Dr. Akmadi Abbas, Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI): Dorong Lahirnya Peneliti Muda

 
 
Jumlah peneliti di Indonesia masih minim. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai representasi peneliti Indonesia mengaku kekurangan jumlah peneliti di lembaganya. Dukungan pendanaan untuk penelitian juga dianggap belum menggembirakan. Namun, semangat untuk melahirkan peneliti tak turut padam. Berbagai program diadakan untuk melahirkan peneliti muda. Masa depan peneliti di Indonesia juga cukup cerah. Sinergi dengan dunia industri yang selama ini dipandang jauh terpaut mulai merekat. Kompleksitas dunia penelitian itulah yang diungkapkan Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Akmadi Abbas kepada wartawan Republika, Umi Nur Fadhilah, beberapa waktu lalu. Berikut kutipan wawancaranya.

Bagaimana kondisi peneliti di Indonesia?

Upaya untuk mengembangkan jumlah peneliti sesuatu yang sangat serius. Karena, dengan kondisi sekarang ini, jumlah peneliti yang pensiun juga cukup banyak. Untuk 2017, 2018 kita agak khawatir. Tetapi, bagaimanapun, upaya tetap kita lakukan. Pertama, rekrutmen 2016. Walaupun sudah dijanjikan kami dapatkan 200 dari 300 yang diajukan, sekarang pun belum ada informasi yang jelas. Karena, pada 2015, kita tak dapat peneliti. Untuk 2017, kita berupaya karena dalam konteks rekrutmen ini, kami sangat selektif. Apa yang kita minta, ada sesuatu yang signifikan, yaitu pada bidang kepakaran yang saat ini sangat kurang dan sudah langka. Itulah yang diupayakan oleh LIPI supaya bisa mendapatkan yang 200 itu.

Bagaimana menumbuhkan jumlah peneliti di Indonesia?

Sebenarnya, kalau melihat secara total, tidak hanya peneliti, pendukung pun kami butuh, tapi apa boleh buat. Namun, yang lain, barang kali menimbulkan minat dalam masyarakat. Kami mengupayakan, khususnya ada yang namanya lembaga karya ilmiah remaja. Itu menggerakkan remaja-remaja, mari kita meneliti lah. Mudah-mudahan mereka mau menjadi peneliti. Karena, pada kenyataannya, mereka-mereka yang mau menjadi juara lomba karya ilmiah remaja (LKIR) ternyata jadi peneliti andal. Ini yang coba kita dorong.

Dan, hal yang lain, beberapa waktu lalu kita memberikan yang namanya perkemahan ilmiah remaja. Kemarin, kita lokasikan di Bengkulu. Alhamdulillah, minat mereka cukup banyak. Kurang lebih 500 murid SMP dan SMA ikut dalam perkemahan ilmiah remaja. Yang kita berikan beberapa materi terkait penelitian, seperti ilmu sosial dan ilmu alam. Dan, itu hebat, minat mereka sangat baik. Selain itu, ada juga peneliti muda dan lain-lain.

Upaya-upaya ini coba kita dorong, di samping adanya deseminasi, informasi ke masyarakat, itu salah satu yang menggerakkan. Agar masyarakat tahu, hasil penelitian menjadi bermanfaat. Itu yang ingin kita dorong.

Apakah anggaran mendukung untuk menumbuhkan peneliti di Indonesia?

Mau tak mau dengan kondisi saat ini, 2016 saja kita hampir tiga kali pemotongan. Sampai yang terakhir inpresnya (instruksi presiden) turun, kita dipotong Rp 100 miliar, tetapi alhamdulillah hanya kena Rp 17,6 miliar.

Kita ingin perhatian pemerintah. Kita tak ingin seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang anggaran 20 persen untuk pendidikan, tapi paling tidak satu persen saja. Berdasarkan apa yang kita riset, kita punya upaya-upaya ke arah penelitian yang lebih baik dan bersifat lebih internasional.

Sekarang pun sedang digencarkan oleh menteri ristek dan pendididkan tinggi (menristekdikti) dengan fasilitas-fasilitas yang ada. Mereka memudahkan kita melakukan penelitian dan tak dibebani oleh masalah administrasi. Ini yang rencana 2017. Anggaran mudah-mudahan naik. Secara pengelolaan akan lebih mudah.

Apakah hasil penelitian LIPI sudah berhubungan dengan kebutuhan industri?

Sekarang sudah kita mulai, bagaimana mencari antara penelitian dan industri sudah saling berhubungan. Di Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dan Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) masuk dengan industri sudah ada pengkajian dan testing (uji coba). Di kami juga sudah mulai.

Kemarin, baru saja kita lakukan launching (peluncuran) untuk masalah riset pengelolaan pangan, khususnya susu. Kita sudah bekerja sama dengan industri. Kita sudah menggandeng. Sudah mulai ke arah sana, antara industri dan lembaga penelitian bisa terjalin.

Apakah butuh payung hukumnya?

Nah, yang sedang kami coba ingin lakukan itu adalah secara legalitas. Di kami sedang mencoba mengupayakan, LIPI dengan lembaga industri, istilahnya bagaimana peneliti bisa berada di lembaga industri untuk melakukan kegiatan-kegiatan di industri. Kemudian, orang-orang industri juga, barang kali bisa melakukan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian. Jadi, ini dua komponen yang saling tergantung bisa kita ciptakan. Katakanlah rambu-rambu legalitas yang masih dalam tataran yang masih LIPI, belum ke arah permen (peraturan menteri).    ed: Hafidz Muftisany

 

Sumber : Republika.co.id, 1 September 2017

Sivitas Terkait : Dr. Ir. Akmadi M.Eng.Sc
Diakses : 3227    Dibagikan :