LIPI: KEBUN RAYA, BENTENG TERAKHIR KONSERVASI TUMBUHAN

 
 
Eksploitasi terhadap sumber daya alam semakin masif terjadi, kerusakan pun terjadi dimana-mana. Oleh sebab itu, kehadiran kebun raya merupakan benteng terakhir konservasi tumbuhan yang terancam punah dari habitat asalnya.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkamain mengatakan, keberadaan kebun raya sangat penting karena mampu berkontribusi untuk melestarikan tumbuhan endemik, terancam punah dan berkomoditas ekonomi.

Salah satu kebun raya tertua yang dimiliki Indonesia adalah Kebun Raya Bogor (KRB) yang berada di bawah naungan LIPI. Berdiri pada 18 Mei 1817, tahun ini KRB berusia 199 tahun dan tahun depan berusia dua abad. KRB bahkan merupakan kebun raya tertua di Asia Tenggara, terindah dan terlengkap koleksinya.

"Sesuai dengan tema HUT KRB, ada upaya membangun harmoni manusia dan alam. Tumbuhan bisa memberi manfaat bagi kehidupan manusia untuk pangan, papan, obat dan energi. Bahkan oksigen sebagai penyangga utama kehidupan," katanya di sela-sela perayaan HUT ke-199 KRB, di Bogor, Rabu (18/5).

Iskandar menjelaskan, menjelang usia dua abad KRB, tentu kebun raya ini tidak hanya sekadar sebagai tempat wisata, tetapi juga fungsi konservasi, penelitian, media pendidikan dan proses pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Iskandar mengungkapkan, di dunia keberadaan kebun raya bahkan telah ada ribuan tahun sebelum Masehi. Misalnya saja di Meksiko, kebun raya berdiri 1150 sebelum masehi dan di Tiongkok 1044 sebelum Masehi dan di Italia pada 1545.

Ia pun berharap menjelang usia dua abad, KRB bisa mengoptimalkan konservasi eks situ tumbuhan endemik dan terancam punah.

Saat ini Indonesia memiliki 47 tipe ekoregion dan idealnya memiliki 47 kebun raya yang merepresentasikan masing-masing ekoregion itu. Namun saat ini baru 30 kebun raya dan beberapa di antaranya yang berada di bawah naungan LIPI seperti KRB, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Sementara kebun raya lainnya dikelola pemerintah daerah namun LIPI tetap membantu secara kajian ilmiah dalam proses pembangunannya.

Dalam kesempatan itu juga ditandatangani keija sama LIPI dengan pemerintah Kabupaten Gianyar Bali dan Belitung Timur yang menginisiasi pembangunan kebun raya baru.

Belum Ideal
Iskandar menambahkan, di Indonesia, jumlah kebun raya masih belum ideal. Dari 30 kebun raya yang ada pun baru mewakili 20 tipe ekoregion dari 47 ekoregion yang ada.

Keberpihakan dan komitmen pemerintah daerah (pemda) sangat dibutuhkan, la menambahkan, pemda-pemda yang pernah dikunjungi antusias membangun kebun raya. "Membangun kebun raya tidak seperti membangun pusat perbelanjaan. Persyaratan lahan mutlak, tidak boleh beralih llingsi sampai kapan pun harus tetap sebagai kebun raya," ucapnya.

Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya LIPI Didik Widyatmoko menjelaskan, untuk Gianyar dan Belitung Timur diperkirakan memerlukan waktu sekitar 7 tahun dalam membangun kebun raya.

Untuk Belitung Timur koleksi kebun raya berupa hutan Kerangas Bangka Belitung dan Gianyar koleksi hutan tersisa Bali untuk tanaman obat dan kepentingan upacara adat.

"Sekarang baru ada 20 tipe ekoregion yang terwakili oleh kebum raya yang ada. Masih ada 17 lagi bahkan lebih," ujar Didik. [R-l 5]

Sumber : Suara Pembaruan, edisi 19 Mei 2016. Hal: 14

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain