KESEMPATAN BENAHI KESAIGAAAN

 
 
Gempa kuat mengguncang Samudra Hindia, Rabu (2/3) pukul 19.49. Kepanikan dan kemacetan saat evakuasi kembali terjadi. Beruntung, gempa kali ini tak diikuti tsunami besar. Sekali lagi kita masih diberi waktu memperbaiki sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan.

Lima menit setelah gempa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebarkan peringatan dini tsunami. Diinformasikan, kekuatan gempa mencapai M 8,3 dengan pusat gempa di 5.16 Lintang Selatan dan 94.05 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa berpotensi tsunami.

Peringatan dini itu dikirim ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), media massa, para kepala daerah, serta badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) di lokasi berpotensi terdampak. Pukul 20.00, atau menit ke-10 setelah gempa, BMKG memutakhirkan informasi. Kekuatan gempa M 7,8 dan berpotensi tsunami.

Diseminasi pertama tentang kekuatan gempa, yang lalu dikoreksi itu, menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Moch Riyadi, disebabkan keterbatasan jumlah sensor. Jarak sensor BMKG dengan pusat gempa relatif jauh, akibatnya data baru masuk dalam sistem analisis tiga menit pasca gempa. Padahal, peringatan dini tsunami harus dikeluarkan maksimal lima menit pasca gempa.

"Gempa kali ini terjadi jauh di luar zona subduksi dan di luar wilayah Indonesia, persisnya di dekat Ninety East Ridge, sekitar 682 kilometer barat daya Mentawai, Sumatera Barat," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono. "Gempa di zona ini belum dipetakan sebelumnya."

Hingga setengah jam kemudian, BMKG terus memutakhirkan data, termasuk mengoreksi lokasi sumber gempa dan menganalisis mekanismenya. Hingga saat itu telah diketahui, gempa itu punya sesar mendatar, yang sekalipun berpotensi memicu tsunami, skalanya relatif kecil.

Hasil pemodelan tsunami, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami berstatus Siaga (tinggi tsunami kurang dari 0,5-3 meter) untuk wilayah Kepulauan Mentawai, Nias, Padang, Simeulue, dan Bengkulu. Adapun status Waspada (perkiraan tinggi tsunami kurang dari 0,5 m) dikeluarkan untuk wilayah Lampung dan Aceh Jaya.

Beberapa institusi dan perseorangan yang melakukan pemodelan atas gempa itu juga menemukan potensi tsunami. Contohnya, ahli tsunami pada Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjo Kongko. Dari pemodelan yang dilakukannya, gempa itu menimbulkan tsunami kecil ke arah utara dan selatan dari pusat gempa.

"Ketinggian tsunami di sepanjang pantai barat Pulau Nias dan Simeulue maksimal 1 meter. Waktu, tiba tsunami 30-60 menit di dua pantai itu," kata Widjo. "Untuk Kepulauan Mentawai dan Padang, dari pemodelan cenderung aman."

Hingga tahap itu, menurut Deputi Geofisika BMKG Masturyono, sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS), yang meliputi pemonitoran gempa, pemrosesan informasi, dan penyebaran informasinya, telah berjalan baik. BMKG mengirim peringatan dini tsunami dalam waktu lima menit setelah gempa, sekalipun pusat gempa kali ini berada di zona tak lazim.

Namun, sistem peringatan dini bencana itu sebenarnya masih timpang karena tidak didukung validasi ada atau tidak tsunami secara riil. Seluruh sistem BMKG didasarkan pada model.

Baru pada pukul 22.31 atau lebih dari 2,5 jam setelah gempa, BMKG dapat konfirmasi tsunami memang terjadi, persisnya dari laporan buoy atau pelampung pendeteksi tsunami di sekitar Pulau Cocos, Australia, dengan ketinggian 0,1 meter. Adapun alat tide gauge yang mendeteksi pembahan gelombang di pantai Padang mencatat tsunami setinggi 0,05 meter.

Ketinggian tsunami yang terkonfirmasi itu dianggap tak signifikan sehingga pukul 22.33, peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir. "Pengakhiran ini bukan karena tsunami tak terjadi. Tsunami terbukti terjadi, sebagaimana dikonfirmasi, meski skalanya lebih kecil dari model kami. Dalam hal ini, kami memang memakai skenario terburuk," kata Daryono.

Ketiadaan buoy tsunami di sekitar lokasi membuat BMKG tak bisa mengonfirmasi keberadaan tsunami secara cepat. "Kalau buoy tsunami kita di Samudra Hindia aktif, kami bisa mendapat konfirmasi lebih awal dan peringatan dini tsunami bisa diakhiri lebih cepat," ujarnya.

Dalam sistem InaTEWS, pihak yang bertanggung jawab mengoperasikan buoy tsunami adalah BPPT Ada 22 buoy yang pernah dioperasikan di Indonesia. Namun, menurut Wahyu Widodo Pandoe, Direktur Pusat Teknologi Rekayasa Industri Maritim BPPT, sejak 2012, sistem pelampung pemantau tsunami itu tak aktif lagi, baik karena vandalisme maupun keterbatasan anggaran pemeliharaan (Kompas, 4/3).

Respons peringatan dini

Selain persoalan buoy tsunami, persoalan yang butuh perbaikan segera adalah ketidaksiapan pemerintah daerah merespons peringatan dini tsunami. Itu terlihat dari sebagian sirene tsunami yang memicu kekacauan. "Dari laporan, semua sirene yang dibangun BMKG memang tak dibunyikan. Tapi, itu kewenangan pemerintah daerah, dalam hal ini BPBD," ujar Daryono.

Padahal, menurut Masturyono, 20 sirene tsunami yang dipasang BMKG di sepanjang pantai barat Sumatera rutin diuji coba setiap bulan. Terakhir uji coba pada 26 Februari. Semua baik. Seharusnya, begitu BMKG menyatakan Siaga atau Waspada tsunami, sirene tsunami dibunyikan.

Persoalan lain, respons masyarakat tidak siap. Kepanikan masih terjadi di Kota Padang. Seperti dilaporkan Kompas (3/3), hingga pukul 22.00, pergerakan warga menuju daerah lebih tinggi di kawasan Bypass Padang hingga Indarung masih berlangsung. Mayoritas warga bergerak menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Akibatnya, seluruh ruas jalan menuju daerah lebih tinggi di Kota Padang macet. Sesuai prosedur, evakuasi harus jalan kaki ke tempat perlindungan vertikal yang disiapkan.

Beruntung, ketinggian tsunami kali ini tak signifikan sehingga tak menimbulkan kerusakan. Bagaimana jika tsunami benar terjadi, siapkah kita?

Gempa di lokasi itu memang bukan yang dikhawatirkan. Berulang kali disampaikan potensi gempa besar di zona seismic gap di barat daya Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Di sana terjadi gempa besar pada 1837 dan 1901. Dengan kekuatan gempa yang diprediksi di atas M 8, waktu kedatangan tsunami yang berpotensi melanda Mentawai dan Padang di bawah 30 menit.

Pesisir Padang sebenarnya kawasan paling disiapkan menghadapi tsunami dan berulang kali diadakan simulasi. Bagaimana dengan kawasan timur, yang hingga kini belum banyak tersentuh mitigasi bencana?

"Masih banyak hal perlu dibenahi. Gempa kali ini seperti hadiah agar ldta lebih siap," kata Irina Rafliana, peneliti kebenca-naan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sumber : Kompas, edisi 12 Maret 2016. Hal: 14

Diakses : 1025    Dibagikan :