LIPI Dorong Kuliner Tradisional Dikemas Lebih Modern

 
 
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendorong pelaku kuliner tradisional untuk dapat memanfaatkan teknologi pengemasan sehingga makanan tradisional lebih awet dan bernilai jual tinggi.

"Awal tahun ini, kami ditunjuk sebagai center of excellence pengemasan makanan tradisional. Pelaku kuliner dapat memanfaatkan teknologi ini agar produknya bisa dipasarkan lebih baik," kata Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hardi Julendra di Puncak Peringatan Bulan Teknologi LIPI 2017 di Yogyakarta, Jumat (8/9).

BPTBA LIPI sudah mengembangkan teknologi pengemasan makanan tradisional melalui riset secara intensif sejak 2004 dan hasil riset mulai digunakan oleh usaha kecil menengah di bidang kuliner tradisional sejak 2009. Ia menilai, kekayaan kuliner tradisional di Indonesia sangat beragam dan berpotensi untuk bisa dikemas dengan lebih baik.

"Kuliner tradisional ini berasosiasi dengan suatu daerah tertentu. Meskipun di daerah lain bisa membuatnya, namun banyak yang ingin merasakan keaslian resep dari daerah asalnya," tuturnya.

Hingga saat ini, teknologi pengemasan makanan tradisional tersebut sudah dimanfaatkan lebih dari 30 usaha kecil menengah dengan 42 resep makanan di antaranya gudeg, rawon, brongkos, sayur lombok ijo, mangut lele, rendang, tempe kari, oseng-oseng mercon dan makanan tradisional lain dari seluruh Indonesia.

Makanan tradisional tersebut biasanya dikemas dalam bentuk kalengan sehingga praktis dibawa, dan dapat disimpan dalam waktu hingga satu tahun tanpa ada perubahan citarasa.

"Salah satu UKM yang dinilai sukses memanfaatkan teknologi pengemasan makanan tradisional sehingga mampu menembus pasar domestik dan luar negeri adalah Gudeng Kaleng Bu Tjitro 1925," ungkapnya.

Ia mengatakan, UKM kuliner bisa memanfaatkan teknologi pengemasan makanan tersebut dengan datang langung ke Kantor BPTBA LIPI yang berada di Kabupaten Gunung Kidul DIY.

"Proses pengemasan menjadi makanan dalam kaleng sebenarnya tidak mahal. Kami melayani pemesanan minimal 1.000 kaleng. Yang justru membutuhkan usaha lebih banyak adalah sertifikasi yang harus dikantongi pelaku usaha," ujarnya.

Sertifikasi tersebut di antaranya dilakukan terhadap proses memasak, aspek higienitas dan sanitasi agar makanan yang dikemas dalam kaleng tersebut bisa awet tanpa menyertakan bahan tambahan apapun.

Sementara itu, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, akan bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif untuk mendorong pelaku usaha kuliner tradisional memanfaatkan teknologi pengemasan yang lebih baik.

"Melalui teknologi ini, kami juga ikut mendorong munculnya wirausaha-wirausaha muda baru yang bergerak di kuliner tradisional. Dengan demikian ilmu pengetahuan dan teknologi bisa memberikan dampak yang baik ke masyarakat luas," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, juga ditandatangani kesepakatan bersama antara LIPI dengan Pemerintah Kota Yogyakarta tentang pemanfaatan hasil penelitian dan alih teknologi.

Sumber : republika.co.id, 8 September 2017

Sivitas Terkait : Hardi Julendra S.Pt.,M.Sc.
Diakses : 101    Dibagikan :