Gastrodia bambu, spesies anggrek hantu dari Indonesia

 
 

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Destario Metusala bersama peneliti Universitas Indonesia (UI) Jatna Supriatna belum lama ini mempublikasikan spesies baru dari kelompok anggrek holomikotropik atau yang kerap disebut dengan anggrek hantu.

Seperti dilansir laman resmi LIPI, Selasa (24/8/2017), spesies baru ini memiliki nama ilmiah Gastrodia bambu. Tentunya ada alasan tersendiri mengapa para peneliti menyebutnya sebagai anggrek hantu (orchid ghost). Penyebutan ini merujuk pada kemunculannya yang sering kali tidak terduga dan tanpa memiliki organ daun.

Spesies anggrek baru tersebut pertama kali ditemukan di Turgo, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, persisnya di lereng selatan Gunung Merapi, pada awal 2016. Kemudian spesies serupa ditemukan juga di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat, pada awal 2017.

Nama spesies ini berasal dari kata Indonesia "bambu" yang mengacu pada habitatnya yang khas di sekitar kebun bambu. Berdasarkan catatan populasi, spesies ini merupakan anggrek endemik yang hanya ada di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Yogyakarta. Populasi juga terbatas dan menghadapi tekanan degradasi habitat yang tinggi.

Gastrodia bambu memiliki bunga berbentuk lonceng dengan ukuran panjang 1,7-2 cm dan lebar 1,4-1,6 cm. Bunga didominasi warna cokelat gelap dengan bagian bibir bunga berbentuk mata tombak memanjang bercorak jingga.

Anggrek kelompok holomikotropik ini umumnya hanya muncul pada satu periode pendek (2-4 minggu) dalam satu tahun. Perbungaannya secara tiba-tiba akan muncul dari permukaan tanah/seresah, kemudian setelah 1-2 minggu perbungaan akan layu busuk dan lenyap.

Pada satu perbungaan dapat menghasilkan hingga 8 kuntum bunga yang mekar secara bergantian. Perbungaan muncul dari tanah berserasah di bawah rumpun-rumpun bambu tua pada ketinggian 800 - 900 m dpl.

Pada pertengahan Agustus 2017, spesies baru anggrek dari Indonesia tersebut telah terbit pada jurnal ilmiah internasional, Phytotaxa dengan judul Gastrodia bambu(Orchidaceae: Epidendroideae), A New Species from Java, Indonesia.

Anggrek hantu merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil sehingga tidak dapat berfotositensis, namun tidak bersifat parasit. Oleh karena itu, seluruh daur hidupnya menggantungkan suplai nutrisi organik melalui simbiosis dengan jamur mikoriza.

Jenis baru ini juga bukan seperti anggrek pada umumnya yang tampak menarik. "Bunga menghasilkan aroma busuk untuk mengundang serangga polinator alias serangga penyerbuk," ujar Destario yang dikutip dari Kompas.com (27/8).

Gastrodia bambu yang berasal dari Pulau Jawa ini membutuhkan kondisi ekologis yang sangat spesifik. Spesies anggrek baru ini juga peka terhadap perubahan lingkungan.

Anggrek ini sangat peka terhadap kekeringan, kelebihan intensitas cahaya, dan perubahan pada media tumbuhnya. Gangguan pada habitatnya, seperti pembukaan rumpun bambu berdampak pada perubahan kelembapan, intensitas cahaya, dan juga sifat biologis medium pertumbuhan, sehingga mengganggu pertumbuhan populasi anggrek ini.

Karena sensitivitasnya yang tinggi, anggrek ini merupakan objek yang menarik untuk diamati guna mengetahui kerentanan komunitas anggrek tropis terhadap dampak perubahan iklim.

Hingga sekarang, Gastrodia bambu dan kebanyakan anggrek holomitropik lainnya belum dapat dibudidayakan ataupun ditumbuhkan di luar habitat aslinya. Bunga ini tidak mungkin diperoleh dari pedagang anggrek lokal.

Riset tentang keragaman anggrek menjadi prioritas LIPI maupun Universitas Indonesia untuk mendukung penelitian dan konservasi keanekaragaman hayati (biodiversitas), khususnya spesies endemik di Tanah Air. Karena itu, diperlukan peningkatan kerja sama antara LIPI dan Universitas Indonesia dalam bidang konservasi biodiversitas.

Spesies baru ini juga tidak lepas dari kontribusi dan keaktifan organisasi kemahasiswaan Canopy (Departemen Biologi, Universitas Indonesia) dan BiOSC (Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada) dalam membantu proses pengamatan habitat dan pencatatan rekam jejak populasi.

 


Sumber : beritagar.id, 6 September 2017

Sivitas Terkait : Destario Metusala S.P., M.Sc.
Diakses : 68    Dibagikan :