LIPI Bersama IPGP Perancis dan EOS Singapura Akan Lakukan Ekspedisi di Samudera Hindia

 
 

JAKARTA, (PR).- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Perancis dan Earth Observatory of Singapore (EOS) Singapura akan melakukan ekspedisi di Samudera Hindia, mulai 1 s.d. 30 Juli 2016. Kegiatan penelitian bersama yang bertajuk “Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake” (MIRAGE) itu menggunakan Kapal Riset R/V Marion Dufresne milik Pemerintah Perancis.

Sebagaimana keterangan yang diterima “PR” di Jakarta, Senin 27 Juni 2016 disebutkan, tujuan ekspedisi ini adalah memetakan secara detail struktur, anatomi, dan mekanisme patahan penyebab gempa pada 11 April 2012 di lepas pantai sebelah barat Sumatera. Sumber gempa yang terjadi pada 2012 tersebut merupakan gempa bumi sesar mendatar terbesar yang pernah terekam hingga saat ini.

Ekspedisi melibatkan sembilan peneliti dari LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Informasi Geospasial (BIG), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Universitas Hasanuddin, dan Universitas Padjadjaran dengan didukung oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya serta Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI). Sedangkan, peneliti asing yang terlibat sejumlah 21 orang dari Singapura, Perancis, Myanmar, Korea Selatan, dan India.
Kapal Riset R/V Marion Dufresne dijadwalkan bertolak dari Kolombo menuju Cekungan Wharton, Samudera Hindia pada 1 Juli 2016 dan akan kembali pada 30 Juli 2016.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menuturkan, ekspedisi penelitian kelautan ini penting untuk mengungkapkan aspek ilmiah penyebab gempa bumi dan dapat digunakan untuk menyusun strategi mitigasinya.

“Dari pengetahuan baru yang akan kita peroleh dari ekspedisi ini diharapkan meningkatkan strategi mitigasi bencana kita. Selain itu, hasil penelitian akan memperbarui kembali peta gempa nasional dengan memperhitungkan sumber gempa bumi yang belum diperkirakan sebelumnya,” ujarnya.

Rencananya, selama ekspedisi diselenggarakan pula pelatihan atau “floating summer school” yang dikenal sebagai "the 1st ASEAN, IOC WESTPAC Indian Ocean Floating Summer School on Marine Geoscience and Geohazard". Pelatihan ini ditujukan bagi para peneliti muda dan mahasiswa dari perwakilan negara ASEAN dan IOC Westpac (Komisi Oseanografi Internasional Pasific Barat, red.) dalam bidang riset geosains kelautan untuk mitigasi bencana.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Zainal Arifin menjelaskan bahwa penelitian bersama dengan para peneliti internasional juga akan meningkatkan dan membangun lebih baik lagi kemampuan penelitian kelautan Indonesia. “Hasil penelitian bisa dijadikan dasar untuk mengurangi risiko bahaya gempa bumi dan tsunami yang sebelumnya sudah terjadi dan menelan korban jiwa dengan jumlah besar, seperti peristiwa tsunami Aceh 2004,” katanya.

Sementara itu, sejumlah peneliti terkemuka dunia akan terlibat dalam ekspedisi penelitian kelautan bersama ini, seperti Prof. Paul Tapponnier (peneliti dari EOS) dan Prof. Satish Singh (peneliti/profesor geofisika kelautan dari IPGP). Sedangkan, peneliti LIPI yang terlibat, sekaligus mengkoordinatori kegiatan, adalah Nugroho D. Hananto (peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI).***


Sumber : Pikiran Rakyat Online, 27 Juni 2016

Sivitas Terkait : Dr. Nugroho Dwi Hananto M.Si.