LIPI Desak Pembangunan Jakarta Cegah Tanah Amblas

 
 

Moneter.co.id – Peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Robert M Delinom mendesak pembangunan Jakarta agar berorientasi pada pencegahan tanah amblas.

“Peristiwa seperti runtuhnya Jembatan Sarinah sepanjang 40 meter pada 1981 mengindikasikan bahwa aspek lingkungan bawah permukaan Jakarta harus menjadi pertimbangan dalam penataan wilayah,” kata Robert dalam diskusi dan bedah bukunya “Ancaman Bawah Permukaan Jakarta Tak Terlihat, Tak Terpikirkan dan Tak Terduga” di Jakarta, Rabu (31/8).

Dia menawarkan sejumlah solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan bawah tanah Jakarta, antara lain membuat zonasi pemukiman, penambahan area parkir air, penempatan sumur imbuhan, perbaikan kualitas air tanah dangkal, pembuatan dam tepi pantai dan perbaikan alur sungai.

Menurut dia, Jakarta sebagai wilayah metropolitan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Hal itu memberikan dampak dan tekanan pada lingkungan yang berada di atas permukaan ibu kota negara, seperti polusi udara, air, tanah dan suara.

Namun di balik itu, ada tekanan lain yang tak terlihat di bawah permukaan tanah Jakarta. Tekanan itu tidak hanya dari aspek lingkungan, kata dia, tetapi juga aspek sosio-ekonomi yang mempengaruhi keberlangsungan lingkungan bawah permukaan Jakarta.

Dia mengatakan fungsi Jakarta sebagai pusat aktivitas ekonomi dan pemerintahan menyebabkan peningkatan jumlah bangunan di Jakarta dari masa ke masa. Selain itu, pertambahan jumlah penduduk dan urbanisasi semakin menambah ancaman pada kondisi Jakarta, terutama bawah permukaannya.

Robert mengatakan peristiwa instrusi air laut ke dalam air tanah dan sumur penduduk di kawasan Jakarta Utara juga menjadi alasan mengapa aspek lingkungan harus diperhitungkan dalam menata Jakarta.

“Penelitian yang sudah dilakukan menunjukan bahwa pengaruh penurunan muka air tanah, pengaruh beban bangunan dan sedimen muda di Jakarta Utara memicu keamblasan tanah,” papar Robert.

Selain menyebabkan kerusakan gedung, kata dia, keamblasan tanah juga memperlebar daerah genangan banjir dan rob yang pada akhirnya memengaruhi kualitas air tanah dangkal pada beberapa tempat di Jakarta Utara.

Selama ini, penelitian masih sedikit mengulas kondisi air bawah permukaan Jakarta secara terintegrasi dan multiperspektif. “Perubahan iklim global, pembangunan industri dan pertambahan penduduk dapat berdampak pada kondisi bagian bawah permukaan Jakarta,” ujarnya.

Tak hanya itu, kata dia, berdasarkan penelitian yang dilakukan pula menunjukan kondisi sosial ekonomi juga menjadi konsekuensi dalam kondisi lingkungan bawah permukaan Jakarta.

“Dari aspek sosioekonomi, kondisi lingkungan bawah ditentukan oleh faktor penduduk, kebijakan, dan pemanfaatan teknologi infrastruktur dalam pengembangan kota,” imbuhnya.

Dia mengatakan fungsi sistem aliran air tanah hingga alirannya ke daerah pantai sekaligus keberadaan kontaminasi temperatur bawah permukaan Jakarta.

Sementara itu, Kepala UPT Balai Media dan Reproduksi/LIPI Press LIPI, Rahmi Lestari Helmi mengapresiasi buku karya Robert berjudul “Ancaman Bawah Permukaan Jakarta Tak Terlihat, Tak Terpikirkan dan Tak Terduga”.

Menurut dia, buku tersebut menjadi salah satu terbitan LIPI yang terbaik pada 2016.

“Buku ini terbit dalam bunga rampai dan menjadi sumber referensi tepat untuk memahami perkembangan dan permasalahan lingkungan bawah permukaan di Jakarta,” ucap Rahmi.


Sumber : Moneter.co.id, 31 Agustus 2016

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Robert M. Delinom M.Sc.
Diakses : 1152    Dibagikan :