DARI "GENERASI TEMPE" HINGGA PELENGKUNGAN KAYU

 
 
Pembangunan terkait erat relasi kita dengan alam. Bahan bangunan biasanya diambil dari alam, lantas diolah dengan berbagai proses. Konsekuensinya, bahan baku terus berkurang dan proses produksi bisa saja perlahan-lahan justru merusak alam. Segelintir orang bergerak untuk memenuhi kebutuhan material dengan cara yang lebih bersahabat.

Mungkin anak-anak muda ini memang bisa diberi julukan "generasi tempe". Tempe telah benar-benar menginspirasi mereka, para penggagas Mycotech, untuk membuat material dengan cara baru. Berkolaborasi dengan BBPT, mereka menggunakan limbah pertanian seperti ketandan kosong kelapa sawit, serbuk kayu, limbah tapioka, atau sekam padi untuk membuat material multifungsi. Ini bisa diaplikasikan sebagai material bangunan nonstruktural seperti batu bala dan panel, bahan furnitur, bahkan dasbor mobil atau casing ponsel.

"Konsep pembuatannya seperti tempe, dengan menumbuhkan jamur di atas bahan yang kami ambil dari limbah pertanian. Kami menggunakan jamur tiram yang miseliumnya lebih tebal sehingga bisa merekatkan material dengan lebih kuai. Jamur sebagai bahan pengikat potensial untuk menggantikan resin yang biasanya nonorganik," ujar CEO Mycotech Adi Reza Nugroho, Kamis (10/3).

Prinsip dasarnya, semua bahan dicampur menjadi satu, kemudian jamur ditumbuhkan di bahan-bahan tersebut. Setelah jadi panel-panel, proses berikutnya adalah pengeringan, air dikeluarkan dan panel disterilisasi. Setelah itu, Mycotech dapat dibentuk dan digunakan sesuai keinginan. Yang menarik, proses ini tidak menggunakan energi berlebih. Tidak seperti bata dari tanah liat yang butuh dibakar dalam suhu tinggi, pengeringan Mycotech hanya memerlukan suhu sekitar 90 derajat celsius dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Kelebihan yang lain, material ini juga ringan, kuat, dan tahan api. Dalam sebuah tes yang membandingkan kekuatan Mycotech dengan batu bata, kedua material ini sama-sama dijatuhkan dari ketinggian sekitar 1,5 meter. Ketika menghantam lantai, batu bata patah dan Mycotech tetap utuh. "Mycotech juga tahan api fire proof-nya kelas A," lambah Adi.

Saat ini, dalam 1 bulan, Mycotech mengolah sekitar 550 kilogram limbah menjadi seribu panel berukuran 12 x 12 sentimeter. Salah satu masjid di kawasan Depok, Jawa Barat, sudah menggunakannya1 sebagai panel dekoratif. "Kami ingin mengubah paradigma pembuatan material bangunan, fram mining to harvesting" ujar Adi.

Pembuatan material dari limbah biomassa juga dilakukan Prof Subyakto dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI. Ia menciptakan papan partikel dari ketandan kosong kelapa sawit. Indonesia punya banyak sekali ketandan kosong. Dalam 1 tahun, ada 4,6 ton ketandan kosong dari setiap 1 hektare kebun kelapa sawit. "Ketandan kosong berpotensi besar untuk diolah' dan ditambah nilai jualnya," tutur Subyakto, Jumat (11/3).

Untuk menjadikan ketandan ini papan partikel, proses singkatnya ketandan terlebih dahulu dijadikan serai kasar, direbus, kemudian dihancurkan menjadi serat siap pakai. Setelah itu, serat dikeringkan sampai kadar airnya mencapai hanya lima persen, lalu dicampur dengan perekat. Serat itu lantas dicetak dan dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan.

"Warna papan partikel dari ketandan kosong kelapa sawit cenderung lebih tua. Jika ingin menjadikannya furnitur, sebaiknya dilaminasi terlebih dahulu," jelas Subyakto.

Saat ini, hasil penelitian Subyakto memang belum diproduksi Secara massal. Kebanyakan industri terkendala proses distribusi dari gudang pabrik kelapa sawit ke pabrik pembuatan papan. Jika pabrik minyak kelapa sawit sekaligus mengolah papan ketandan ini, prosesnya tentu bisa lebih efisien.

Pelengkungan kayu

Inovasi lain datang dari Dr Wahyu Dwianto yang juga bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Biomaterial LIPI. Ia menemukan teknologi sederhana untuk melengkungkan kayu dengan mengurangi kerapatan partikelnya. Selama ini, untuk furnitur atau kusen dengan langgam lengkung, para perajin sekadar memotong kayu dan menyambungnya. Melengkung-kannya langsung akan banyak menghemat bahan baku karena tidak ada bagian yang terbuang.

"Kayu punya sifat viskoelastis. Memang keras, tetapi bisa dilunakkan dengan merekayasa dinding-dinding selnya," ujar Wahyu. Prinsip dasar pelengkungan kayu adalah memanaskannya sehingga dinding-dinding sel kayu melunaki Ketika sudah cukup lunak, kayu lebih mudah dilengkungkan.

Selain kayu, teknologi pelengkungan ini juga diterapkan pada laniinated veneer lumber (I,VL), olahan yang terdiri atas hasil perekatan beberapa lapisan tipis kayu. Perekatnya pun menggunakan perekat lateks yang rendah emisi. Metodenya lebih sederhana, menggunakan alat pres vang dibuat sesuai bentuk yang diinginkan.

"LVL lebih mudah diaplikasikan oleh para perajin karena tidak butuh Z investasi besar," terang Wahyu.

Beberapa waktu lalu, LIPI mengadakan pelatihan pelengkungan LVL untuk para perajin kayu di Sumedang. Para perajin itu kini sudah bisa membuat produk yang lebih beragam dan menjualnya.

Penemuan teknologi baru merupakah peluang yang luar biasa untuk membuat kita lebih bijak menggunakan sumber daya alam. Untuk kualitas hidup yang lebih baik dan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Sumber : Kompas, edisi 17 Maret 2016. Hal: 24

Diakses : 1642    Dibagikan :