PENELITI LIPI SASAR GANDANG DEWATA

 
 
Dengan keunikan sejarah pembentukan Pulau Sulawesi, Gunung Gandang Dewata yang berada di tengah-tengah pulau tersebut diyakini kaya keanekaragaman hayati. Karena informasi terkait jenis-jenis organisme serta potensi dan manfaatnya masih minim, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan memberangkatkan tim peneliti dalam ekspedisi riset ke sana.

Pelaksanaan ekspedisi bersamaan dengan ekspedisi LIPI ke Sumba, Nusa Tenggara Timur, 15 April-4 Mei. Seluruh eksplorasi bidang hayati di dua tempat tersebut dikoordinasikan dalam satu program, yaitu Eksplorasi Bioresources.

Koordinator Enggano Koordinator Eksplorasi Bioresources Amir Hamidy, mengatakan, Sumba dan Sulawesi termasuk Area Wallacea. Riset di Sumba untuk mewakili studi keanekaragaman hayati pada dataran rendah dengan area riset maksimal pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), sementara di Gunung Gandang Dewata untuk yang dataran tinggi (berkisar 1.700-3.000 mdpl).

"Secara sains, Area Wallacea bernilai tinggi karena dari area inilah teori evolusi muncul," ucap Koordinator Eksplorasi Bioresources Amir Hamidy saat dihubungi, Sabtu (2/4). Area tersebut merupakan kawasan peralihan antara area satwa dan tumbuhan Asia dengan area Australia. Wilayahnya antara lain meliputi Lombok (Nusa Tenggara Barat) ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Maluku. Penemu kekhasan satwa di area ini adalah Alfred Russel Wallace.

Terkait Gandang Dewata, Koordinator Lapangan Sulawesi Barat Eksplorasi Bioresources, Anang Setiawan Achmadi, menuturkan, belum banyak riset pada gunung ini sehingga dokumentasi jenis-jenis organisme di kawasan ini sangat minim.

Data yang minim antara lain pada kelompok serangga dan mikroorganisme. Padahal, tingkat keanekaragaman hayati di gunung tersebut kemungkinan besar tinggi, seperti telah dibuktikannya pada riset kelompok hewan tikus-tikusan.

Gandang Dewata adalah bagian dari rangkaian gunung yang dinamakan Pegunungan Quarlesi. Di kawasan pegunungan tersebut, tim peneliti sudah menemukan tiga macam tikus, yaitu tikus ompong, tikus air, dan tikus akar. Ketiganya merupakan genus baru.
amir ham

Berdasarkan teori sejarah geologi, Pulau Sulawesi merupakan pertemuan lempeng setidaknya dari lima arah, yaitu dari Filipina, Kalimantan, dekat Kepulauan Maluku, Jawa-Bali, dan Australia. Pulau seperti Sulawesi saat ini diduga terbentuk sejak zaman Miosin (sekitar 26 juta tahun lalu).

Di kawasan yang diteliti, tim akan mendata keragaman jenis organisme. Tim juga akan mencoba memetakan batas-batas persebaran jenis organisme tertentu dan mengetahui faktor penyebab batas-batas tersebut terpatok di suatu daerah.

Eksplorasi Bioresources pernah dilaksanakan tahun lalu dengan melibatkan sekitar 50 peneliti untuk mempelajari keanekaragaman hayati Pulau Enggano di Provinsi Bengkulu. Terdapat 34 bidang riset yang dibuat para peneliti setelah dari Enggano. Karena itu, Amir menargetkan bidang riset dari eksplorasi di Gunung Gandang Dewata dan Sumba melebihi yang dari Enggano.

Amir menambahkan, tim tidak hanya mendata jenis-jenis mikroorganisme, tetapi juga mengeksplorasi manfaat dari keanekaragaman hayatinya.

(JOG)

Sumber : Kompas, edisi 4 April 2016. Hal: 14