendeteksi Tsunami Tak Berfungsi Karena Ditelabtarkan

 
 
Gempa besar yang terjadi pada Rabu (3/3) malam di lepas pantai barat Indonesia mengungkapkan tidak berfungsinya sebanyak 22 alat (buoy) pendeteksi tsunami bernilai jutaan dollar AS yang dipasang di tengah laut di berbagai lokasi.

Kelemahan ini memunculkan desakan agar Indonesia tak perlu berpikir tenaga nuklir sebab mengantisipasi bencana tsunami saja diremehkan.

Peneliti gempa bumi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung, Eko Yulianto, mengatakan buoy di laut rusak karena ditelantarkan.

"Pemerintah perlu memperbaiki sistem peringatan gempa di pesisir barat Sumatera. Sebab, keluarnya peringatan dini pertama tidak lengkap akibat sistem yang kurang memadai sehingga perhitungan gempa kurang lengkap," katanya saat dihubung, Jumat (4/3).

Indonesia yang dikelilingi Samudera Hindia dan Pasifik merupakan salah satu wilayah seismik yang paling aktif di dunia. Pada Rabu (3/3) malam, gempa berkekuatan 7,8 skala Richter yang dangkal melanda sekitar 500 mil dari Kota Padang di Provinsi Sumatera Barat.

Gempa ini telah menimbulkan kepanikan dan membuat warga bergegas untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi. Ternyata tidak ada gelombang tsunami terjadi dan tidak ada kerusakan atau kematian akibat bencana itu.

Kelemahan Indonesia mendeteksi bencana juga dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) edisi Jumat, 4 Maret 2016. Bahkan, WSJ mengutip Direktur Pusat Riset Tsunami di University of Southern California, Costas Synolakis, yang mengatakan, "Mengetahui seberapa besar gelombang dan mampu memperkirakan kapan akan tiba di darat adalah hal yang sangat penting untuk menentukan berapa banyak luapan air yang akan dihasilkan dan menentukan proses evakuasi lebih bermanfaat."

"Ini bukan masalah sepele. Peringatan palsu akan mengurangi kredibilitas sistem, dan setiap orang bisa menjadi sinis dan puas," ucap Synolakis.

Seperti diketahui, Setelah gempa bumi 2004 dan tsunami yang menewaskan sekitar 228.000 warga di sekitar Samudera Hindia, pusat peringatan tsunami regional didirikan di Indonesia, India, dan Australia.

Pusat-pusat ini menggunakan serangkaian sensor seismik yang ditempatkan di dasar laut dan pada pelampung yang mengambang agar dapat menyampaikan informasi dengan menggunakan satelit.

Saat gempa Mentawai Rabu malam kemarin, pihak berwenang memang mengeluarkan peringatan tsunami, tetapi perlu waktu untuk memperoleh data yang diperlukan untuk membatalkan secara cepat peringatan tersebut.

Namun setelah menunggu hampir tiga jam, baru didapat kepastian bahwa gelombang besar tsunami tidak terbentuk.

Menurut Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia. Sutopo Purwo Nugroho, 22 pelampung peringatan tsunami yang ada di dekat pusat gempa yang dioperasikan oleh Indonesia perlu diperbaiki.

"Sementara 5 pelampung yang dioperasikan oleh India, Thailand, Amerika Serikat, dan Australia, masih berfungsi, walau lokasi peletakkan pelampung itu amat jauh dari lepas pantai Sumatera," kata Sutopo.

Sementara itu Juru Bicara Kementerian Koordinator Kemaritiman yang bekerja sebagai manajer proyek pada sistem pelampung peringatan 2007-2011, Djoko Hartoyo, mengatakan rusaknya pelampung peringatan tsunami itu akibat "vandalisme".

Djoko menjelaskan bahwa nelayan telah merusak pelampung dengan mencabut antena sehingga pelampung-pelampung itu mengalami kegagalan dalam mengirim data ke pusat peringatan tsunami utama di Jakarta.

Selain vandalisme, hal lain yang jadi perhatian utama adalah kurangnya pemeliharaan. "Indonesia telah berusaha untuk memperbaiki pelampung rusak tetapi tidak memiliki anggaran untuk melakukannya," kata Djoko.​


Sumber : Koran Jakarta, edisi 5 Maret 2016. Hal: 1

Sivitas Terkait : Dr. Eko Yulianto
Diakses : 1256    Dibagikan :