POPULASI DUGONG TERANCAM KEPUNAHAN

 
 
Ancaman terhadap populasi mamalia laut dugong terus meningkat. Sebagai biota laut langka, dugong perlu dilindungi dan dilestarikan karena berperan penting dalam ekosistem perairan laut.

Hewan laut yang memiliki umur siklus hidup 60 tahun ini hidup memakan lamun. Sedangkan lamun merupakan rumput yang hidup di dalam laut yang dikategorikan tanaman subur dan tempat hidup biota laut lainnya.

Saat ini, ancaman kepunahan dugong dan rusaknya padang lamun terus meningkat baik karena ditangkap maupun terperangkap. Dagingnya pun kerap dikonsumsi dan air matanya, menurut mitos yang beredar, punya kekuatan mistis. Oleh karenanya, pemerintah pun telah menyusun rencana aksi nasional penyelamatan dugong dan konservasi padang lamun.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP), Agus Dermawan, mengatakan, saat ini KKP sudah menetapkan 20 spesies prioritas yang perlu perlindungan. Sebelas spesies di antaranya telah dipetakan dalam rencana aksi nasional (RAN). Spesies itu antara lain paus, penyu, lumba-lumba, dan dugong.

"Sampai saat ini kita belum tahu berapa jumlah dugong di Indonesia. 10 tahun lalu, masih ada 1.000 ekor," katanya di sela-sela Simposium Nasional Dugong dan Habitat Lamun 2016 di Bogor, Rabu (20/4).

Menumtnya, sebagai biota laut yang dilindungi, pemanfaatan secara langsung, daging ataupun air matanya harus dilindungi undang-undang. Biota yang dikenal masyarakat sebagai ikan duyung ini dikhawatirkan terus mengalami eksploitasi yang tidak berimbang dengan proses reproduksinya.

Dalam RAN penyelamatan dugong, wilayah yang dipetakan dan diindikasikan terdapat dugong antara lain Bintan, Kabupaten Toli-Toli, Kabupaten Morowali, Alor, Sulawesi Utara dan Kotawaringin Barat.

Konsep yang dikembangkan ke depan, satwa laut ini bisa dimanfaatkan untuk pariwisata yang jauh mendatangkan manfaat ganda. Selain konservasi terjamin, pendapatan di sektor pariwisata juga meningkat.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wawan Kiswara, mengungkapkan, di Eropa, populasi dugong punah pada 1917. Sekitar 13 tahun kemudian datang penyakit lamun dan lamun pun punah dan tidak pernah tumbuh lagi hingga saat ini.

"Seandainya duyung ini punah dari negeri kita maka habitat lamun pun habis dan ekosistem pun akan habis. Jika padang lamun hancur, teripang, rajungan juga hancur," ucapnya.

Menumtnya, laju kerusakan lamun di Indonesia berkontribusi terhadap meningkatnya ancaman kepunahan dugong. Luas padang lamun di Indonesia diperkirakan mencapai 31.000 km persegi.

Namun, data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menyatakan, sejauh ini baru 25.752 hektare padang lamun yang tervalidasi dari 29 lokasi di Indonesia. Data terkini besaran, sebaran dan populasi dugong pun belum ada.

Direktur Program Coral Triangle WWF Indonesia, Wawan Ridwan, menilai, minimnya data informasi sebaran dugong dengan tingkat ancamannya menyebabkan otoritas sulit menentukan prioritas rencana aksi konservasi.

"Simposium ini diharapkan menjadi dasar diperolehnya informasi dan status terkini upaya untuk konservasi ke depan," ujarnya.

Pionir Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Luky Adrianto, mengungkapkan, aksi konservasi terhadap dugong dan padang lamun di Indonesia perlu dikaitkan dengan peran dan fungsi strategis lamun dalam menyediakan sumber daya ikan secara berkelanjutan.

"Di sanalah kita bisa berperan sebagai pionir serta menggagas aksi konservasi yang lebih komprehensif melibatkan nelayan dan pemangku kepentingan lain di kawasan pesisir," tuturnya.

Selain ancaman penangkapan, pencemaran dan pembangunan tidak berkelan-jutan menjadi ancaman berkurangnya populasi dugong. Agus menjelaskan, banyak penyebab kerusakan habitat pesisir laut seperti pencemaran oilspill, abrasi, pembangunan tidak ramah lingkungan, perubahan iklim, sampah dan pencemaran dari sungai yang bermuara ke laut. [R-15]

Sumber : Suara Pembaruan, edisi 21 April 2016. Hal: 17

Diakses : 641    Dibagikan :