BANGSA SENDIRI BELUM HARGAI RISET

 
 
Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai riset dan pengembangan hasil riset peneliti Indonesia belum dihargai bangsa sendiri. Hal itu terbukti dari kecilnya anggaran pemerintah dan swasta untuk mengapresiasi penelitian anak negeri.

"Hasilnya, penelitian yang strategis itu dibeli oleh negara lain," katanya ketika menjadi pembicara utama dalam pelaksanaan wisuda ke-85 Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ahad (3/4).

Ia mengatakan, dana riset dan pengembangan di Indonesia belum sampai satu persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang membutuhkan dana sekitar Rp 110 triliun. Sebabnya, dana riset di Indonesia hanya mencapai 0,08 persen.

Khofifah mengatakan, penghargaan terhadap hasil riset tidak hanya mengandalkan dana APBN, tetapi juga dibutuhkan peran serta sektor swasta. Di Cina, Malaysia, maupun beberapa negara lain mewajibkan sektor swasta menyediakan anggaran tertentu untuk penguatan penelitian.

Khofifah menjelaskan, pemerintah masih terus mendorong sektor swasta. Sebabnya, mereka bisa memberikan perbaikan dari seluruh produk ketika berkompetisi di lini mana pun. Kondisi ini berbeda jauh dari capaian Pemerintah Malaysia yang sudah mengalokasikan dana riset sebesar lima persen dari PDB. Dana tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah, tapi juga dari banyak perusahaan.

Menurut dia, sekitar 16 tahun lalu, Cina sudah mencapai 10 persen pendapatan dari produk hasil penelitian dan pengembangan anak negerinya. Khofifah mengaku sering menemukan banyak elemen bangsa ini belum siap berkompetisi. Ketika produk penelitian ditawarkan ke instansi, tidak ada respons.

Ia mengungkapkan, produk riset itu akhirnya dibeli luar negeri karena penghargaan Indonesia pada keilmuan, sains mumi, maupun terapan masih belum ada. Riset belum menjadi referensi berbagai kebijakan. Seluruh kementerian, lembaga, sektor swasta, harus didorong untuk memberi apresiasi terhadap produk keilmuan.

Dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ia menuturkan, jarang sekali menyebut Trans Pacific Partnership Agree-ment (TPPA). Padahal, hal itu lebih luas lagi dibandingkan dengan MEA. Indonesia harus berpikir bagaimana menjadi bagian penguatan dari seluruh proses interaksi yang tidak hanya melingkupi ASEAN.

Bermanfaat

Profesor Riset Bidang Mikrobiologi LIPI Endang Sukara mengatakan, penelitian strategis jangan pernah memisahkan antara penelitian dasar dan terapan. Penelitian harus dilakukan sangat mendalam dan mendasar serta harus juga bermanfaat

Pada hakikatnya, penelitian dasar tidak bisa dipisahkan dari penelitian terapan. Yang harus dikerjakan seorang peneliti, menurut dia, harus dapat membuat penelitian sangat mendasar, tapi bisa diterapkan.

Menurut Komite Etik Peneliti LIPI ini, penelitian seperti itu yang sebenarnya baru bisa disebut sebagai penelitian strategis. "Kalau di Indonesia banyak yang memisahkan antara penelitian dasar dan terapan. Itu tidak bisa karena dalam penelitian terapan itu juga diawali dengan sesuatu yang sangat mendasar," ujar dia.

Ia mencontohkan, pemikiran mendasar yang sangat tajam adalah bagaimana pembakaran pada mesin kendaraan yang bisa sangat efisien. Kemudian, dikembangkan dengan melakukan penelitian terapan membelah busi. Hal ini mampu membuat efisiensi dalam pembakaran yang berujung pada efisiensi penggunaan bahan bakar minyak.

"Penelitian dalam dan mendasar dilakukan terlebih dulu, dan diketahui berguna. Kalau hasilnya ini digunakan oleh industri di Indonesia, tentu sangat bermanfaat," ujar dia.

Penelitian semacam itu, menurut dia, yang strategis, tidak memisahkan hal dasar dengan terapan, tetapi menghasilkan sesuatu yang sangat mahal karena bermanfaat. antara d: erdy nasrul

Sumber : Republika, edisi 5 April 2016. Hal: 5

Diakses : 555    Dibagikan :