Anggota dewan jajal kapal riset LIPI

 
 
Jakarta (ANTARA News) - Beberapa anggota Komisi VII DPR menjajal kapal riset Baruna Jaya VIII milik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk menjelajahi perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Minggu.

Anggota dewan ikut mencoba kapal riset LIPI antara lain Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu, Wakil Ketua Komisi VII Tamsil Linrum, serta anggota Komisi VII DPR Aryo P S Djojohadikusumo, S W Yudha, Peggy Patricia Pattipi, Zulkieflimansyah, Joko Purwanto, dan Kurtubi.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Science Briefing for Parliament yang dimulai sejak 2015 yang ditujukan untuk menyebarluaskan hasil penelitian LIPI kepada anggota dewan.

Anggota dewan, ia menjelaskan, juga bisa melihat langsung aktivitas penelitian kelautan, serta kelengkapan dan fungsi teknologi riset kelautan yang ada di dalam atau melekat pada kapal riset berusia 18 tahun buatan Norwegia tersebut

Indonesia, menurut dia, memiliki total 11 kapal riset yang dioperasikan beberapa Kementerian/Lembaga, namun hanya enam saja yang benar-benar dapat beroperasi dan berfungsi baik untuk keperluan penelitian di lautan.

Kapal riset Baruna Jaya VIII dilengkapi dengan beberapa sensor yang melekat langsung pada kapal maupun yang tidak, dengan berbagai macam fungsi seperti mengetahui kedalaman, kontur dasar laut, suhu, arus, dan tingkat keasaman air laut.

Dan semua sensor yang sensitif tersebut hanya mampu menghasilkan data yang akurat jika kapal tidak terlalu terguncang hebat saat terkena gelombang, kata Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah.

"Bisa dirasakan sendiri kan, kapal ini lebih stabil tidak terlalu bergoyang hebat saat terkena gelombang. Usianya sudah 18, tapi masih sangat terawat dibandingkan dengan kapal riset seangkatannya," ujar dia.

Ia menambahkan LIPI juga memiliki kapal riset Baruna Jaya VII buatan PT PAL yang saat ini sandar di Ambon, Maluku. Namun kapal tersebut kurang mumpuni untuk mengambil data kelautan, terlebih di laut dalam.

Sumber : Antaranews.com, 24 April 2016

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain