ADA RUANG BAWAH TANAH DI TAHURA

 
 
Peneliti dari Lab Earth-Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang dipimpin oleh Dannny Hilman Natawidjaja menemukan adanya indikasi tubuh gua atau ruang bawah tanah yang besar di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Hal itu terungkap setelah peneliti melakukan eksperimen uji alat geo-listrik di atas tiga Gua Jepang pada 2012 sebagai perbandingan respons alat dengan eksperimen serupa di Gunung Padang Cianjur. Uji coba tersebut membuktikan bahwa peralatan geolistrik "Multichannel Resistivity Supersting R8" dari American Geophisical Instrument itu mampu memetakan keberadaan gua yang berada di bawah permukaan area survei.

Saat itu, hasil citra bawah permukaan memperlihatkan empat gua. Satu di antaranya menjadi kejutan. Pasalnya, hanya tiga gua yang nyata dapat dilihat langsung. Sementara itu, satu gua yang juga terekam hasil pencitraan posisinya sejajar dengan tiga gua yang sudah terbuka. Statusnya masih tertutup, tersembunyi dalam tanah yang disinyalir lembap atau sudah banyak terisi tanah.

Indikasi tubuh gua tersebut diduga terkoneksi dengan Gua Jepang yang saat ini terbuka. Gua tersembunyi itu disinyalir merupakan ruang utama gua sebagai tempat penyimpanan logistik penjajah Jepang atau bahkan peradaban sebelum Tahura dijadikan tempat persembunyian penjajah.

Empat tahun kemudian, peneliti kembali melakukan peninjauan ulang ke lokasi Gua Jepang Tahura, Rabu, (18/5/2016), bersama unsur Balai Pengelolaan Tahura, warga, dan LSM lingkungan. Selain mencocokkan hasil pencitraan di permukaan Gua Jepang tersebut, terdapat fakta menarik yaitu dua gua anonim yang sudah terbuka tetapi kondisinya sebagian besar sudah tertimbun. Hanya bagian pintu guanya yang masih terbuka dan bisa dilihat dari luar.

Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, terkait dugaan gua yang tertangkap dalam pencitraan alat geolistrik tersebut, mereka menyebutnya sebagai anomali. Di luar itu, pihaknya menemukan anomali yang mengindikasikan kemungkinan ada ruang bawah tanah lain yang belum diketahui.

Belum lagi, kata dia, dalam tinjauan lokasi gua di permukaan Tahura kemarin, terdapat dua gua yang tertimbun sebagian. Terkait luas timbunan atau barang-barang berharga yang diduga tertimbun hingga saat ini belum dipetakan secara detail.
"Dua gua yang tertimbun tersebut berdekatan dengan anomali di ruang bawah tanah yang kemungkinan besar berada di tengah perbukitan ini. Ini menarik untuk diteliti lebih lanjut," ujar Hilman yang ditemui di Tahura, seusai meninjau gua.

Menurut dia, kemungkinan terdapat gua lain yang bisa ditemukan di luar hasil pencitraan alat geolistrik tersebut Akan tetapi, dari cerita penduduk lokal yang memiliki kakek yang mengalami penjajahan Jepang, menyatakan terdapat gua lain yang tidak terlihat dan tertimbun. Hal itu harus dibuktikan.

Undang peneliti

Kepala Balai Pengelolaan Tahura, Iianda Lubis mengatakan, peninjauan ulang lokasi yang diduga terdapat gua lain di Gua Jepang tersebut telah dibahas sejak dua pekan lalu. Pihak Tahura mengundang beberapa peneliti yang akhirnya direspons baik oleh Danny.

Yang kedua, adanya dugaan gua yang tertimbun di Tahura ini terdapat kemiripan dengan cerita masyarakat Tahura yang menyatakan ada gua yang tertimbun yang ternyata cocok dengan hasil pencitraan alat geolistrik tersebut. "Saya pikir kenapa tidak direalisasikan (untuk dibuktikan)," kata Lianda.

Dari hasil pemantauan langsung ke lapangan, kata Lianda, terdapat indikasi gua di bawah Kantor Balai Tahura. Di kawasan lainnya yang juga terdapat rongga di bawah tanah yang tidak terpetakan. Ia mengakui, harus dilakukan riset secepat mungkin, ek-plorasi, dan menggali sampai sejauh mana kebenarannya.

"Ini penemuan luar biasa dan harus direalisasikan. Kami akan teliti sejauh mana ruang bawah tanah di bawah plasa ini yang ada indikasi ruang yang lebih besar. Kami akan susun riset anggaran. Kalau bisa tahun ini bisa dianggarkan di perubahan atau anggaran berikutnya," tutur dia.

Menurut Lianda, rencana meneliti keberadaan ruang bawah tanah tersebut disambut positif oleh Dinas Kehutanan maupun Gubernur Jabar yang mendorong agar segera dieksplorasi. "Jika semuanya berjalan lancar, tentunya destinasi wisata di Tahura ini akan bertambah dan sekaligus akan menjadi tempat penelitian," ujarnya. (Novianti Nurulliah)***

Sumber : Pikiran Rakyat, edisi 19 Mei 2016. Hal: 4

Sivitas Terkait : Dr. Danny Hilman Natawidjaja M.Sc.
Diakses : 1860    Dibagikan :