MENYINERGIKAN PENELITIAN DAN INDUSTRI

 
 
* WILDA FIZRIYANI

Agar hasil penelitian dilirik dunia industri, memang masih banyak tantangan.

Hasil penelitian anak bangsa ini sebenarnya sudah dianggap cukup bagus. Akan tetapi, penyatuan antara riset anak negeri ke dalam dunia industri masih sangat sedikit angkanya. Padahal, penyatuan antara dua hal ini perlu dilakukan demi meningkatkan daya saing bangsa.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Ketum Apindo) Hariyadi Sukamdani menganggap, sudah banyak hasil riset para peneliti Indonesia yang cukup baik. Tapi, dunia industri masih belum terlalu tahu seperti apa riset yang dihasilkan secara rinci. "Masalahnya pada komunikasi antara para peneliti terkait hasil risetnya dengan dunia industri," ujar Hariyadi kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Kedua pihak ini sesungguhnya hanya perlu bertemu yang kemudian para peneliti mempresentasikan hasil risetnya di hadapan para pelaku industri. Jika bagus, para pelaku industri tentu akan tertarik berinvestasi atas hasil penelitian mereka. "Kalau tidak ketemu, ya kita tidak tahu. Ini masalahnya hanya pada sosialisasi ihwal seperti apa riset yang diciptakan para peneliti di Indonesia," terangnya.

Sepanjang yang diketahuinya, terdapat beberapa industri yang sudah menerapkan hasil penelitian anak bangsa. Hariyadi mengungkapkan, industri sosro merupakan salah satu pihak yang telah menggunakan riset para peneliti Indonesia.

PT Kalbe Farma menjadi salah satu pelaku industri yang telah memanfaatkan hasil riset para peneliti di Indonesia. Head Extemal Communications PT Kalbe Farma Hari Nugroho mengungkapkan, pihaknya telah bekeija sama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bahkan, Kalbe juga sudah menggaet para peneliti secara langsung, universitas, dan rumah sakit. Beberapa penelitian yang diajak kerja sama oleh pihaknya terkait stem cell, produk suplemen, dan sebagainya.

Konsep kerja sama ini memang disesuaikan dengan moto Kalbe, "Inovasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik". Kalbe meyakini bahwa jika penelitian dan inovasi berjalan bersama dan berkembang, Indonesia akan lebih maju.

Menurut Hadi, industri tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya riset yang menguatkan inovasi mereka. Industri membutuhkan sinergi dengan pihak lain, seperti akademisi dan pemerintah dalam mengembangkan penelitiannya. Karena itu, masing-masing pihak itu harus menyadari dan memahami pentingnya berjalan selaras bersama demi merasakan manfaat yang diharapkan.

Sinergi antara penelitian dan industri juga dianggap penting oleh Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) Dvvia Aries Tina Pulu-buhu. Tapi, untuk bisa dilirik dunia industri secara keseluruhan memang masih banyak tantangan. Hal ini kembali lagi pada kesiapan dua belah pihak untuk bekerja sama. "Yang akademisi atau peneliti harus sesuaikan kinerjanya, industri harus tahu penelitian yang ada di Indonesia, baik dari segi kualitas maupun standarnya," kata wanita berhijab ini.

Sosiolog ini juga berpendapat, akademisi atau peneliti dengan industri harus dipertemukan dalam satu tempat. Melalui wadah ini, mereka bisa berdiskusi dan menyepakati inovasi apa yang akan dihasilkan berdasarkan riset. Jika sudah saling percaya dan sama-sama memiliki pola, sinergi antara dua pihak pun akan terbentuk.

Dalam pandangan Dwia, sinergi dua pihak memang perlu diterapkan di Indonesia. Setidaknya, biaya riset yang cukup besar dapat terbayarkan saat hasil riset itu termanfaatkan di masyarakat. Untuk bisa dimanfaatkan, hal ini tentu membutuhkan industri selaku pihak komersialisasinya. Contohnya, pada kerja sama bidang produk kesehatan. Teknologi kesehatan yang dimiliki peneliti jelas dapat dirasakan masyarakat apabila dapat diproduksi secara massal oleh industri.

