Eksplorasi SDH Terkendala Minimnya Anggaran

 
 

Bogor - Indonesia diyakini masih menyimpan sumber daya hayati (SDH) yang cukup besar. Namun, proses pemetaan dan inventarisasi SDH itu kerap terkendala minimnya anggaran. Hal tersebut memicu kekhawatiran SDH itu sudah terlebih dahulu punah.

Karenanya, ekspedisi dan eksplorasi SDH di alam seharusnya mendapat dukungan anggaran yang memadai. Bahkan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) SDH memiliki peran mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bambang Subiyanto, mengatakan, hasil penelitian dasar itu dalam rangka menguak tabir alam. Tugas ini bukankah tugas yang ringan. Diharapkan ketika masuk ke luar hutan, tim eksplorasi mendapat kemudahan.

"Hasil penelitian dasar kita sebagai informasi baru harus disebarkan ke masyarakat," katanya di sela-sela Bioresources Science Week Fair di Kawasan Cibinong Science Center-Botanic Garden LIPI di Cibinong, Bogor, Senin (4/9).

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengungkapkan, dalam eksplorasi idealnya memerlukan dana lebih dari Rp 1 miliar. Namun karena keterbatasan dana, LIPI tetap memaksimalkan eksplorasi dan ekspedisi keanekaragaman hayati (kehati) dengan mencari sejumlah alternatif pilihan.

"Biasanya waktunya tiga minggu kita pangkas 14 hari. Biayanya pun kurang dari Rp 1 miliar," ucapnya.

Dalam eksplorasi pun tim melibatkan berbagai penelitian dari berbagai latar belakang penelitian seperti biologi, sosial dan bioteknologi. Dengan kemampuan yang ada LIPI berupaya memaksimalkan pemetaan secara garis besar dari suatu wilayah yang dijelajahi.

"Suatu saat jika dananya cukup bisa kembali untuk mendata lebih detail. Yang penting kita lakukan over view dulu," ujarnya.

Enny menjelaskan, inventarisasi SDH di Indonesia masih minim. Untuk itu Indonesia perlu mempercepat pendataan karena sudah banyak melakukan ratifikasi terkait kehati. Dikatakan Enny dari 75 persen tumbuhan langka baru 25 persennya saja yang dilakukan konservasi ex situ di kebun raya.

"Tinggi kehati kita tapi karena anggaran rendah baru kita lakukan di jumlah itu," ucapnya.

Di samping itu, kata Enny, pihaknya berharap Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga bisa mendukung proses eksplorasi yang kerap keluar masuk hutan. Terutama terkait adanya Pph yang tarifnya dirasakan tinggi.

"Kami ingin ada pembicaraan lanjutan dengan KLHK. Apa yang kami lakukan untuk negara. Data penelitian untuk negara harusnya free," katanya.

Meski menggandeng luar negeri dalam eksplorasi, LIPI menerapkan perjanjian ketat dan mengikat dalam proses ekspedisi maupun material transfer agreement. Hal ini bertujuan agar Indonesia tidak dirugikan.

Deputi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Subandi Sardjoko menyebut dari data LIPI 2014 saat ini diperkirakan dari 5-30 juta jenis Bioresources di dunia baru sekitar 1,78 juta jenis flora, fauna, mikroba yang telah teridentifikasi. Dari jumlah itu yang sudah menjadi fokus pengembangan ilmu pengetahuan baru 6.869 jenis biota laut dari 126.423 jenis biota terestrial.

"Dari kehati itu dan potensi yang sangat kaya, Indonesia menjadi pusat perhatian penelitian dunia," katanya.

Ia menyebutkan, SDH memiliki beragam potensi baru dikembangkan sebagai pangan, kesehatan, energi baru terbarukan dan lingkungan.

 


Sumber : beritasatu.com, 4 September 2017

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati
Diakses : 1660    Dibagikan :