LIPI DAN INSTITUSI RISET INTERNASIONAL TELITI SUMBER GEMPA

 
 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut de Physique du Globe de Paris (IPGP) Prancis dan Earth Observatory of Singapore (EOS) Singapura akan meneliti sumber gempa sesar mendatar di Cekungan Wharton, Samudera Hindia.

Sumber gempa yang terjadi pada 2012 tersebut merupakan gempa bumi sesar mendatar terbesar yang pernah terekam hingga saat ini. Ekspedisi penelitian bersama ini menggunakan Kapal Riset R/V Marion Dufresne milik Pemerintah Prancis.

Ekspedisi yang diberi nama Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake (MIRAGE) itu akan dilakukan selama sebulan. Kapal Riset R/V Marion Dufresne akan bertolak dari Kolombo menuju Cekungan Wharton, Samudera Hindia pada 1 Juli 2016 dari akan kembali pada 30 Juli 2016.

Kepala LIPI, Iskandar Zulkarnain, berpandangan, ekspedisi ini penting karena bisa memberi banyak informasi dan data tentang berbagai hal yang sedang dan yang akan teijadi di masa mendatang di lautan Hindia.

"Ekspedisi ini terkait gempa bumi tahun 2012 berkekuatan 8,6 skala richter di Cekungan Wharton Samudera Hindia," katanya dalam kick off and media gathering kolaborasi riset dan Floating Summer Shool serta Mirage di Jakarta, Selasa (28/6).

Menurut Iskandar, gempa tersebut tergolong langka karena gempa bumi tidak terjadi di zona subduksi tetapi di sesar mendatar. Hal ini tidak pernah diprediksi sebelumnya oleh para ilmuwan.

"Bisa dibandingkan dengan gempa tahun 2004 di Aceh berkekuatan 9,2 skala richter, bagaimana daya rusaknya luar biasa. Kalau potensi gempa tidak diketahui, mitigasi gempa sulit dilakukan," paparnya.

Iskandar mengingatkan bahwa ekspedisi ini membawa dua misi besar, yakni pengembangan ilmu pengetahuan yang menghasilkan pemikiran dan konsep mitigasi serta pengurangan risiko bencana.

Selanjutnya ekspedisi ini menjadi wahana untuk meningkatkan kapasitas peneliti Indonesia.

"Kita harus memanfaatkan kehadiran pakar dalam memberi ilmunya kepada peneliti muda, generasi muda yang memberi perhatian ke kelautan," ujarnya.

Terkait peneliti, peserta ekspedisi ini melibatkan sembilan orang peneliti dari LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Badan Informasi Geospasial, Pusat Penelitian dam Pengembangan Geologi Kelautan, Universitas Hasanuddin dan Universitas Padjadjaran dengan didukung oleh Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya serta Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Sedangkan, peneliti asing yang terlibat sejumlah 21 orang dari Singapura, Prancis, Myanmar, Korea Selatan dan India. Selama ekspedisi, diselenggarakan pula pelatihan atau floating summer school yang dikenal sebagai the lst ASEAN, IOC WESTPAC Indian Ocean Floating Summer School on Marine Geoscience and Geohazard.

Peneliti Muda

Sementara itu, terkait Indian Ocean Floating Summer School on Marine Geoscience and Geohazard, pelatihan ini ditujukan bagi para peneliti muda dan mahasiswa dari perwakilan negara ASEAN dan IOC Westpac atau Komisi Oseanografi Internasional Pasific Barat dalam bidang riset geosains kelautan untuk mitigasi bencana.

Saat ini lanjut Iskandar, sumber daya manusia di bidang geosains kelautan sangat sedikit. Padahal dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut yang menyimpan potensi positif berupa sumber daya mineral dan juga mengancam dengan potensi bencananya. Terkait ekspedisi, peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Nugroho Hananto, menjelaskan, ekspedisi ini untuk memetakan aktivitas sesar kerak samudera.

Dalam riset kali ini, hampir 60%-nya berada di wilayah laut Indonesia. Menurutnya dari data yang diperoleh 2015 lalu ada gambaran deformasi di kerak samudera.

[R-15]

Sumber : Suara Pembaruan, edisi 29 Juni 2016. Hal: 18

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain