Bioplastik Sawit Pengganti Plastik Konvensional

 
 

Tim peneliti dari Pusat penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan bioplastik. Seperti apa proses kimiawi pengembangan bioplastik dari tandan kosong sawit ini?

Bioplastik ini dikembangkan dari limbah tandan kosong kelapa sawit yang mudah terdegradasi. Ke depan, keberadaan bioplastik dari tandan kosong kelapa sawit ini, dapat menjadi alternatif plastik konvensional. Meskipun masih terkendal dengan harga yang relatif lebih mahal.

Meski konsumsi plastik Indonesia relatif lebih kecil dibanding sejumlah negara tetangga seperti Malaysia ataupun Singapura. Namun, Indonesia menjadi penyumbang terbesar limbah sampah yang dibuat ke lautan. Konsumsi plastik Indonesia per kapita mencapai 17 kg per tahun. Sementara Singapura 50 Kg dan Malaysia 35 kg.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan plastik sangat membantu kehidupan manusia saat ini. Plastik dinilai jauh lebih praktis, karena sifatnya yang ringan, awet, dan murah jika dibandingkan dengan kayu ataupun logam. Meskipun dengan semua kepraktisannya, plastik menyisakan persoalan tersendiri terkait dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari kemampuan plastik yang bertahan cukup lama. Bahkan hingga ratusan tahun.

Secara umum, plastik terdiri dari komponen berupa biji plastik, plasticizer, stabilizer, filler dan sejumlah bahan-bahan lainnya. Beragam penelitian saat ini bayak dikembangkan teknologi plastik yang lebih ramah lingkungan. Yakni plastik yang mudah terdegradasi secara alamiah dan berasal dari bahan-bahan terbarukan. Salah satunya adalah tandan kosong kelapa sawit yang dikembangkan LIPI melalui penelitian di Pusat Penelitian Kimia LIPI.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah lignoselulosa yang belum dimanfaatkan secara optimal. Selama ini, pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan boiler, kompos maupun pengeras jalan di perkebunan. Kadar selulosa tandan kosong kelapa sawit juga cukup tinggi sehingga berpotensi untuk dikonversi menjadi berbagai macam porduk.

“Salah satu senyawa kimia yang dapat dihasilkan dari selulosa TKKS adalah asam laktat. Asam laktat merupakan bahan baku utama dalam pembuatan polimer biodegradable berupa poliasam Laktat (PLA),” kata Agus Haryono, kepala pusat penelitian Kimia LIPI pekan lalu. LIPI menggandeng kerjasama dengan perguruan tinggi dari Jepang dalam mengambangkan proyek riset ini.

Berdasarkan riset sebelumnya, tanda kosong kelapa sawit setidaknya mengandung 45 persen selulosa. Jika perton tanda kelapa sawit menghasilkan 22-25 persen tanda kosong kelapa sawit, maka potensi ketersedian limbah lignoseslulosa cukup tinggi. PLA merupakan polimer yang serbaguna, biodegradable, alifatik poliester yang berasal dari 100 persen sumber daya terbarukan.

PLA dapat dijadikan alterntif pengganti polimer konvensional seperti polyethylene (PE), polypropylene (PP) maupun polythylene tetephthalate (PET) maupun polystyrene (PS). Sementara PLA sediri diperoleh dari asam laktat dapat berasal dari gula, gliserin sisa biodisel ataupun selulosa. Termasuk dari tandan kosong kelapa sawit yang kaya dengan selulosa.

“Tandan kosong kelapa sawit tinggi selulosa dan hemiselulosa, sehingga berpotensi besar sebagai sumber glukosa yang kemudian dikonversikan menjadi asam laktat melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kemudian asam laktat ini dipolemirisasi menjadi PLA,” tambah Agus.

Sebagai langkah awal, peneliti melakukan pengeringan tandan kosong kelapa sawit dengan sinar matahari kemudian tandak kosong kelapa sawit kering ini dicincang dalam ukuran yang sangat kecilkecil. Tandan kosong kelapa sawit yang telah dicincang halus ini kemudian dihancurkan kemudian siap difermentasi setelah melalui tahap hidrolisa. Fermentasi dilakukan dengan menjaga PH dalam tingkat tertentu, sebelum ahirnya dilakukan pemurnian asam laktat.

Meskipun ketersedian tandan kosong kelapa sawit sebagai limbah cukup melimpah. Namun pengembangan platik berbasis PLA dari tandan kosong kelapa sawit masih memenuhi sejumlah kendala. Terutama terkait dengan alur proses yang harus dilakukan. Sehingga jika dikembangkan dalam sekala industri, produk plastik dari tandan kosong kelapa sawit ini harganya jauh lebih mahal dari harga plastik konvensional. “Bisa delapan kali lipat dari harga plastik konvensional,” tambah Agus.

Meski demikian, plastik berbasis PLA dari limbah tandan kosong kelapa sawit ini tidak kalah kualitasnya dari plastik konvensional. Selain itu, plastik dari limbah tandan kosong kelapa sawit ini juga memiliki kemampuan terdegradasi secara alami.  nik/E-6

**********

Agar Plastik Cepat Terurai di Alam


 

plastik-biodegradable-hitam

Bioplastik merupakan plastik atau polimer yang secara alamiah dapat dengan mudah terdegradasi baik melalui serangkaian mikroorganisme maupun oleh cuaca (kelembaban dan radiasi sinar matahari). Bioplastik dapat dilihat dari bahan plastik yang digunakan maupun dari bahan tambahan yang dipakai. Yakni bahan terbarukan yang memungkinkan plastik terdegradasi dengan baik.

Persoalan mendasar dari plastik adalah kemampuan plastik yang sanggup bertahan lama di alam sehingga berdampak pada lingkungan. Beberapa jenis plastik konvensional bahkan ada yang mampu bertahan hingga ratusan tahun di lingkungan.

Secara umum, bahan baku bioplastik terbuat dari sumber biomassa seperti minyak nabati amilum jagung, klobot jagung maupun dari mikrobiota. Indonesia sendiri cukup kaya akan bahan baku bioplastik.

Agus Haryono kepala pusat penelitian Kimia LIPI menjelaskan, bioplastik terdiri dari dua. Yakni bio based serta additive based. Bio based di mana karbon pada plastik ini dibuat dari bahan terbarukan seperti gula pati maupun minyak nabati. Sementara additive based dimana karbon pada plastik ini terbuat dari minyak bumi tetapi mengandung bahan yang memicu degradasi. ”Bioplastik tidak harus biodegradable ataupun compostable,” kata Agus.

Biodegradble artinya material akan terpotong potong dan dikonsumsi oleh mikroorganisme bakteri atau jamur dalam waktu tertentu. Dalam beberapa jenis kasus, jangka waktunya sendiri bisa ditentukan dengan penambahan senyawa tambahan. Sebulan, dua bulan atau setahun, misalnya.

LIPI sendiri telah mengembangkan bioplastik dari sejumlah bahan. Baik yang sifatnya 100 persen bio based maupun addictive based. Salah satunya adalah plastik yang terbuat dari singkong.

Sayangnya, kendala terbesar dari bioplastik adalah harga. Dari sisi ekonomis, bioplastik jauh lebih mahal dari plastik konvensional. “Tapi sangat mungkin untuk dikembangkan,” tambah Agus.  nik/E-6


Sumber : Koran Jakarta, 8 Maret 2016

Diakses : 6207    Dibagikan :