Mencari Jawaban Misteri Gempa Sumatra 2012

 
 
Pada 11 April 2012, gempa berkekuatan 8,6 pada skala Richter (SR) terjadi di bagian barat perairan Sumatra.  Kajian ilmiah menyebut gempa tersebut sebagai gempa terbesar yang terjadi tahun itu.  Namun, gempa itu tak memunculkan tsunami.    

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain menyebut gempa besar yang terjadi di Cekungan Wharton, sebagai kejadian langka. Gempa bukan terjadi di zona subduksi, melainkan di dasar samudra karena gerakan mendadak.

"Kejadian seperti ini belum pernah diprediksi oleh para peneliti," ujar Zulkarnain, yang juga merupakan pakar geokimia dan geodinamika ini beberapa waktu lalu.

Selama ini, ia mengatakan, peneliti hanya mengetahui pergerakan pada zona subduksi yang memicu gempa. Namun, kejadian di Cekungan Wharton pada 2012 tersebut menimbulkan pertanyaan besar bagi para ahli kegempaan dunia.

Memang, menurut dia, perlu dipelajari mekanismenya dan bagaimana itu nantinya bisa diaplikasikan pada kondisi geografis yang sama. Sehingga dapat digunakan untuk membuat konsep mitigasi bencana yang tepat.

Kepala Subbidang Diseminasi dan Kerja Sama Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Nugroho Dwi Hananto mengatakan, dasar Samudra Hindia pada kenyataannya bukan berupa dataran layaknya sebuah papan, melainkan juga memiliki cekungan. Ada pula zona subduksi yang merupakan batas antarlempeng yang bersifat konvergen.

Sejarah mencatat hingga saat ini ada lima gempa besar yang terjadi Samudra Hindia. Salah satunya terjadi di luar zona subduksi, yakni di sebuah cekungan bernama Whatson pada kedalaman hingga 6.000 meter.

Perlu dipetakan lebih lanjut sesar kerak samudra, agar dapat diketahui bagaimana gempa yang terjadi di cekungan tersebut bisa mempengaruhi kestabilan zona subduksi di dekatnya.

"Profil F6 (complex faulting) yang ingin kami ketahui lebih lanjut karena selama ini sedikit kita abaikan. Gempanya besar tetapi mendatar, itu yang ingin kita ketahui gambaran lempengnya seperti apa," ujar Nugroho yang akan ikut dalam Ekspedisi Marine Investigation of the Rupture Anatomy of the 2012 Great Earthquake (Mirage), yang meneliti gempa 8,6 SR pada 2012 tersebut bersama peneliti dari lima negara pada 1 hingga 30 Juli 2016.

Penemuan yang nantinya diperoleh dari ekspedisi yang dilakukan peneliti dari sejumlah negara ini, diharapkan dapat mengubah gambaran informasi yang sudah ada menjadi semakin lengkap. Informasi yang didapat bisa menjadi valid untuk kebutuhan mitigasi bencana yang tepat pada masa depan.
 
Ekspedisi Mirage
Untuk menjawab pertanyaan, mengapa gempa yang sangat besar 8,6 SR terjadi di sisi barat lepas pantai Sumatra pada 2012 tidak menimbulkan tsunami seperti yang terjadi di Aceh pada 2004, tidak ada cara selain meneliti lebih lanjut apa yang ada di dasar Samudra Hindia, titik lokasi gempa itu terjadi.

Dengan menggunakan kapal riset Prancis R/V Marion Dufresne, sembilan peneliti LIPI, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Informasi Geospasial (BIG), Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL), Universitas Hasanuddin, dan Universitas Padjajaran akan bergabung dengan 21 peneliti asing dari Prancis, Singapura, Myanmar, Korea Selatan, dan India.

Kapal riset akan memulai perjalanan dari Kolombo pada 1 Juli 2016, yang memudian akan menuju titik Cekungan Wharton. Lokasinya masih berada di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

Nugroho menyatakan, dengan teknologi yang diperbarui pada 2015, para peneliti yang bekerja di atas kapal riset yang beroperasi 217 hari dalam setahun ini seperti akan berada di kapal riset baru. Dengan demikian, kendala terbesar yang mungkin dihadapi untuk bisa mendapatkan data dasar laut yang dikehendaki hanya cuaca. 

Ilmuwan dari Nanyang Technological University (NTU) pada Earth Observatory of Singapore (EOS) Paul Tapponnier mengatakan, hal fundamental yang ingin didapat dari ekspedisi selama 30 hari di perairan barat Sumatra tersebut adalah penemuan 'bayi subduksi' atau 'kelahiran' dari sebuah mula zona subduksi. "Ini sulit didapat," ujarnya.

Ia berharap ekspedisi dapat memetakan dan membandingkan hasil dari ekspedisi sebelumnya, yakni Mentawai Gap-Tsunami Earthquake Risk Assessment (Mega-Tera). Kala itu tim menemukan banyak patahan aktif di Cekungan Wharton dan Mentawai Gap dengan arah berbeda-beda. Hal itu menunjukkan kawasan tersebut mengalami deformasi dalam berbagai skala.  antara ed: Muhammad Hafil

Sumber : Republika.co.id, 13 Juli 2016

Sivitas Terkait : Dr. Nugroho Dwi Hananto M.Si.
Diakses : 1367    Dibagikan :