Agar Singkong tak Mudah Busuk Pascapanen

 
 
Singkong merupakan sumber makanan dan sumber bahan baku industry, bahkan energi potensial. Tapi, selama ini tanaman dengan umbi memanjang besar dan kecil ini selalu mudah membusuk, sehingga risiko kehilangan pascapanen cukup tinggi.

''Karena itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggandeng Pemerintah Swiss melakukan kerja sama penelitian dalam penanganan masalah singkong atau ubi kayu pascapanen,'' ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati di sela diskusi tentang singkong di Cibinong Science Center Kabupaten Bogor, Kamis (21/7).

Eny menuturkan, Pemerintah Swiss melalui ETH Zurich, yakni perguruan tinggi berbasis teknologi ternama di Swiss, tertarik untuk bekerja sama melakukan penelitian untuk mengatasi masalah pascapanen singkong di Indonesia. Kerja sama mengenai singkong merupakan yang pertama kali. 

Swiss, sambung Enny, menawarkan teknologi (bioteknologi) yang dapat memutus percepatan pembusukan singkong sehingga memiliki daya tahan lebih lama dari biasanya. ''Kerja sama LIPI dan Swiss sudah dimulai 2011, tapi khusus tentang singkong baru yang pertama kalinya,'' katanya.

Menurut Enny, tingkat produksi singkong saat ini terus meningkat. Indonesia berada pada urutan terbesar ketiga di dunia penghasil singkong setelah Nigeria dan Thailand. ''Data statistik FAO 2013, Indonesia diperkirakan berpotensi lebih besar dari Thailand menjadi produsen singkong,'' jelasnya.
    
Enny menyebutkan, tingginya kerusakan singkong pascapanen merupakan akibat dari rendahnya daya tahan akar terhadap kerusakan setelah tanaman dicabut dari tanah. Kerusakan fisiologi atau post-harvest physiological deterioration (PPD) terjadi di Nigeria sebagai produsen singkong terbesar dunia. Sebanyak 40 persen singkong pascapanen Nigeria telah hilang akibat pembusukan PPD. ''LIPI dan ETH Zurich bekerja sama mendeteksi PPD pada singkong yang tujuannya untuk menemukan solusi menghambat PPD pada singkong pascapanen,'' ucapnya.

Enny merupakan wanita Indonesia pertama yang memperoleh gelar guru besar LIPI ketika pada 21 Mei 2010 lembaga itu memberikan anugerah tersebut kepada tiga peneliti mereka. Orasi berjudul ''Pendekatan Genetika Molekuler untuk Mengatasi Masalah Pertanian dan Kehutanan'' yang disampaikannya kala itu mengundang kekaguman hadirin. Wanita kelahiran Jember, Jawa Timur, 12 September 1962, ini pantas mendapatkan perhatian istimewa karena apa yang dilakukannya bagi negeri ini, khususnya di bidang bioteknologi, amat bermakna. 

Enny rajin mengerjakan penelitian untuk menghasilkan singkong alias ubi kayu transgenik yang bermanfaat sebagai bahan makanan manusia dan juga bagi industri. Memang, selama ini singkong dikenal rendah gizi. Tapi, bila mampu merekayasanya sehingga mempunyai kandungan nutrisi lebih lengkap, tentu masyarakat yang mengonsumsinya bisa terjaga asupan gizinya. Sedangkan, bagi dunia industri, bila dapat menghasilkan singkong beramilosa tinggi akan lebih efisien untuk dijadikan bahan pembuatan etanol.  

Duta Besar Swiss untuk Indonesia Yvonne Baumann mengatakan, Indonesia termasuk negara produsen singkong besar di dunia. Pihaknya tertarik untuk bekerja sama agar permasalahan singkong pascapanen dapat diatasi. ''Swiss berperan mendorong ketahanan pangan dunia. Mewujudkan target The Sustainable Development Goals (SDGs). Kami tertarik membantu pengembangan singkong, sehingga dapat mengatasi masalah kelaparan di dunia,'' jelasnya.
    
Menurut Yvonne, banyak negara-negara miskin, seperti di Benua Afrika mengalami kelaparan. Mereka termasuk negara yang mengonsumsi singkong. ''Dengan mendorong perkembangan produksi singkong serta teknologi pascapanen, kita dapat mewujudkan ketahanan pangan dunia,'' katanya.
    
Yvonne menambahkan, kerja sama penelitian dengan Indonesia diharapkan dapat dikembangkan. Hasil penelitian pun bisa disebarluaskan ke negara lain, sehingga ketahanan pangan dunia dapat terwujud.

LIPI mengadakan diskusi ''Pengelolaan Pascapanen Ubi Kayu di Indonesia'' dengan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya, Ketua Umum Masyarakat Singkog Indonesia Pusat Suharyo Husen, Sholihin dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi Malang, Ima M Zainuddin dari LIPI-ETH Zurich, Franky Djunaidy dari PT Indonesia Ethanol Industri Lampung, Ahmad Subagio penemu Mocaf Universitas Jember, dan Endang Y Purwani dari Balitbang Pascapanen Pertanian Bogor.   antara, ed: Endro Yuwanto

Sumber : Republika.co.id, 22 Juli 2016

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati