JUMLAH LABORATORIUM PENGUJIAN MINIM

 
 
Jumlah laboratorium pengujian kesesuaian elektromagnetik produk-produk elektronik minim di tengah meningkatnya permintaan pengujian oleh produsen. Selain meningkatkan daya saing, pengujian penting agar gelombang elektromagnetik dari suatu produk tidak saling mengganggu dan tak berdampak pada kesehatan manusia.

"Semua alat berbasis kelistrikan mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Intinya, bagaimana agar gelombang itu bisa dikendalikan," kata Harry Arjadi, peneliti utama pada Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian Lembaga Ilmu Pengetahuan    Indonesia
(P2SMTP LIPI),    dihubungi Minggu (12/6).

Saat ini baru lembaga pemerintah yang memiliki laboratorium khusus pengujian kesesuaian elektromagnetik (electromagnetic compatibility ,EMC), antara lain P2SMTP LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Balai Riset dan Standardisasi Industri Surabaya milik Kementerian Perindustrian, Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T) di Bandung milik Kemenperin, serta PT Dirgantara Indonesia. Sejumlah perusahaan punya laboratorium semacam itu, tetapi untuk produk sendiri. Yang dibutuhkan adalah laboratorium independen.

Laboratorium EMC di LIPI dibangun karena peningkatan kebutuhan pengujian pada dekade 1990-an mengingat hal itu menjadi salah satu syarat ekspor produk elektronik Sangat banyak jenis produk elektronik yang harus lolos uji EMC, khususnya jika ingin masuk negara-negara Eropa

Oleh karena itu, para produsen barang elektronik terpaksa mengujikan produk mereka di luar negeri, termasuk Singapura. Itu membuat beban biaya bertambah. Guna menekan biaya, laboratorium di dalam negeri dibutuhkan. Maka, beroperasilah laboratorium EMC LIPI yang selesai dibangun pada 2008. Hampir semua jenis produk elektronik bisa diuji di laboratorium yang dilengkapi kamar tidak bergema (anechoic chamber) untuk pengukuran sejauh 3 meter.

Kewalahan

Produk yang diwajibkan memenuhi ketentuan standar nasional Indonesia untuk keselamatan penggunaan peranti rumah tangga---termasuk EMC---antara lain mesin cuci, kulkas, kipas angin, dan pengondisi udara (AC). Saat kewajiban itu mulai berlaku pada 2014, baru laboratorium EMC LIPI dan B4T yang siap sehingga keduanya kewalahan.

"Tahun lalu, permintaan yang masuk Juni-Juli memenuhi jadwal pengujian hingga Oktober," ujar Harry.

Masih banyak jenis produk yang butuh penetapan standardisasi EMC, salah satunya televisi digital. Kepala P2SMTP LIPI Agus Fanar Syukri mengatakan, pemerintah menargetkan siaran televisi beralih dari analog ke digital pada 2018. Itu berarti butuh pengujian EMC alat pemancar siaran di stasiun televisi serta penerima siaran di rumah.

Kepala Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) Kementerian Komunikasi dan Informatika Mochammad Rus'an mengatakan, pihaknya sudah mampu menguji baik pemancar maupun penerima siaran televisi digital, termasuk fitur sistem peringatan dini bencana pada set top box (penerima siaran). Namun, untuk EMC, tak semua bisa diuji. BBPPT belum punya kamar tidak bergema.

Menurut Ruslan, laboratorium lengkap butuh lahan luas. "Sampai sekarang kami sedang berjuang membangun lab EMC yang lengkap dengan chamber (kamar tidak bergema)," ucapnya. (JOG)

Sumber : Kompas, edisi 13 Juni 2016. Hal: 14

Sivitas Terkait : Dr. Ir. R. Harry Arjadi M.Sc.