LIPI TEMUKAN PERILAKU UNIK SATWA

 
 
Gerhana matahari total (GMT) di Belitung berlangsung Rabu (9/3) pukul 07.26 WIB. Ribuan masyarakat berkumpul bersama di pantai Tanjung Kelayang, Belitung, untuk menyaksikan momen langka ini, dengan penuh antusias. Ketika GMT terjadi, seluruh masyarakat menyambut dengan keriuhan. Sebagian bertepuk tangan dan ada juga yang bertakbir serta berdoa.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan perilaku unik satwa saat pengamatan gerhana matahari total (GMT) dan gerhana matahari sebagian (GMS) di berbagai lokasi. Lokasi pengamatan satwa tersebut antara lain penangkaran satwa di Cibinong Science Center (CSC) Bogor, Kebun Raya Bogor (KRB), Kota Palu dan Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan kamera tersembunyi dan video dengan tidak mengganggu sensitivitas satwa tersebut.

Di Pusat Zoologi yang berada di kawasan CSC para peneliti zoologi LIPI melakukan pengamatan perilaku satwa sejak pukul 05.30 hingga 09.00 WIB. Kejadian di KRB dan Palu, kalong yang diamati misalnya, pagi hari sebelum gerhana kalong berisik bergelayut di pohon. Pada saat matahari mulai tertutup, kalong tersebut diam dan tidak beraktivitas.

"Perilaku babi juga unik saat makan. Ketika sinar matahari mulai tertutup, babi berhenti makan, berbaring tidur beberapa saat, terus makan lagi setelah matahari kembali bersinar," tutur Kepala Pusat Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Hari Sutrisno, di Pusat Zoologi LIPI di CSC, Bogor, Rabu (9/3).

Satwa lain yang diteliti adalah serangga, seperti tonggeret dan kumbang kotoran.

Hari menjelaskan, tonggeret ketika matahari meredup berbunyi riuh rendah dan berpikir bahwa kondisi itu adalah malam hari. "Kumbang pagi hari aktif mendorong-dorong kotoran, begitu matahari tertutup buru-buru mencari tempat berlubang dikira siang telah berakhir. Setelah matahari muncul aktif lagi," ucapnya.

Sementara laporan yang diterima LIPI di CSC melalui komunikasi lewat ponsel dari peneliti di Taman Nasional Lore Lindu memperlihatkan bahwa burung Maleo betina dan anakan ketika GMT diam dan sebelumnya gelisah mondar-mandir. Sedangkan Maleo jantan saat GMT terbang ke atas pohon tempat tidurnya, mengira gelap dan waktu beristirahat.

Satwa Nokturnal

Selain itu, kukang sebagai satwa nokturnal atau hewan yang giat beraktivitas di malam hari dan tidur pada siang hari memperlihatkan perilaku unik saat terjadi gerhana matahari sebagian (GMS). Peneliti Laboratorium Nutrisi dan Penangkaran Satwa Liar Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Wartika Rosa Farida mengatakan, kukang tergolong satwa nokturnal.

"Kukang banyak mengalami perubahan. Saat matahari bersinar dia berhenti beraktivitas atau tidur, dan saat meredup atau GMS beraktivitas, dan ketika GMS berakhir kembali mencari tempat tidurnya. Sementara itu untuk landak dan bajing relatif tidak berpengaruh karena satwa ini tergolong diumal atau aktif pada siang hari." ucapnya.

Terkait pengamatan burung, Peneliti Burung Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI Rini Rachma-tika mengungkapkan, ada lima spesies burung yang diamati. Dua spesies, yakni kakatua galerita atau jambul kuning dan nuri bayan, diamati menggunakan CCTV. "Dua spesies itu tidak
mengalami perubahan signifikan saat gerhana matahari terjadi," ujar Rini.

Sementara itu, tiga spesies lainnya, yakni kakatua goffini, nuri kepala hitam, dan betet Jawa, menunjukkan perubahan perilaku saat gerhana matahari. "Aktivitas pada saat gerhana matahari berkurang seperti layaknya perilaku saat magrib atau jelang malam. Perilakunya diam dan berhenti bergerak," ucapnya.

Hal unik lainnya ditunjukkan satwa jenis reptil. Peneliti Herpetofauna Puslit Biologi LIPI Evy Arida mengungkapkan, reptil berbeda dengan burung dan mamalia. Aktif atau tidaknya mereka bergantungsuhu tubuh yang dipengaruhi suhu lingkungan. "Sekali pun ular satwa nokturnal atau aktif pada malam hari, saat gerhana tidak menunjukkan perubahan. Sebab, saat GMS suhu hanya turun sekitar satu derajat dari 25 derajat ke 24 derajat Celsius, dan kelembaban hanya 91% dari 82%," tuturnya.

Sumber : Suara Pembaruan, edisi 10 Maret 2016. Hal: 16

Diakses : 1103    Dibagikan :