Di Unhas, menurut Dwia, 80 persen dari sekitar 920 dosen telah terlibat dalam penelitian. Pada 2015 terdapat 900 riset yang berhasil dipublikasikan. Sepuluh di antara riset tersebut telah dipatenkan dan saat ini 20 produk sedang proses registrasi untuk bisa berkena sama dengan industri. "Tapi, kalau yang tanpa paten dan telah diproduksi jumlahnya sudah banyak," jelasnya.

Dwia menyebutkan, salah satu produk hasil risetnya yang sudah dirasakan oleh masyarakat, yakni rumput laut. Rumput laut ini tidak hanya untuk dikonsumsi, tapi sudah multiproduk. Karena, berdasarkan riset, rumput laut sudah dimanfaatkan menjadi pasta gigi. Bahkan, akan dijadikan sebagai bahan kertas dan bahan tempat kapsul.

Selain itu, saat ini Unhas juga sudah menjual kepiting lunak yang berhail diekspor ke Jepang. Kepiting lunak ini berbeda karena perlakuannya bukan dimutilasi, melainkan diinjeksi dengan bayam. Karena itu, perlakuan kepiting ini sangat organik dibandingkan pada umumnya. "Kita juga sudah menghasilkan madu hutan, obat-obatan, dan minuman herbal," katanya.

Sementara itu, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain menilai, saat ini hubungan penelitian dan industri memang belum terlalu dekat. Hal ini akibat adanya penelitian yang belum bisa mengikuti kebutuhan industri. Riset yang dihasilkan para peneliti sekadar ilmu atau tidak bertujuan untuk diindustrikan. Tampaknya, para peneliti belum terlalu akrab untuk bisa menyusun penelitian yang berkebutuhan pasar di masyarakat.

Di samping itu, cara pandang dunia industri juga menjadi penyebab utama kurangnya sinergi penelitian dan industri. "Cara pandangnya masih bersifat trader, bukan investor," kata Iskandar. Pandangan bersifat trader berarti tujuannya hanya pada keuntungan semata yang bakal didapatkan pihak industri. Sementara, investor mengartikan bahwa tujuannya berkenaan manfaat seperti apa yang didapatkan jika menyatu dengan dunia penelitian di masa mendatang.

"Masih belum banyak industri yang mencoba membeli lisensi dari peneliti untuk mengembangkan potensi penelitian agar dapat menjadi inovasi dan teknologi," tegas Iskandar. Karena itu, wajar jika angka penelitian yang sudah diindustrikan sedikit jumlahnya.

Berdasarkan data LIPI, terdapat 35.314 jumlah sitasi atas publikasi yang dihasilkan LIPI. Sementara, hasil penelitian yang sudah dimanfaatkan sebanyak 93. Adapun kerja sama LIPI bersama industri selama 2015 telah dilakukan sebanyak 85 kerja sama.

Selanjutnya,terdapat tiga lisensi teknologi yang berhasil terealisasikan oleh LIPI pada 2015. Tiga lisensi itu, yakni teknologi pupuk pembenah tanah yang bermitra dengan PT Ostindo Anugerah Mustika dan teknologi nano beras dengan PT Gizi Indonesia. Kemudian, lisensi teknologi produksi bunga lipstik bersama Koperasi KRB.

Iskandar juga mengutarakan, radar pengawas miliki LIPI sudah dilirik industri. Radar ini bisa dipasang di seluruh pantai, bahkan di kapal perang pada masa mendatang. "Kita bukan yang mengindustrikannya, tapi lisensi kami yang dibeli industri. Mereka yang mengembangkan untuk diindustrikan," kata dia.

Sinergi dunia industru dengan penelitian memang tidak bisa dihindari lagi saat ini. Menurut Iskandar, industri tentu sudah melihat perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat cepat. Apalagi, kondisi pasar global yang menegaskan adanya persaingan ketat di Asia Tenggara maupun dunia. "Kalau tidak memiliki kekuatan di dalam negeri, kita tentu akan kalah," tegasnya.

Indonesia tentu tidak mungkin bersaing dengan Korea yang barang teknologinya sudah menguasai pasar Indonesia. Indonesia mau tidak mau harus mengembangkan kemampuan sendiri. Menurut Iskandar, industri memang harus berkolaborasi dengan dunia penelitian dalam menghadapi situasi dan kondisi ini.

ed: muhammad hafil

Sumber : Republika, edisi 27 April 2016. Hal: 17

Sivitas Terkait : Prof. Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain
Diakses : 626    Dibagikan :