INDONESIA SIAPKAN PARAMETER STATUS EKOSISTEM

 
 
PERAIRAN Raja Ampat, Papua Barat, sudah kesohor akan keanekaragaman hayatinya. Di dalam lautnya ada 1.024 spesies ikan hingga menjadikannya sebagai salah satu kawasan dengan ikan karang terkaya di dunia.

Kekayaan perairan itu, menurut Kepala Pusat Penelitian Oseanografi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P20-LIPI) Dirhamsyah, memperlihatkan kondisi ekosistem yang sehat. Di sisi lain, Raja Ampat belum bisa disebutkan secara resmi sebagai ekosistem yang sehat. Sebaliknya pula, perairan yang tidak memiliki keanekaragaman hayati seperti Raja Ampat belum tentu tidak sehat.

Belum adanya status yang jelas terhadap ekosistem-ekosistem di Indonesia, jelas Dirhamsyah, disebabkan memang belum ada parameter yang jelas terhadap kesehatan ekosistem.

"Selama ini baru ada penetapan kesehatan perairan, hanya berdasarkan salinitas dan suhu air," tutur Dirhamsyah seusai peresmian Regional Training and Research Center on Marine Biodiversity and Ecosystem Health (RTRC Marbest Center) di P20-LIPI. Ancol, Jakarta, Senin (17/10).

Dirhamsyah yang juga menjabat Direktur RTRC Marbest Center menjelaskan penetapan parameter kesehatan ekosistem perairan tersebut menjadi salah satu fokus utama RTRC Marbest Center.

Tidak hanya di Indonesia, belum adanya parameter penentu kesehatan ekosistem perairan sebenarnya juga menjadi pekerjaan rumah dunia. Dirhamsyah menjelaskan hingga saat ini negara-negara belum sepakat akan hal-hal yang dijadikan poin parameter.

Dirhamsyah berpendapat salah satu poin parameter yang dapat digunakan ialah sifat alami ekosistem. Pada karang, misalnya, kesehatan dapat dilihat dari adanya koloni ikan kepe-kepe (butterfty fish).

Koral, polip, dan anemon merupakan makanan ikan berukuran 12-22 cm dan bercorak garis. Karena itu, ikan kepe-kepe tidak akan atau sulit ditemui di ekosistem karang yang tidak sehat.

Jika kondisi terus berlanjut, pemangsa ikan kepe-kepe juga dapat hilang dari ekosistem tersebut. Dalam kondisi ini, rantai makanan tidak lagi sempurna. Dari sini pula kita dapat memahami pentingnya kesehatan ekosistem perairan.

Ekosistem yang buruk membuat negara dalam kerentanan pangan. Sebab itu pula penting untuk segera menentukan parameter kesehatan ekosistem sehingga kondisi ekosistem-ekosistem perairan di Indonesia diketahui dengan jelas.

Dirhamsyah mengungkapkan indeks penentuan kesehatan ekosistem dapat diselesaikan timnya pada 2019. Indeks itu selanjutnya akan ditawarkan pada forum internasional yang memiliki kondisi perairan serupa Indonesia, misalnya negara-negara Asia Pasifik.

Untuk menyusun indeks tersebut. RTRC Marbest Center akan melibatkan peneliti. RTRC Marbest Center menurut rencana akan berkantor di Raden Saleh, Jakarta Pusat.

Pendirian RTRC Marbest Center juga merupakan pemenuhan mandat Indonesia sebagai anggota International Oceanographic Commission-Western Pacific (IOC-Westpac). Indonesia diharuskan turut serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang kelautan secara global, khususnya di wilayah barat Pasifik.

Kepala dan Program Spesialis IOC Westpac-UNESCO Wenxi Zhu mengatakan sektor kelautan memiliki banyak implikasi pada su-atu negara, mulai ekonomi, iklim, hingga keamanan pangan. Ia pun meyakini masih banyak potensi laut yang belum terjangkau, termasuk di Indonesia.

"Karena kekayaan dan kemampuan peneliti, Indonesia mampu memimpin dunia kelautan agar bisa memanfaatkan dengan baik. Kalau sehat, semua biota laut tidak ada yang punah, maka pangan yang biasa didapat manusia dari lautan pun tetap terjaga," ujarnya.

Pusat pelatihan

Marbest Center merupakan pusat pelatihan kedua di dunia setelah yang ada di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Pusat pelatihan di Tiongkok berfokus pada dinamika samudra, interaksi laut-udara, dan model numerik.

Pelatihan pertama RTRC Marbest Center, Jakarta, ini diikuti 25 peserta yang berasal dari Indonesia, Bangladesh, Iran, Thailand. Kamboja, juga Filipina. Pelatihan berlangsung selama dua minggu. yang mencakup materi di kelas dan praktik di Stasiun Riset P20 yang berada di Pulau Pari.

Selain menciptakan generasi baru di dunia kemaritiman melalui program pelatihan. LIPI-P20 menerbitkan bebrapa buku yang telah dikembangkan sejak awal 2000 lalu oleh Komponen Edukasi Coral Reef

Rehabilitation and Management Program-Coral Triangle Initiative (Coremap CTI) LIPI. Materi pembelajaran yang telah disusun menyasar siswa SD, SMP. hingga SMA. Sekitar 60% dari jumlah siswa di Indonesia berada di daerah pesisir. Karena itu, LIPI berharap materi maritim dapat masuk ke kurikulum pembelajaran. (M-3)

Sumber : Media Indonesia, edisi 22 Oktober 2016. Hal: 16

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.
Diakses : 304    Dibagikan :