Ancaman Kepunahan Merebak Masif

 
 
BANDA ACEH, Kompas – Ancaman kepunahan terhadap bahasa daerah berlangsung secara masif di sejumlah wilayah Tanah Air. Di Aceh, 11 dari 13 bahasa lokal terancam punah karena penuturnya terus menyusut. Fenomena serupa melanda bahasa Kaili, Sulawesi Tengah.
 
Ketua Kongres Peradaban Aceh Ahmad Farhan Hamid, Senin (5/9), mengatakan, ada 13 bahasa lokal di Aceh, yakni bahasa Aceh pesisir, Gayo, Tamiang, Alas, Aneuk James, Singkil, Sigulai, Devayan, Kluet, Haloban, Pakpak, Nias, dan Lekon. Saat ini, hanya bahasa Aceh pesisir dan Gayo yang dalam kondisi aman karena penuturannya masih lebih dari 500.000 orang, yakni bahasa Aceh pesisir dituturkan oleh kurang lebih 3 juta orang dan Gayo sekitar 500.000 orang.
 
Namun, 11 bahasa lain kondisinya terancam . Sebanyak lima bahasa terancam punah karena penuturnya kurang dari 50.000 orang, yakni bahasa Tamiang, Alas, Aneuk Jamee,Singkil, dan Sigulai. Bahkan, enam bahasa amat terancam punah karena penuturnya di bawah 10.000 orang, yakni bahasa Devayan, Kluet, Haloban, Pakpak, Nias, dan Lekon.
 
“Kini, jumlah penutur bahasa itu terus berkurang yang membuat bahasa-bahasa itu kian berada diambang kepunahan,” ujarnya.
 
Farhan mengatakan, terus berkurangnya penutur bahasa-bahasa tersebut karena sejumlah faktor, antara lain, migrasi, pernikahan silang, dan konflik. Hal itu menyebabkan intervensi bahasa luar, seperti bahasa Aceh pesisir dan Indonesia, menjadi lebih dominan di daerah yang memiliki bahasa asli. “Kesadaran masyarakat untuk menggunakan bahasa aslinya pun sudah kian luntur, termasuk di dalam lingkungan keluarga,” ucapnya.
 
Di sisi lain, Farhan mengutarakan, pemerintah cenderung abai untuk merawat dan memopulerkan kembali bahasa-bahasa yang terancam itu. Selama ini, di sekolah-sekolah hanya ada pelajaran muatan lokal bahasa Aceh pesisir. Pemerintah pun hanya peduli untuk mengkaji dan mendokumentasikan bahasa Aceh pesisir. Contohnya, dengan menyusun kamus bahasa Aceh pesisir. “Hal-hal itu tidak pernah dilakukan pemerintah terhadap bahasa-bahasa lain yang statusnya terancam itu,” katanya.
 
Harus diselamatkan
 
Kepala Pusat Studi Bahasa Daerah Aceh, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Mohammad Harun menyampaikan, kondisi itu tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Aceh perlu menginstruksikan sekolah-sekolah di Aceh untuk memuat pendidikan bahasa lokal daerah setempat. Pemerintah pun wajib mencetak guru-guru bahasa lokal yang terancam itu.
 
Peneliti Bidang Ekologi Manusia pada Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Fadjri Alihar mengatakan, pemerintah pun harus merangsang masyarakat kembali terbiasa menggunakan bahasa aslinya. Hal itu bisa dilakukan dengan mewajibkan semua pegawai di lembaga pemerintahan menggunakan bahasa asli selama satu hari penuh dari enam hari waktu kerja. Cara lain, perlu digalakkan lomba penggunaan bahasa asli, seperti lomba pidato ataupun menulis dengan bahasa asli.
 
Bahasa Kaili
 
Empat dari 21 dialek bahasa Kaili, bahasa yang dipakai suku Kaili, suku terbanyak di Sulawesi Tengah, diduga terancam punah. Pemerintah dinilai tidak peduli pada pelestarian bahasa daerah yang pada hakikatnya menyimpan pesan dan kekayaan budaya lokal.
 
Hal itu disampaikan sastrawan sekaligus peneliti bahasa Kaili,Tjatjo TS AL Idrus, di Sigi, Kabupaten Sigi, Sulteng, Senin. Menurut dia, keempat dialek bahasa Kaili yang terancam punah tersebut adalah dialek Ende yang digunakan masyarakat di pegunungan Kabupaten Sigi, Taje (Parigi Mountong), Kori,dan Jedu (Donggala).
 
“Bahkan, besar kemungkinan dialek Ende sudah punah. Pada 1978, jumlah penuturnya tinggal empat keluarga,” ujar Tjatjo. Penutur tiga dialek lainnya tersisa paling banyak 20 keluarga.
 
Dialek lain dalam bahasa Kaili, antara lain, Da’a Rai, dan Ledo. Tiga dialek tersebut memiliki penutur yang banyak.
 
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng Adriansyah Lamasitudju menanggapi, seharusnya penutur dialek itu menggunakan bahasa Kaili di lingkup lokal dalam pergaulan sehari-hari, baik di rumah maupun kampung. Dengan penggunaan harian, bahasa terlestarikan. Itu juga bertujuan untuk memperkenalkan dialek tersebut kepada orang lain dari dialek berbeda dan bahasa lain. (DRI/VDL)

Sumber : Kompas, edisi 6 September 2016. Hal: 11

Sivitas Terkait : Dr. Fadjri Alihar MS.
Diakses : 340    Dibagikan :