LIPI: Indonesia tak Perlu Jual Diri

 
 
JAKARTA (HN) -Indonesia tak perlu menjual diri untuk memperoleh persetujuan kerja sama ekplorasi. Keamanan dan komitmen pemanfaatan tetap harus diutamakan dalam kesepakatan kerja sama riset. Indonesia tak perlu risau kehilangan mitra kerja sama, karena sumber keanekaragaman selalu menarik untuk diteliti.


Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Enny Sudarmonowati mengatakan, pihaknya menerapkan mekanisme kerja sama yang lebih ketat. Hal ini merupakan buah dari pengalaman terdahulu. "Kerja sama baru dilaksanakan jika ada perjanjian kerja sama Letter of Agreement (LOA) dan Material Transfer of Agreement (MTA) yang ditandatang kedua pihak," katanya.


Mekanisme perjanjian yang dianggap terlalu kompleks mengundang protes dari banyak negara. Enny tak menampik jika beberapa kesepakatan harus batal karena syarat LOA dan MTA tak terpenuhi. Namun LIPI bertekad terus melanjutkan mekanisme yang disinyalir lebih aman dari wanprestasi. Hasil kerja sama bisa dimanfaatkan pihak yang bersepakat, tanpa harus melakukan pelanggaran.


Hasil riset yang terbit dalam jurnal. seharusnya ditulis atas nama peneliti yang sepakat melakukan kerja sama. Namun LIPI pernah merasakan pil pahit akibat tak punya LOA dan MTA yang jelas. Enny mengatakan hasil riset pernah terbit tanpa mencantumkan periset dari LIPI, tanpa menjelaskan identitas pihak luar yang bekerja sama.

Enny mengatakantak memungkiri jika Indonesia masih perlu banyak dana untuk riset. Namun, keamanan lebih penting daripada riset yang berjalan tanpa kesepakatan yang jelas. Indonesia hanya menyediakan dana eksplorasi kurang dari Rp 1 miliar selama 14 hari, yang menyebabkan hasil riset kerap tak sesuai harapan. Eksplorasi idealnya dilakukan selama tiga minggu, melibatkan 60 kru riset, dengan total dana mencapai hitungan miliar.

 


Sumber : harnas.co, 5 September 2017

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Enny Sudarmonowati
Diakses : 302    Dibagikan :