Kuliner Tradisional Layak Manfaatkan Teknologi Pengemasan

 
 
Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam. Kuliner tradisional ini berasosiasi dengan suatu daerah tertentu. Meskipun di daerah lain bisa membuatnya, namun banyak yang ingin merasakan keaslian resep dari daerah asalnya.
 
Tak afdol rasanya bila berkunjung ke suatu daerah jika tak memiliki kuliner kas daerah tersebut, apalagi samapi beli di daerah lain yang juga menjualnya. Namun, sayangnya, tak banyak kuliner tradisional yang beragam itu bisa kita bawa melalui perjalanan jauh atau untuk disantap tidak pada hari itu juga.
 
Salah satunya karena pengemasannya yang kurang baik. Padahal, kuliner tradisonal itu berpotensi untuk bisa dikemas dengan lebih baik. Hanya beberapa makanan tradisional yang dikemas dalam bentuk kalengan sehingga praktis dibawa, dan dapat disimpan dalam waktu hingga satu tahun tanpa ada perubahan citarasa.
 
Salah satu UKM yang dinilai sukses memanfaatkan teknologi pengemasan makanan tradisional sehingga mampu menembus pasar domestik dan luar negeri adalah Gudeng Kaleng Bu Tjitro 1925.
 
Sebenarnya, kalau mengutip penjelasan pihak Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hingga saat ini, teknologi pengemasan makanan tradisional tersebut baru dimanfaatkan lebih dari 30 usaha kecil menengah. Namun, sudah 42 resep makanan yang bisa dikemas baik, di antaranya gudeg, rawon, brongkos, sayur Lombok ijo, mangut lele, rendang, tempe kari, oseng-oseng mercon, dan makanan tradisional lain dari seluruh Indonesia.
 
Jadi, kita layak mendorong pelaku kuliner tradisional untuk dapat memanfaatkan teknologi pengemasan sehingga makanan tradisional lebih awet dan bernilai jual tinggi. UKMK bisa menghubungi atau meminta saran ke Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sejak awal tahun ini telah ditunjuk sebagai ‘center of excellence’ pengemasan makanan tradisional.
 
Pelaku kuliner dapat memanfaatkan teknologi ini agar produknya bisa dipasarkan lebih baik. BPTBA LIPI sudah mengembangkan teknologi pengemasan makanan tradisional melalui riset secara intensif sejak 2004 dan hasil riset mulai digunakan oleh usaha kecil menengah di bidang kuliner tradisional sejak 2009.
 
KM kuliner bisa memanfaatkan teknologi pengemasan makanan tersebut dengan datang langung ke Kantor BPTBA LIPI yang berada di Kabupaten Gunung Kidul DIY. Perlu diketahui, proses pengemasan menjadi makanan dalam kaleng sebenarnya tidak mahal. Namun, UKMK perlu mendapatkan sertifikasi lebih dulu.
 
Sertifikasi tersebut di antaranya dilakukan terhadap proses memasak, aspek higienitas dan sanitasi agar makanan yang dikemas dalam kaleng tersebut bisa awet tanpa menyertakan bahan tambahan apapun.
 
Melalui teknologi ini, semoga juga bisa mendorong munculnya wirausaha-wirausaha muda baru yang bergerak di kuliner tradisional. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi bisa memberikan dampak yang baik ke masyarakat luas.

 

Sumber : beritasatu.com, 11 September 2017

Sivitas Terkait : Hardi Julendra S.Pt.,M.Sc.
Diakses : 174    Dibagikan :